Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 3.

Hendi terjaga ketika didengarnya riak ombak yang murni. Disapunya dengan kedua mata seluruh sudut dalam ruang kamarnya. Ia memang masih hidup.
Hendi membuka tirai jendela, membiarkan cahaya mentari masuk dan keluar seusai membereskan kamarnya yang sedikit berantakan. Sebelum memegang gagang pintu, Hendi berhenti sejenak untuk menerbitkan senyum meski ia sendiri tak yakin apakah di jam itu Ayah telah bangun, mengingat seusai makan malam Ayah pamit untuk melaut lagi meski sebentar.
Hendi mengedarkan pandangan, tak ditemukannya Ayah di ruangan mana pun.

Sebenarnya, ia tidur di mana?

Hendi telah membuka pintu semua ruangan di rumah ini. Namun, yang ia temui hanya gulungan jaring selain ikan-ikan yang sudah setengah mengering dengan amis yang khas. Ruangan di hadapannya ini adalah ruangan terakhir yang belum Hendi rasuki. Ia genggam gagang pintu, membuka dengan pelan agar pintu usang itu tak menjerit sama halnya pintu lain.

Ditemukannya Ayah tidur dengan jahitan kain perca sebagai selimutnya, hati Hendi pun teriris.

Dia bahkan tak membeli selimut sama sekali setelah kerja kerasnya. Dia tidak mencintai diri sendiri, dia hanya mencintai Hendi. Dia mencintai aku.

Hendi menutup pintu pelan-pelan, tak akan dibiarkannya lahir bunyi sekecil apapun di ruangan itu.
Hendi berjalan menuju dapur. Ia menilik kulkas, di sana hanya ada beberapa macam ikan. Entah kenapa Hendi tak terkejut sama sekali, seolah telah mengetahuinya sebelumnya.
Ia merebus air. Setelah masak, ia masukkan ikan yang telah dibersihkan pun potong, kemudian beberapa macam piah. Dan setelah menunggu beberapa saat, Hendi menghidangkannya di atas meja.

Sementara itu,

Samar-samar didengarnya bebunyian. Antara menghiraukan bebunyian itu dan menjelangi mimpi kembali atau terjaga, sesungguhnya Ayah tak bisa memilih. Kemudian bebauan itu mengetuk-ngetuk hidungnya. Matanya pun terbuka lebar. Terlebih, di ketika itu pula perut Ayah sudah menyuarakan panggilan alam.

Ayah berjalan mengekor pada bau yang membangunkan mimpi panjangnya. Ia baru berhenti melangkah ketika didapatinya Hendi yang sudah rapi dengan seragam sekolah itu mengenakan celemek dan mengatur meja makan.

Hendi menoleh, “Oh, Ayah sudah bangun?” tanyanya.
Ayah berjalan menghampiri Hendi, kali ini sangat hati-hati. “Karena Ayah bangun siang, kau jadi menyiapkan makanan sendiri. Maafkan Ayah, Hendi.” ucap Ayah.
Hendi kembali menoleh, kali ini senyumnya sehangat mentari pagi. “Apa yang Ayah bicarakan? Kita ini keluarga, kan?” ia justru bertanya.
“Tentu saja. Ayah hanya…”

Lelah.

Hendi kibaskan satu tangannya, ia menunjuk hidangan di atas meja yang masih diselimuti oleh kepulan hangat, mengisyaratkan agar Ayah mencicipinya.

Ayah menarik kursi kayu kemudian duduk menghadap sup yang masih mengepul. Hendi menjelangi kemudian mengambilkan Ayah semangkuk sup ikan rasa cinta, ia pun menyodorkannya kepada Ayah.

Hendi tersenyum, “Terima kasih.” ucap Ayah.

Ragu, Ayah membenamkan sendok kedalam lautan sup ikan. Diangkatnya sendok itu setelah menggarong riak lazurdi. Masih ragu, Ayah hantarkan kapal sup ikan itu menuju rahim pulaunya. Hendi memandangi pemandangan itu dengan amat. Ia saksikan kedua mata Ayah membelalak, kemudian mesem tetapi matanya berkaca.

“Enak,” gumam Ayah.
“Makan lagi Ayah, ini memang untuk Ayah.”

Setiap hari saya memakan sup semacam ini. Saya tidak pernah memasak, tapi kebiasaan itu membuat saya tahu apa-apa saja yang telah disiapkan Ibu untuk membuat sup ini.

Ayah berpikir Hendi yang ada di depannya kini, sesekali tumbuh pemikiran jalang bahwa itu bukanlah Hendi yang biasanya—bahwa itu adalah Hendi yang lain yang tercipta dari betapa ketidakberdayaan dirinya untuk hidup yang sedikit saja layak.

Apa yang sebenarnya terjadi kini?

“Bukankah itu seragam untuk hari Senin, kenapa kau memakainya hari ini?” tanya Ayah sembari terus menghayati sarapan paginya.
Hendi menilik seragamnya, “Ah, itu, saya meninggalkan seragam di rumah seorang kawan karena kebasahan. Sebelum sekolah nanti, saya akan mengambilnya.” jawabnya.

Nanti saya akan masuk ke neraka lagi, Ayah. Tidakkah Anda seharusnya melarang saya dan menyuruh saya untuk melupakan itu, betapa berharga pun seragam Hendi itu.

***

Pagi itu sebelum ke sekolah, Hendi berbelok demi mengunjungi rumah Soni. Berdirilah ia di depan gerbang—di bawah gapura yang beberapa saat lalu riuh akan orang-orang yang mengemis keteduhan.

Ia baru saja akan memencet tombol pemberitahu kedatangan seorang tamu, ketika gerbang itu terdorong ke samping dan nampaklah Soni dengan setelan formalnya serta seseorang yang belakangan ini merampok perhatiannya: Raihan.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s