Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 2.

Ia keluar dari mobil. Menilik—memastikan, dan memang benar ia belum pernah menginjakkan kaki di kota ini. Lagi pula nama kota ini juga aneh. Altra? Yeon Jae tidak pernah mengingat pernah tahu kota ini sama sekali.

Ketika menerawang kota, Yeon Jae nyaris terlonjak ketika sebuah tangan mungil menariknya.

“Ayo ikut aku, Kak. Kalau Kakak di sini, nanti Kakak bisa mati!” katanya.

Yeon Jae baru saja akan tertawa dengan perkataan anak kecil di depannya ketika ia memandang berkeliling dan menemukan kerumunan berlari menjauhi mobil polisi yang juga mengarah ke arah yang sama. Kemudian mobil-mobil itu mengeluarkan polisi-polisi di mana seragam mereka tersulut api, sama halnya pistol yang mereka tenteng selain wajah yang juga sama merahnya.

Bahkan segaris senyum pun segera lesap dari wajah Yeon Jae, “Ayo, Kak. Kita harus lari.” kata anak kecil itu lagi.

Yeon Jae pun memutuskan untuk lari. Kali ini ia bahkan sempat terlupa pada penyelamatnya dan meninggalkannya begitu saja pada larinya yang laju. Hingga Yeon Jae melihat anak kecil yang memperingatkan dirinya itu nyaris tertembak dan memekik ketakutan.

“Ah, sial!” hardik Yeon Jae.

Yeon Jae kemudian berlari ke belakang, menggendong anak kecil di punggungnya dan berlari dengan sedikit kepayahan. Sementara anak kecil itu menangis saat ia dapat mendekap punggung Yeon Jae yang luas dan matanya terpejam, tak ingin melihat kekacauan yang sebenarnya pun sering terjadi di kota ini.
Sesungguhnya Yeon Jae telah menemukan tempat persembunyian yang cukup aman, namun, karena anak kecil itu tak dapat berhenti menangis, maka kepala Yeon Jae seperti akan meledak.

“Diamlah,” Yeon Jae menilik seragam TK anak kecil di mana di saku kanannya terdapat sebuah nama hangul yang terbordir rapi, “…Gyu Jin, kalau kamu tidak diam, kita berdua akan tertembak.”

Gyu Jin menutup mulutnya agar isaknya tak lagi kentara. Yeon Jae yang berniat membantu Gyu Jin malah membuat tangis Gyu Jin makin membanjir.

***

Lelaki paruh baya itu tergesa ketika dokter memperbolehkan ia memasuki ruang gawat darurat. Dilihatnya pasien kecelakaan sore ini dan air mata yang tak dapat lagi membendung rindu dan berpeluk keriput lelaki paruh baya itu pun deras mengalir.

Jatuhnya lelaki paruh baya di depan beberapa dokter yang merawat pasien yang terjejali banyak luka itu pun membikin kaget, “Apa yang Anda lakukan?” tanya salah seorang dokter spontan.
“Saya mohon. Selamatkanlah dia, saya tidak bisa hidup tanpa dia.”
Lelaki paruh baya itu kemudian berdiri, menunjuk-nunjuk dirinya sendiri, “Apa yang kalian butuhkan? Ambillah dari diri saya. Saya bahkan rela mati asal dia hidup.” katanya.
Berpikir bahwa para dokter itu akan melihat sinar harapan mereka, tapi mereka justru menunduk lesu. “Kami sudah berusaha semaksimal kami. Hanya di titik inilah kami bisa berusaha.”
“Merupakan sebuah keajaiban jika nantinya ia dapat kembali hidup.” tambah dokter lainnya.

Sepeninggal para dokter, lelaki paruh baya itu memandangi wajah pasien. Terkadang ia mengusap wajah pasien itu dan penyesalan yang selalu di belakang itu mengetuk relung hatinya. Hingga kedatangan seseorang berseragam yang berhormat-hormat mengusik perhatiannya dan ia pun mendadak tegar dan mengalihkan dunianya atas anak semata wayangnya yang berpeluk mala.

“Ada apa?” tanya lelaki paruh baya itu.
Lelaki berseragam mendekat, “Ternyata mobilnya tidak bermasalah, Ndan. Hanya saja,”
“Hanya saja?” desak lelaki paruh baya.
“Terdapat kerusakan parah di bagian belakang. Jadi saya menyimpulkan bahwa putra Anda ditabrak dari belakang.”

Sudah aku duga.

Sembari menoleh ke arah anaknya, lelaki paruh baya itu mengibaskan satu tangannya, mengisyaratkan bahwa lelaki berseragam itu boleh pergi. Sampai saat itu—meski tak dilihat, lelaki berseragam itu tetap menerbitkan hormat kemudian ia berlalu dari ruang haru.

Maafkan Ayah, Nak! Ini semua salah Ayah.

***

Seorang lelaki membakar mobilnya yang rusak terutama di bagian depan di pembuangan ketika hari telah mulai gelap. Diusapnya peluh dari pelarian paling panjangnya hari ini. Tak terasa, air mata pun mengalir. Ia bahkan tak tahu mengapa dirinya menangis.

“Selamat tinggal, Yeon Jae.”

Ketika ia menyeka air mata, sebuah panggilan telepon masuk yang membuatnya berhormat dan dadanya membusung.

“Siap. Apa? Kecelakaan? B-bagaimana… Siap. Saya akan segera ke sana.”

Tepat ketika ia menutup telepon, mobil yang dibakarnya meledak. Saat itu pulalah ia berlalu dari tempat pembuangan dan menjelangi perintah atasannya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s