Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling & Polisi : Prolog

Ruang persegi itu lebih pantas disebut aula daripada hanya sebuah kantor pribadi. Yeon Jae berjalan sembari mencari gerangan penghuni ruangan ini. Ditemuinya seorang lelaki paruh baya duduk di kursi kerjanya sembari melihat ke luar jendela.

Yeon Jae baru saja akan menyapa ketika lelaki paruh baya itu berbalik, “Kau datang?” tanyanya.
“Hormat!” seru Yeon Jae sembari membusungkan dada.

Lelaki paruh baya itu mengibaskan tangan kanannya, pertanda Yeon Jae boleh menurunkan hormatnya. Yeon Jae menurut, diturunkannya tangan yang bersua ujung alis itu. Namun, ia tak lekas menatap lelaki paruh baya yang seorang senior, bahkan jauh lebih tinggi darinya itu.
Yeon Jae menyapu ruangan ini dengan matanya. Sama halnya ketika ia melangkah kemari, perasaan haru membanjir dalam kotak hatinya. Matanya pun akhirnya mendarat pada sebuah papan nama, sebuah kaca yang bertulis sebuah nama dengan hangul yang berwarna keemasan. Papan nama itu bertulis, “Il Do Ran”.

“Ada apa, Yeon Jae? Apakah kau kini merindukan aku?” tanya Do Ran.
Yeon Jae spontan menggelang, betapapun ia tahu bahwa hal itu sangatlah lancang. “Siap. Tidak!” kata Yeon Jae, dadanya kembali membusung.

Do Ran mesem, dan wajah senja yang mirip dengan Yeon Jae itu masih cukup rupawan.
Do Ran bangkit dari singgasananya dan menjelangi polisi kemarin sore itu. Yeon Jae merasakan jantungnya berdetik dua kali lebih cepat, nafasnya pun seolah tercekat. Ia menyembunyikan segalanya di balik tubuh tegapnya, biar pun wajahnya semerah madah.

Do Ran menatap kedua mata Yeon Jae, dalam dan sungguh. “Hanya ada kita dalam ruangan ini. Yeon Jae, sekarang jujurlah. Apakah engkau membenciku?” tanyanya.

Saya ini adalah seorang pembohong besar.

Yeon Jae menghela nafas, “Siap. Iya!”
“Apakah kau merindukanku?”
“Siap. I…” detak itu lesap, “Maksud saya, itu…”
“Kau boleh pergi.” Do Ran memunggungi Yeon Jae yang dalam ketidakberdayaan itu.

Yeon Jae pun berbalik. Ditatapinya pintu keluar yang serasa begitu jauh, ia pun mulai melangkah.

Yeon Jae terkesiap dan membeku, “Suatu saat kau pasti akan kembali, aku yakin akan hal itu.” kata Do Ran sembari memegangi pundak Yeon Jae.

Anda bahkan tidak datang di acara kelulusan saya.

Yeon Jae berbalik, “Hormat!”

Do Ran melakukan hal yang sama. Ia kemudian menurunkan tangannya agar Yeon Jae segera pergi dari ruangannya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s