Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 5.

Hendi sengaja tak membelanjakan uang sakunya selama beberapa hari untuk membeli payung Soni yang pernah ditinggalkannya begitu saja di jalanan.
Sepulang sekolah, ia singgah di sebuah toko dan memilih payung yang betapapun ia tahu harganya tak pernah sama, tapi mereka serupa.
Ketika Hendi memencet bel rumah, tidak ada yang menjelanginya sementara gerbang tidak dikunci. Ia pun memutuskan untuk masuk. Ditiliknya dapur, Dinda tak ada di sana. Kamar Rama yang meski pertandingan dalam video game masih berlangsung, tetapi anak lelaki satu itu pun tak singgah di singgasananya. Sebuah firasat buruk segera menyayat hati Hendi ketika tak ditemukannya pula Soni di kantor di rumahnya.

Gudang.

Setengah berlari Hendi ketika ia menjelangi gudang. Firasat buruk seperti detak jantungnya yang memburu.

“Ah, sial. Kapan botol keputusasaan ini akan penuh? Apakah aku kurang membuatnya putus asa.” tanya Soni.
Rama menggeleng, “Tidak, Ayah. Dengan luka separah ini, Kakak seharusnya sudah sangat putus asa. Dia pasti lebih memilih mati.” katanya.
“Apakah kita harus menghajarnya lagi?” tanya Dinda sembari menerawang pisau yang erat dipeganginya.

Hendi mendorong pintu, di ketika itu Dinda dan Rama buru-buru mengangkat Raihan ke ranjang sembari menuangkan mantra penyembuh. Sementara Soni dengan tangan azmatnya menyilap lantai yang penuh darah itu menjadi sebersih hati, meski sesungguhnya Hendi menyaksikan genangan darah itu.

“Ma-maaf. Tidak ada orang di dalam rumah jadi saya langsung kemari.”
Soni tersenyum, “I-ini,…” kata Hendi seraya berjalan untuk memberikan payung kepada Soni.
“Ah, itu. Kamu tidak perlu repot-repot tentang hal ini, sesungguhnya kami memiliki banyak payung di rumah.” aku Soni.
Hendi menerawang Raihan yang juga menerawang ia, seperti melambai tangan di dalam hatinya, memekik, “Apakah Raihan baik-baik saja?” tanya Hendi.
Soni menoleh, “Ah, tentu. Dia hanya terjatuh dari ranjangnya.” jawab Soni sembari mesem.
“Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Hendi baru saja berbalik dan berjalan cepat ketika Soni memanggil namanya dan langkah Hendi urung, “Hendi?” panggil Soni.
Hendi menoleh, “Sering-seringlah datang kemari, ya! Raihan pasti menyukainya.” kata Soni.
Hendi terbitkan seutas senyum, “Pasti. Pasti saya akan datang kemari lagi.” katanya.

Hendi pun berlalu di ujung koridor. Suasana mencekam beberapa saat yang lalu sangat dihafalnya. Ia bahkan harus sekuat tenaga menahan agar tak terlihat gementar di depan Soni dan keluarganya.

Sementara itu, Ayah berlari tergopoh-gopoh di dermaga. Ditinggalkannya kapal dan seorang kawan berwajah kesal lantaran mereka bahkan belum sampai ke perut lautan, namun Ayah meminta untuk kembali. Ia memutuskan untuk kembali betapa murka pun kawan melautnya itu.

Hendi terkejut ketika melihat Ayah berlarian. Ayah bahkan tak mendengar ketika Hendi memanggilnya sembari melambaikan tangan.
Penasaran sekaligus khawatir, Hendi turut berlari memasuki rumah dan ditemukannya ruang-ruang penyimpanan ikan dengan pintu yang terkuak.

“Ayah?”

Ayah menoleh, seketika itu Ayah berlari dan mendekap Hendi erat-erat. Hendi bahkan sempat kesusahan bernafas.

“Ada apa, Ayah? Apa yang terjadi? Bukankah Ayah seharusnya sedang melaut?”
Ayah menepuk-nepuk punggung Hendi, “Ah, Tuhan. Ah, syukurlah. Ayah sangat mengkhawatirkan kamu, Hendi.” katanya dengan nafas terengah-engah.
Hendi melepaskan pelukan Ayah, “Saya baik-baik saja, Yah. Ayah tidak perlu mengkhawatirkan saya.” katanya.
Ayah membelai wajah Hendi dengan mata berkaca-kaca, “Sekarang memang iya, tapi tadi tidak.” katanya.

Ayah baru saja duduk ketika seorang rekannya mengambil alih kemudi.

“Hey, apa yang kau lakukan? Aku ini hanya duduk sebentar saja lho.” tanya Ayah.
Rekan Ayah itu menoleh sesaat kemudian memandang ke depan kembali, “Sudahlah, Pak. Aku yang akan menanganinya. Aku tahu kau lelah. Kau tidurlah saja dulu, nanti…”

Ada yang aneh. Ayah seharusnya protes, tapi hanya bunyi mesin kapal dan deru ombak yang terdengar. Rekan Ayah itu pun menoleh, ditemukannya Ayah telah lelap hanya dengan duduk bersandar pada dinding kapal. Rekan Ayah itupun mesem.

Ayah terjungkir dari mimpi indah dan berlayar melewati sebuah koridor yang panjang lagi luas.

“Tempat apa ini?”
“Sakit! Tidak! Ayah, tolong!!!”
Ayah memandang berkeliling, “He-hendi?”
“Apa yang terjadi, Hendi? Kamu di mana?” teriak Ayah.

Pintu sebuah ruangan itu terbuka. Ayah menemukan seorang lelaki paruh baya, wanita paruh baya dan seorang anak lelaki. Di lantai yang penuh darah dan isak tangis selain rintihan luka, ia temukan seorang anak lelaki lagi. Kali ini tidak asing sama sekali. Anak itu adalah Hendi.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s