Diposkan pada Cerbung

To My Youth : 1

Air mata langit tumpah ketika Hendi berjalan di jalan pulang seusai bersekolah. Dilihatnya rumah-rumah yang sekiranya memiliki gapura, tetapi sepersatu rumah bergapura itu mendadak dihuni oleh pemotor yang buru-buru mengenakan jas hujan, tetapi tidak pula segera meninggalkan tempat mereka bernaung sebab kilatan petir membabi-buta mendirikan aral. Hendi nyaris putus asa, ia lupa sama sekali pada nafas terengahnya, ia lupa bahwa sejurus yang lalu ia sempat ingin melindungi seragamnya yang toh, besok pun musti dikenakannya lagi. Tetapi semua usahanya percuma, rumah-rumah bergapura itu telah penuh dan Hendi bahkan tak sekalipun berpikir untuk membaur kepada orang-orang asing itu. Dibiarkannya seragam nan usang itu basah, sepatu yang sama usangnya, tas, yang di dalamnya terdapat buku-buku pelajaran yang rencananya bakal ia keringkan di pendiangan.

Bahkan hujan pun memberiku ruang untuk menangis. Sepedih itukah hidupku?

Hendi menghentikan langkah ketika dengan tetiba semua yang sudah cukup basah itu dinaungi. Hendi mendongak, dilihatnya payung hitam yang besar. Ia kemudian menoleh demi menerawang gerangan penyelamat yang melindunginya dari hujan sepulang sekolah itu.

“Pak Soni,” guman Hendi.
Lelaki paruh baya itu nampak sedikit terkejut, “Kau tahu namaku?” tanyanya.

Engkaulah malaikatku, bagaimana aku tidak mengenalmu?

Hendi mengangguk, sementara lelaki bernama Soni itu kembali terkesiap dengan seragam yang didominasi warna hijau, yang Hendi kenakan.

“Kau bersekolah di SMA Harapan juga?” tanya Soni.
Dahi Hendi segera berkerut, “Juga?” tanyanya.
“Anakku…”

Duarrr!!!

Petir menyambar untuk pertama kalinya di tempat yang berada cukup dekat. Soni secara tak sengaja mendekap erat-erat tubuh Hendi. Semua kata yang hendak ia muntahkan melangit begitu saja, sementara Hendi hanyut ke dalam fragmen mimpi yang detik ini juga Tuhan ubah menjadi realita yang bersahaja. Dan telinganya berdenging, ia pun mendengar sebuah suara misterius berteriak di telinganya; Raihan! Raihan! Raihan!

“Ikutlah bersamaku. Seragammu basah, aku akan memberimu pakaian. Kau pasti akan terkejut saat melihat anakku.” tutur Soni.
“Memangnya anak Bapak siapa?” tanya Hendi, antusias.

Suara misterius kembali terdengar, kali ini lembut di dalam bisik.

Raihan.

Soni menggeggam tangan kiri Hendi seperti memegang tangan anaknya sendiri, begitu hangat dan erat. Ia sedikit menoleh untuk memperlihatkan senyumnya yang rekah nan jamal. Namun, pertanyaan Hendi tak pernah dijawabnya. Hendi pun menjadi makin penasaran.

***

Rumah yang terletak persis di persimpangan jalan itu adalah rumah yang Hendi kenal betul-betul. Ia sering menerawang rumah itu hanya untuk melihat pemandangan indah ketika Soni keluar dari gerbang sembari mengenakan dasi dan membenarkan kerah kemeja juga jas hitamnya diselingi dengan kecup dan dekap sana sini dari anak dan istrinya. Hendi melupakan semua itu. Sejak berjalan menuju rumah ini, yang ada di benaknya hanya seorang anak yang bersekolah di sekolah yang sama dengan dirinya. Bahkan tangan Soni yang terus menggenggam tangannya pun tak dihiraukannya.

“Kita sudah sampai!” seru Soni.
Hendi yang hanyut dalam lautan pemikirannya sendiri itu pun terjaga, “Inilah rumahku.” kata Soni.
Hendi melongo sementara matanya bersinar demi memperlihatkan ekspresi seperti baru pertama kali melihat rumah yang lebih pantas disebut gedung itu, “Wah, besar sekali!” ucap Hendi, seolah takjub.

Dibawalah Hendi masuk, didudukkan ia di meja makan, tempat di mana kesepian mengangkangi. Lalu pintu-pintu yang istirah itu terbuka secara bergiliran, muncullah orang-orang dari sana. Seorang wanita paruh baya, Hendi tak tahu namanya tetapi ia pasti istri Soni. Seorang anak gempal yang selalu mengenakan kaca mata, ia adalah anak Soni. Namun, Hendi tidak mengenalnya sama sekali. Dan meski tingginya dengan Hendi hampir serupa, Hendi yakin betul bahwa usia mereka jauh terpaut. Mereka segera memenuhi meja makan seusai menyapa Soni yang kebasahan akibat payungnya digunakan bersama.

“Siapa namamu?” tanya wanita paruh baya.
“Oh, kau bersekolah di SMA Harapan?” giliran si gempal yang bertanya.
Soni datang dan menggenggam lengan Hendi, “Hei, sudah. Nanti saja kenalannya. Kalian tidak lihat, Hendi kebasahan begini.”
“Oh, Hendi,” gumam Dinda.
“Dinda, tolong kamu panaskan sup untuk kami. Dan, Rama, ayah tidak suka kamu terus bermain video game.” ucap Soni seraya melayangkan telunjuk dan menggoyangkannya kekiri-kanan.

Hening, setiap orang seperti mencari bebunyian yang bakal memenuhi relung mereka. Terdengar suara tembakan dari sebuah kamar, benar, Rama si gempal ini memang sedang bermain video game. Sialnya ia lupa mematikan video game itu.

“Hendi, mari ikut. Aku akan memberikanmu pakaian hangat.” ucap Soni.

Hendi mengangguk, ia kemudian mengekor pada Soni dan melintasi koridor demi sampai di sebuah gudang penyimpanan barang. Soni mengetuk pintu itu, seolah ada seseorang di dalam sana. Lama tak ada tanggapan, sehingga Soni masuk begitu saja.

“Gudang ini,”
Hendi menoleh, “…adalah kamar anakku yang pertama.” kata Soni.
Hendi pasti berteriak karena kaget jika yang mengatakan itu bukanlah orang yang ia kagumi, “Aku bukan orang jahat, anakku yang pertama itu memang sedikit… yah, dia membenci keramaian. Sukanya menyendiri.” katanya lagi.

Selembar gambaran kesempurnaan melebur di dalam benak Hendi, tetapi ia tak ingin mengimaninya sama sekali. Kemudian ia berpikir bahwa mungkin memang benar si sulung ini suka menyendiri, sampai harus berkamar di gudang yang memang cukup jauh dari rumah utama, kumal dan sepi.

“Dia yang bersekolah di SMA Harapan?” tanya Hendi.
Soni mengangguk, ia berjalan memasuki gudang itu, Hendi masih mengekor, “Di mana dia sekarang?” tanya Hendi lagi.
Baru pertama kali ini Hendi melihat senyum Soni yang seolah dipaksa untuk terbit, “Ada. Dia pasti tertidur atau bersembunyi.” katanya penuh penekanan.

Benar. Ranjang usang yang penuh debu itu menggunduk, selimut yang sama usangnya menyelimuti seseorang.

Diakah anak itu? Anak yang selama ini tak pernah aku lihat?

Sementara Soni mencari pakain hangat, Hendi berputar demi menghampiri seseorang yang menyelimuti diri dengan selimut itu. Pelan, ia membuka selimut itu. Tetapi sesaat kemudian Soni memanggil namanya sehingga ia urung.

“Hendi, aku mendapatkannya. Ayo kita keluar!” ajak Soni.
“Baik!”

Hendi meninggalkan penemuan besarnya. Namun ia berjanji pada diri sendiri dan penemuannya itu bahwa ia pasti akan kembali lagi ke sana.

Seusai berganti pakaian, Hendi dan Soni kembali ke meja makan. Di depan mereka, sudah terhidang semangkuk sup ayam yang mengepul.

Jadi ini yang akan aku dapatkan jika menjadi bagian dari keluarga ini?

Hendi menyantap sup ayamnya seusai dipersilakan. Sementara itu ketiganya asyik menceritakan kesibukan masing-masing di hari ini, sesekali mereka menanyai kesibukan Hendi pula.

“Maaf merepotkan,” kata Hendi seusai menanyakan keberadaan kamar kecil.

Hendi berjalan menuju jalan yang diarahkan oleh Soni. Saat sudah terlampau jauh, langkahnya tetiba berhenti. Ia kemudian berbalik arah, memasuki koridor yang dilaluinya bersama Soni tadi dan membuka pintu gudang begitu saja. Hendi menuju ke arah ranjang, nafasnya memburu ketika telah menghadap gundukan yang membuatnya begitu penasaran.

Aku harus melakukan ini dengan cepat. batin Hendi.

Hendi pun membuka selimut itu, ia mundur beberapa langkah karena terkesiap. Seseorang di balik selimut itu, sama sekali tidak pantas disebutnya orang. Ia putih pucat. Semula Hendi bahkan mengira anak seusianya itu telah meninggal dunia kalau saja tak dilihatnya tubuh itu dalam gigil yang hebat.

“Hei, kau. Apa yang terjadi denganmu? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Hendi.

Ah, tentu saja tidak.

Anak lelaki dengan wajah berhias peluh itu membuka mata, “He-hendi?” tanyanya terbata.
“Kau mengenalku?” tanya Hendi, “ah, yang lebih penting lagi, apa yang terjadi kepadamu, Raihan? Kau Raihan, bukan?”
Anak bernama Raihan itu memegang tangan Hendi erat-erat, “Tolong aku,” katanya, lirih.
“Hendi!” terdengar suara Soni memanggil.
Hendi menoleh ke arah pintu yang terkuak, “Aku harus pergi.” kata Hendi.
Ia baru saja melangkah ketika tangannya dipegang makin erat, “Aku mohon, tolonglah aku.” rengek Raihan.
“Apa yang bisa aku lakukan?” tanya Hendi.
“Maukah kau menolongku?”

Hendi tak tahu lagi dengan pemikiran orang di depannya itu. Sejujurnya ia pun tak ingin menggubrisnya sama sekali. Lagipula, dari kejauhan, Soni sudah memanggilnya. Bisa genting urusannya nanti jika Soni sampai menemukan Hendi ada di gudang.

Hendi tak berpikir panjang lagi, ia hanya mengangguk. Sesaat kemudian tubuhnya seperti tersengat listrik maha hebat.
Hendi melepas pegangan tangan Raihan, ia berjalan menuju pintu keluar dan menoleh ke arah Raihan yang mencoba memanggil namanya meski kesusahan dan pergi begitu saja, pintu itu pun tertutup.

“Anda memanggil saya, Pak?” tanya Hendi.
Soni segera berbalik, “Ah, iya. Aku kira kau tersesat.” jawabnya.

Mana mungkin aku tersesat di rumahku sendiri.

Hendi pun hanya tersenyum.

***

Setelah berpamitan dengan Dinda dan Rama, Hendi menuju gerbang keluar rumah ini ditemani dengan Soni.

“Apa tidak apa-apa pulang selarut ini sendiri? Tak maukah kau kuantar saja dengan mobilku?” tanya Soni, sekali lagi menawari Hendi seusai tadi ditolak.
Hendi mengibaskan satu tangannya, “Tidak usah, lagi pula mobil tidak bisa memasuki kampung saya.” jawabnya.
Hendi menatap Soni dengan berani, “Pak Soni?” panggilnya.
Soni mengangguk, “Iya?”
“Bolehkah saya ke rumah ini lagi? Selain untuk mengembalikan payung ini, saya juga belum berkenalan dengan anak bapak yang satu lagi, Raihan.”

Hati Soni terdabik, ia yakin betul belum menyebutkan nama anak sulungnya itu kepada Hendi. Lantas, bagaimana Hendi dapat mengetahui namanya?

Soni mengangguk, “Tentu saja.” ucapnya.

Soni menilik Hendi sampai Hendi benar-benar ditelan ujung jalan, sampai saat itu pun ia masih menyunggingkan senyuman. Hingga saat Soni berbalik, tetiba senyum itu hilang begitu saja.
Soni berjalan di koridor menuju gudang, ia membuka pintu dan segera menuju ranjang. Ditatapnya wajah Raihan yang sepucat keputusasaan itu. Ditatapnya mata yang penuh penderitaan selain air mata, diusapnya linangan air mata itu dengan tangan lembutnya.

“Menyerahlah, Raihan. Ayah hanya butuh hal itu darimu.”

Tidak. Aku ingin pulang. Aku tidak seharusnya ada di tempat ini. Kau seharusnya ayahku, bukan? Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa, kenapa rasanya aku seperti… akan mati?

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s