Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 2.

Saya sedang menggambar di Ibis Paint X, nggak sengaja menciptakan cover ini dan saya berpikir saya memanglah keren. Wkwk.

Hendi melepaskan payungnya biar terbang, ketika pawana nan azmat menerpanya. Ia bisa kembali ke rumah Soni dengan membawa payung baru dan mengatakan bahwa payung yang diberikan Soni telah rusak. Ia berjalan dengan mata yang sembab. Meski begitu tak pernah dibiarkannya air mata yang bermuara itu sampai jatuh melewati pipi.
Hendi berjalan mengikuti jejak kaki yang bersinar dalam pandangan matanya sendiri. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara gemuruh ombak. Ia mengedarkan pandangan. Dilihatnya laut, tempat segala aliran bermuara yang berkilauan terpapar sinar rembulan yang mulai berani mencakar mendung. Ia kemudian mendongak ke atas. Perkampungan terbangun seperti tangga-tangga beratap. Hendi mencari rumah yang paling bersinar, rumahnya sendiri. Ditapakinya setapak jalan yang hanya muat untuk sepeda atau dua orang pejalan, dinikahinya lagi jejak kaki yang bersinar itu. Berkelok-kelok, menurun lantas naik lagi, dan sampailah ia kepada rumah yang dipenuhi banyak sinar.

Inikah rumahku?

Pintu besi yang berkarat itu menjerit ketika Hendi mendorongnya. Ia baru melangkah beberapa kali ketika langkahnya berhenti karena mendengar langkah memburu dari dalam rumah. Orang dengan mata berkaca-kaca itu berlari menghampiri Hendi, ia merentangkan tangan. Hendi bahkan tidak sempat berpikir untuk melakukan apapun, ia jatuh dalam dekapan maha erat orang itu.

“Ayah?” gumam Hendi.

Orang yang dipanggilnya Ayah itu menepuk pundak Hendi beberapa kali. Terkadang ia akan menerawang seluruh bagian wajah Hendi, lalu sekujur tubuh dan tersenyum karena Hendi baik-baik saja, meski mata orang itu juga berkaca-kaca.

“Kenapa Ayah menangis?” tanya Hendi. Saat itulah muara yang susah payah Hendi tahan agar tidak meluap malah membanjir. Ia pun segera menyekanya.
Ayah memukul lengan Hendi. Tidak keras memang, namun Hendi menyeringai kesakitan. “Setelah kau pulang selarut ini kau masih bertanya kenapa, huh?” tanyanya setengah mengeram.
Ia duduk di ambin di beranda rumah yang banyak jaring terjemur, Hendi mengikutinya. “Ayah pikir kau benar-benar melakukannya,” kata Ayah.
“Melakukan apa?” tanya Hendi.
“Kau sudah lupa?” tanya Ayah.
“Kau…”

Fragmen itu berputar dalam benak Hendi, suara Ayah yang tengah berbicara pun seperti komat-kamit belaka. Di dalam fragmen itu terlihat dengan jelas bagaimana Hendi dan Ayah berdebat secara hebat.

Hendi duduk di meja paling depan di kelasnya. Karena hal itulah ia sering mendapatkan giliran untuk maju dan menyelesaikan apa yang mati-matian kawan-kawannya hindari. Hendi memang tidak begitu pintar, tapi dia juga tidak bodoh. Dia bisa menaklukan soal sulit, menguasai bahasa Inggris dan beberapa pelajaran lainnya. Ia bahkan tak pernah absen dari lima besar peringkat di kelasnya. Hendi juga mudah bergaul, tak heran jika ia memiliki banyak sekali kawan di sekolah. Sekalipun sebagian besar dari mereka hanya memanfaatkan Hendi agar mengajari mereka pelajaran yang sulit. Hendi tak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Selama ia bisa, ia pasti akan membantu murid-murid yang kesusahan itu.
Suatu ketika, saat jam istirahat dan Hendi hendak menuju kantin, ia dipanggil oleh seorang guru yang menyebabkan dirinya berpisah dengan kawan-kawannya.

“Ada apa, Bu?” tanya Hendi basa-basi sementara tangan-tangan yang ia sembunyikan itu dalam gementar yang hebat, meski ia telah tahu betul keperluan yang bakal gurunya muntahkan kepadanya.

Ibu Guru itu tak menjawab pertanyaan Hendi, ia mengeluarkan sebuah buku dari laci di bawah meja yang dihadapnya kemudian memberikan buku itu kepada Hendi.

“Ambil buku ini. Jika dalam waktu satu bulan kamu tidak melunasinya, kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini. Sudah cukup keringanan dan waktu yang kami berikan. Sekarang, kamu boleh pergi.”

Hendi berjalan keluar ruangan dengan wajah tertunduk pun lesu. Didekapnya buku bersama lambung yang batal terisi itu. Ia tak berniat sekali saja untuk menilik jumlah biaya yang harus dibayar. Ia bertaruh, menjual rumahnya saja masihlah belum kan cukup. Jangankan satu bulan, bahkan satu tahun pun dirasanya masih kurang terlalu panjang mengingat pekerjaan ayahnya yang hanya seorang nelayan.
Hendi menaiki tangga menuju lantai dua belas, lantai paling tinggi di sekolah ini. Air matanya tak berhenti membanjir dan ia telah tidak punya alasan lagi untuk tetap hidup. Ia memanjat pagar pembatas, merentangkan tangan dan memejamkan mata.

“Hentikan!” hardik Hendi sembari memegangi kepalanya yang berdenyut.

Fragmen itu pun lesap begitu saja. Namun teriakan Hendi membuat Ayah cukup terkesiap.

“Baiklah, Ayah minta maaf. Masuklah, Ayah sudah menyiapkan makan malammu.” ucap Ayah seraya berjalan dahulu menuju rumah.

Apakah aku membuatnya terkejut?

***

Ayah memakan makanannya dengan lahap. Sementara itu Hendi malah terus memandanginya.

“Ada apa? Ah, iya. Kau pasti tidak suka dengan makanan Ayah lagi, ya?” tanyanya.

Perasaan yang meluap di dalam hati Hendi(rindu) itu segera berganti dengan perasaan lainnya begitu melihat air muka Ayah.

Hatinya hancur. suara itu berbisik, lirih.

Hendi mengangguk, “Kau benar,” gumamnya.
“Apa?” tanya Ayah, dahinya berkerut.
Hendi segera mengatur air mukanya, ia mengembangkan senyum. “Aku pikir, makanan ini… sangatlah enak!” seru Hendi.

Hendi menyantap makanannya tak kalah lahap dari Ayah, ia benar-benar menikmatinya betapapun sederhana yang terhidang di depan matanya.

Ada apa dengan anak ini? Bukankah kemarin-kemarin ia berkata bosan kepada seluruh jenis ikan?

***

Maafkan aku. Hendi yang telah melihat keluar jendela—pada lautan itu pun menoleh.
Sudah tugas saya untuk melayani Anda. di samping ujung jendela, muncullah seekor peri kerdil berwajah rupawan. Ia terduduk lesu sembari memandangi wajah Hendi. Sayap-sayapnya yang menggantung di punggung itu sudah sama sekali tak bisa digunakannya.
Terima kasih telah mengantar Hendi ke rumah. kata Hendi.
Saya yakin dia akan bertahan. Anda juga. senyum yang sama itu segera berganti cahaya yang terbelah. Hendi menatapinya hingga sekumpulan cahaya itu hilang dan tak sadar bahwa sebutir air matanya jatuh melewati pipi.

(update bisa dua Minggu sekali, atau bahkan lebih. Mohon pengertiannya

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s