Diposkan pada Curhatan

Selamat Tinggal, BM

Baitul Muflihin yang tersembunyi. Foto diambil di aplikasi Maps.

Akhir Januari saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya. Tentu dengan alasan yang cukup kuat. Selain karena tidak mampu lagi bertahan dengan nyala api, ditambah sinar mentari dan genting yang hanya ala kadarnya yang hanya sebuah seng, telah membuat kepala saya sakit setiap kali istirahat untuk sarapan atau ketika sholat duhur. Pun oven itu sendiri yang seluruh tubuhnya dengan sengaja dibuat dari besi, betapa nerakanya. Belum lagi penyakit bawaan jika saya harus berdiri beberapa jam lamanya untuk mengoven adonan agar matang. Belum lama ini, setelah saya pergi ke dokter, ternyata bukan hanya bagian pinggang saja yang sakit, melainkan seluruh bagian belakang tubuh, begitulah kata dokter. Saya pun akhirnya mengerti mengapa rasanya begitu menyakitkan. Masalah gaji juga sebenarnya ikut andil dalam hal ini, tapi saya enggan menceritakannya dan terlihat menyedihkan bagi Anda sekalian.

Meskipun saya sudah bilang secara baik-baik, tapi saya tetap tak bisa langsung pergi begitu saja. Saya masih memiliki tugas untuk mengajari mereka agar bisa—dari membuat adonan sampai memanggang adonan itu sendiri. Belum lagi untuk mengirimkannya ke beberapa toko oleh-oleh dan swalayan. Pokoknya segala-galanya.

Kenyataannya mencari pengganti saya tidaklah mudah. Beberapa dari mereka hanya datang, melihat, kemudian pergi begitu saja karena tidak menyukai pekerjaan yang selama enam bulan terakhir ini saya geluti. Ada juga yang mencoba memanggang adonan, bahkan berjanji bahwa esok hari bakal datang, tapi tetap tak kembali. Hilang begitu saja. Hingga dua orang pemuda itu datang dengan tekad yang kuat. Mereka bahkan tak peduli ketika saya menyindir tentang betapa menyiksanya bekerja di tempat kerja saya ini jika mereka tak terbiasa dengan kerja keras pun panas. Yah, meski pada akhirnya mereka mengeluarkan unek-uneknya juga sasaat setelah saya libur beberapa hari kemudian masuk lagi untuk tak pernah kembali lagi ke sana.

Mengingat tempat kerja, seperti mengingat tempat pertama yang sangat ingin saya datangi saat pertama datang bekerja. Sebuah masjid kecil di belakang rumah, Baitul Muflihin namanya. Saya ingat betul saya sholat duhur di masjid ini sesaat setelah saya berhasil melewati hari paling panas sepanjang hidup karena terpanggang panas mentari dan mesin oven. Saya sholat di samping masjid, tepat di sebelah tempat wudhu dan begitu teduh. Meski begitu bukan berarti tempat saya sholat itu agak kotor. Yah, meskipun saya tetap menyapunya terlebih dahulu. Saat selesai sholat, saya berpikir bahwa pekerjaan ini begitu berat. Belum lagi besok jika mau lebaran. Banyak pesanan yang berarti banyak pula adonan yang harus dipanggang. Saya sempat berpikir untuk berhenti saat itu juga. Terlebih di hari itu juga—setelah mencoba sehari bekerja saya langsung masuk angin. Tapi, saya berpikir saya ingin sholat Jumat di masjid ini di hari Jumat, di masjid yang teduh walau tersembunyi ini.

Jumat itu pun terjelangi, sama halnya Jumat-Jumat setelahnya. Tak terasa saya sudah bisa sampai di bulan pertama. Kemudian kedua dan seterusnya. Saya terbuai.

***

Saat pandemi, saya sempat berpikir bahwa masjid Baitul Muflihin adalah masjid yang dulu. Tapi saya salah sama sekali. Sama halnya peraturan dalam beribadah di masa pandemi, masjid ini pun mengharuskan jemaatnya membawa sajadah sendiri dan masker. Di Jumat pertama, saya terlupa membawa sajadah. Alhasil perut saya kembung karena menikahi lantai yang dingin. Di Jumat kedua, saya memang membawa sajadah. Tapi bukan berati saya terbebas dari kembung. Ditambah lagi disinfektan yang disemprotkan takmir masjid sebelum sholat Jumat dimulai, benar-benar telah membuat dada saya sesak. Jumat ketiga saya sebenarnya tidak datang terlalu awal. Sepuluh menit lagi saat itu seharusnya sholat Jumat dimulai, tapi takmir yang juga pemegang kunci masjid ini belumlah datang sehingga saya dan beberapa jemaat terpaksa duduk di luar masjid. Pengalaman yang tak terduga, sementara di jam-jam seperti itu di masjid di dukuh pastilah sudah penuh jemaat.

Tidak pernah ada Jumat keempat. Jumat ketiga adalah Jumat terakhir saya di Baitul Muflihin. Yang saya sesali adalah, saya mengambil libur tiap hari Jumat pula sehingga saya tidak dapat sering bertemu dengannya.

Selamat tinggal, Baitul Muflihin. Suatu saat semoga saya dapat mengunjungi Anda lagi. Dan mendengarkan adzan yang maha merdu, dan bersua orang-orang teramah lagi.

Petunjuk keberadaan Baitul Muflihin. Sebenarnya saat ini gambarnya sudah tidak jelas. Foto ini juga diambil di aplikasi Maps.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s