Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 4.

Soni melihat kilatan mata di antara kedua remaja itu, ia mengingat apa yang tak ada pada dirinya dan bersyukur bahwa ia harus mengambil jam tangan di dalam kamarnya.
Baru beberapa langkah Soni meninggalkan kedua remaja itu, riuh dan pekik kesakitan sudah terlahir.
Raihan memandangi wajah Hendi yang berhias memar pun darah dengan api yang menyala semayam dalam netra. Ia memang telah membuat Hendi babak belur, tapi merasa belum melakukan apapun jua. Tangannya mengepal. Hendi mendekat, diraihnya tangan yang menyimpan dendam itu dan Hendi tersenyum di atas seluruh lukanya.

“Maaf,” ucap Hendi.
Raihan baru saja akan menangkis pegangan tangan itu ketika dengan sigap Hendi melepaskannya, “Aku minta maaf. Pada akhirnya semua akan kembali. Aku hanya meminjam tubuhmu, meminjam kehidupan yang benar-benar hidup.” kata Hendi lagi.
“Kau merampas hidupku!” hardik Raihan.
“Kau benar. Kehidupan yang tak pernah kau syukuri itu, adalah nikmat bagi orang lain dan aku. Kau miliki ayah yang baik, yang mengorbankan apapun dan mencintai anaknya melebihi dirinya sendiri. Kau juga memiliki banyak teman. Betapapun mereka hanya ada ketika mereka membutuhkanmu, mereka tetaplah seorang teman. Yang paling penting lagi, kau memiliki rumah untuk pulang.”

Soni berhenti di belakang gapura demi memastikan apakah Hendi telah pergi atau masih berada di sana bersama Raihan.
Soni membuka gerbang. Wajahnya berhias kecewa ketika tak dilihatnya Hendi ada di sana. Ia memandangi kantong plastik yang merumahkan seragam Hendi yang tertinggal beberapa hari lalu kemudian memberikannya kepada Raihan.

“Apa ini?” tanya Raihan.
“Seragam Hendi. Berikan itu nanti di sekolah.” jawab Soni.
Raihan mengangguk, “Baik.” katanya.

Soni menggenggam erat tangan Raihan. Ia menoleh ke belakang—ke lantai untuk memastikan apa yang dilihatnya. Darah. Soni tersenyum.

Raihan yakin betul ia seharusnya membenci Soni, tapi ia tak bisa melakukannya dan perasaan ini tak bisa dijelaskannya sama sekali. Raihan bahkan beberapa kali kedapatan mencuri pandang kepada Soni.

“Ada apa?” tanya Soni sembari melirik sebentar sementara ia menilik angka di jam tangannya.

Raihan hanya menggeleng pelan. Kebencian dalam hati dikuburnya agar tak pernah kembali hidup.

***

“Aku akan keluar dari sekolah ini. Kenapa? Tentu saja uang.” aku Hendi.

Semua orang di dalam kelas saat itu sontak terkejut. Tentu kesemuanya tak mau kehilangan sinar harapan mereka.

“Hei!” hardik Raihan.

Hendi tahu betul maksud Raihan. Namun, perkara ini bukan sesuatu yang semustinya dipendamnya sendiri. Tak akan dibiarkannya kepala belia itu meledak karena menyimpan kesedihan. Toh, ada banyak hal yang harus dilakukannya di sekolah ini, terutama membuat siswa-siswa di depannya kini bisa memecahkan soal-soal sulit tanpa adanya ia.

Sesaat kemudian bel istirahat berbunyi. Hendi keluar kelas disusul dengan Raihan. Sementara itu semua orang di dalam kelas masih mengencani bangku masing-masing, kali ini disertai rasa cemas yang maha hebat. Jika cahaya itu pudar, yang tersisa hanyalah kegelapan. Bersiaplah.

“Apa yang akan kita lakukan?”
“Kita tentu tak bisa berjalan tanpa Hendi.”
“Apakah kita harus menggalang dana untuk biaya sekolah Hendi? Lagi pula, dia juga selama ini telah membantu kita.”
“Tapi, berapa besar biaya yang harus Hendi bayarkan? Apakah uang dari kita akan cukup?”
“Ah, benar juga.”
“Apa yang harus kita lakukan, sekarang? Semua ini benar-benar membuatku frustasi.” aku salah satu siswa.

Dan kelas pun kembali hening.

Sementara itu di balkon lantai dua belas…

“Lalu aku harus bagaimana? Hanya ragamu yang pergi dari sekolah ini. Jiwamu dan kecerdasan itu tetap ada.” Hendi mengerot, “…bahkan,”
“Bahkan?” desak Raihan. Sementara ia berkacak pinggang.
“Dari lantai dua belas ini kau pernah akan menjatuhkan diri.” tidak ada keraguan sama sekali ketika Hendi mengucapkannya.

Tangan Raihan yang semula mengepal itu mengendur. Ia tak dapat megingkari kata yang Hendi utarakan. Ia memang sebegitu putus asa di ketika itu.

Raihan mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya. Ia melemparkannya begitu saja kepada Hendi lalu berbalik.

Ketika Hendi hendak bertanya apa yang Raihan berikan, Raihan menoleh dan berkata;

“Itu dari Ayah. Jika kau tak berniat untuk bertukar, jangan pernah lagi datang ke rumah.”

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s