Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 1.

Altra, 2048

Dia memejamkan mata. Tertidur, tetapi tanpa lelap. Dia turunkan kursi kemudinya kemudian bersedekap lalu membuka mata. Seragam kebesarannya selalu terlihat baru, begitu pula papan nama kecil di atas saku kanan yang bertulis ‘Do Yeon Jae’ itu. Yeon Jae kini memegangi papan nama itu. Sama halnya seperti kepulangannya yang selalu melewati batas jam kerja, keputusan untuk menarik perhatian ayahnya juga merupakan suatu hal yang menyedihkan.
Yeon Jae duduk, ia periksa sekali lagi ke mana mobil kemudi otomatis itu bakal membawanya pulang. Ia tidak berencana pulang ke rumah. Rumah serupa singgasana raja, dan ia merasa bukan bagian dari keluarga kerajaan sama sekali. Mobil itu menuju asrama kepolisian, itulah rumah Yeon Jae satu-satunya saat ini. Setelah memutar musik balada, ia menikahi kursi yang condong ke belakang itu sekali lagi kemudian memejamkan mata. Ia menyukai hidup di tahun ini, tahun di mana ia dapat melakukan apapun tanpa melakukan apapun. Berjalan di jalan pulang misalnya.

Sayup-sayup terdengar musik balada ketika Yeon Jae mulai terjaga. Ia duduk, mengucak mata kemudian melihat ke depan. Ia tertawa kecil, dan berpikir barangkali saat ini ia masih di dunia mimpi. ‘Selamat Datang di Kota Altra’, begitulah tulisan keemasan yang terpasang di atas gerbang maha besar tepat di depan mobilnya.

“Mulai memasuki kota Altra, apakah Anda akan mengkonfirmasinya?” tanya mobil otomatis milik Yeon Jae.

Masih berpikir bahwa semua yang dijelanginya merupakan mimpi, Yeon Jae menekan tombol konfirmasi dan mobil pun kembali berjalan.

“Kecepatan penuh!” seru Yeon Jae.

Mobil otomatis itu menuruti titah tuannya dan melaju begitu lesat menuju tujuan. Baru ketika yang demikian terjadi—ketika mobil itu melemparkannya jauh ke belakang dan membentur kursi kemudi dan kepalanya terbentur dan sakit, Yeon Jae tersadar bahwa ia bukan berada di dalam mimpi. Ini kenyataan, betapa muskil pun itu untuk diterima.

“Apa ini?” gumam Yeon Jae.
Jantungnya berdetak secepat mobil membawanya berlari, “Berhenti! Berhenti kubilang!” teriak Yeon Jae.
“Permintaan diterima, mobil akan berhenti di tujuan.”
Dan sambil memegangi kepalanya yang berpusar, Yeon Jae mencoba duduk lagi. “Kurangi kecepatan!” katanya.
“Diterima.”

Mobil ini, kupikir aku harus menggantinya dengan yang baru.

Yeon Jae penasaran, maka ia tilik tempat tujuan di mana mobil yang membawanya kini bakal berhenti.

“Omega?” gumam Yeon Jae dengan dahi berkerut.
“Bisakah kau jelaskan, tempat seperti apa Omega itu?” tanya Yeon Jae.
“Omega. Sebuah warung internet yang menawarkan game paling laris yang pernah ada di tahun ini. Game yang…”
“Game apa itu?” sergah Yeon Jae sebab benaknya tak lagi dibasahi hujan kesabaran.
“Maling dan Polisi.”

Fragmen masa lalu meledak di benak Yeon Jae. Ia tidak tahu cahaya mana yang akan lebih dahulu dilihatnya. Cahaya itu terlampau banyak dan kesemuanya sama indahnya. Ia akhirnya hanya dapat berserah, membiarkan cahaya kenang itu menyetubuhi dirinya dengan kenangan masa kecil yang ia tutup rapat-rapat, betapapun membahagiakannya saat itu.

Saat Yeon Jae mengeluarkan gunting, Ayah mengeluarkan kertas. Karena itulah Yeon Jae menjadi polisi. Ayah berlari menjauhi Yeon Jae sampai beberapa jarak jauhnya, ia berhenti kemudian menoleh dan mengisyaratkan bahwa Yeon Jae boleh menangkap Ayah, yang saat itu menjadi seorang maling.
Padahal Ayah hanya berjalan cepat, namun, Yeon Jae tetap tak bisa mengejarnya. Peluh membasahi tubuh Yeon Jae, sinar mentari menyengat tubuh mungilnya dan ia kemudian jatuh dengan lutut tertekuk dan memandangi Ayah yang tergopoh berlari menuju ke arahnya.

“Kamu kenapa, Yeon Jae?” tanya Ayah.

Yeon Jae menunduk. Saat Ayah memegang pundak Yeon Jae, ia terkesiap bahwa Yeon Jae mencengkeram lengannya erat-erat.

“Ayah tertipu,” kata Yeon Jae sembari menerbitkan senyum.

Di luar perkiraan Yeon Jae, Ayah justru menangkis pengangan erat itu sehingga Yeon Jae merintih kesakitan.

Ditatapinya wajah Ayah yang semerah senja itu, ia juga tengah menatap Yeon Jae, tajam dan dalam. Ayah memang tidak berkata sepatah kata pun, tetapi Yeon Jae cukup mafhum dan memilih diam. Ayah berbalik, ia kemudian pergi meninggalkan Yeon Jae di halaman rumah yang mulai dihinggapi kesepian. Yeon Jae menatap punggung Ayah. Di saat yang sama, ia ingin berlabuh di sana dan menangis namun juga tak ingin melihatnya. Ketidakjelasan rasa. Ayah menjauh, makin jauh, dan Yeon Jae menunduk, tak lagi berselimut kepalsuan.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s