Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 3.

Anak lelaki itu membersihkan seragamnya yang kotor sementara air mata tak henti membanjiri wajahnya. Ia tak tahu di mana para berandal sekolah yang baru saja mengacak-acak harinya itu meletakkan buku-buku pelajarannya. Kaca matanya hancur, semesta dalam kekaburan. Ia bahkan tak tahu bagaimana ia bisa pulang nantinya.
Yeon Jae menyaksikan pemandangan paling menyedihkan itu dengan tangan mengepal. Anak lelaki itu membenarkan papan nama di atas saku kanannya sehingga Yeon Jae tahu bahwa nama anak lelaki itu adalah Hwan Gyu Young.

“Hwang Gyu Young?” dahi Yeon Jae berkerut, kepalan tangannya makin erat.
“Ah, Yeon Jae. Ini bukan masalah bagiku.” kata Gyu Young, ia bahkan tak benar melihat pada Yeon Jae.

Setelah memunguti buku pelajaran dan memasukannya ke dalam tas Gyu Young, Yeon Jae kemudian membantu membersihkan seragam Gyu Young yang kotor. Tapi Yeon Jae sengaja memukul-mukul seragam itu dengan keras, sehingga Gyu Young berteriak kesakitan.

“Apakah kau memang berniat melukaiku?” tanya Gyu Young sembari menghindar.

Yeon Jae tidak menjawab, ia meraih lengan Gyu Young dan membawanya ke gerbang sekolah. Yeon Jae hanya melambaikan tangannya sekejab, dan sebuah mobil segera menjelanginya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Gyu Young.
“Diam. Hari ini, ikutlah denganku.”
“Ta-tapi…”
“Kau harus sembuh, Gyu Young. Kau harus melihat dengan normal kembali. Kau harus bisa melihat wajah para berandal itu jika ingin membalas mereka.”

Gyu Young cukup mafhum. Ini adalah bantuan yang sering Yeon Jae, kawan satu-satunya itu, tawarkan tetapi selalu Gyu Young tolak hanya karena ia tak tahu bagaimana cara membalas nantinya.

“Apakah kau yakin? Kau mungkin harus merengek di depan ayahmu hanya untuk bisa membantuku.”
Yeon Jae menatap mata Gyu Young, “Bahkan bersujud di kakinya pun aku rela.” katanya.

Gyu Young membuang pandangan, ia mengedarkan matanya pada pencakar langit dan pohon-pohon sakura di jalan menuju kesusahan sahabatnya. Disembunyikan olehnya air mata, dibendungnya rapat-rapat agar tak sampai tumpah. Gyu Young tahu betul bahwa Yeon Jae sangat tidak menyukai ayahnya. Betapapun demikian, Yeon Jae kukuh ingin membantu Gyu Young—hatinya pun terdabik.

Gyu Young memasuki kantor kepolisian sama halnya Yeon Jae. Hanya saja Gyu Young dilarang memasuki sebuah ruangan, ia pun menunggu di bangku panjang di depan ruangan sementara Yeon Jae beserta pengawalnya masuk ke dalam ruangan.
Betapa lamanya Yeon Jae di dalam ruangan tersebut, membuat Gyu Young resah. Sesekali bahkan terbersit pikiran gila bahwa ia akan menembus ruangan yang dijaga oleh beberapa anggota polisi itu dan mengatakan bahwa Yeon Jae tak perlu melakukan hal yang tengah dilakukannya. Tetapi kemudian Yeon Jae keluar ruangan, Gyu Young pun segera menjelanginya.

Gyu Young menepuk pundak Yeon Jae yang menunduk, “Hei, apakah kau baik-baik saja?” tanyanya.

Yeon Jae menatap Gyu Young lantas tersenyum. Tanpa menjawab, ia pun berlalu begitu saja. Seorang lagi kemudian keluar dari ruangan, ia mengenakan seragam polisi dan dibandingkan para penjaga, lencana yang ada pada seragamnya meruah. Gyu Young pun takjub.

“Apakah kau Gyu Young?” tanya lelaki itu.

Gyu Young mengangguk pelan, ia menatap seragam lelaki itu dan menemukan nama ‘Il Do Ran’ tercetak rapi di atas saku kanan seragamnya.

“Anda bukanlah Pak Do? Tapi, nama Yeon Jae…” Gyu Young tak tahu ia seharusnya bertanya atau tidak, tapi pertanyaan itu terkata begitu saja.
Lelaki bernama Do Ran itu tersenyum tetapi senyumnya terlihat pahit, “Kau benar. Aku adalah Pak Il. Siapa itu Pak Do? Pak Do adalah adikku. Suatu hari seusai bertugas, Ayah membawa pulang seorang anak kecil. Kata Ayah, kedua orang tuanya meninggal sehingga Ayah memutuskan untuk merawatnya. Kami pun menjadi keluarga. Belakangan, Pak Do menjadi ayah dari Do Yeon Jae, anakku.” terdapat penekanan pada kata ‘Do Yeon Jae’.

Menikahi kenyataan, Gyu Young makin merasa tak pantas lagi berada di tengah-tengah keluarga ini. Ia serasa ingin lari dan tak pernah bertemu dengan Yeon Jae atau Pak Il yang di depannya kini. Tetapi pengobatan malah dimulai, itu berlanjut berhari-hari lamanya sampai Gyu Young tak perlu lagi memakai kaca mata. Ia bahkan diajari bela diri, agar para berandal sekolah yang selalu mengusiknya itu tak lagi memacarinya.

“Di saat seperti ini, kenapa aku malah mengingat hal itu? Ah, air mata ini, dasar. Kapan kau akan berhenti mengalir?”
“Pak, tolong palankan mobilmu.” perintah Gyu Young.

“Baik, Tuan.” kata sopir taksi.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s