Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 6.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Ayah.

Ayah berusaha menghalangi Hendi. Bahkan jika saja bisa, ia rela menggantikan posisi Hendi yang kini tengah dilukai. Tetapi serupa hantu, tubuhnya tak dapat menggenggam apapun bahkan tangan—tubuh Hendi yang lemah terkulai.

Hendi mendudukkan ayahnya di ambin usang di dekat ruang makan. Ia tengah berusaha menuangkan air putih ke dalam gelas, tetapi tangannya dirasuki gementar yang maha hebat.

Ini semua salahku.

Ayah memandangi Hendi dengan wajah yang sama, “Terima kasih,” ucapnya ketika Hendi memberikan air.
“Ayah, hari ini beristirahatlah.”
Ayah menoleh, “Tidak, Hendi. Ayah harus melaut, Ayah harus membiayai sekolah kamu.” katanya, menolak.
Hendi menunduk. Penasaran, Ayah pun bertanya, “Ada apa?” tanya Ayah.
“Ada yang ingin Hendi bicarakan,” kata Hendi, “…sebenarnya…”

***

Keluarga itu tengah berada di meja makan, tetapi tidak ada satu masakan pun yang terhidang di atas meja. Kesemuanya menerawang ke depan dengan tatapan mata yang kosong, sementara benak mereka dijejali pemikiran-pemikiran sendiri.

“Apa yang harus kita lakukan? Hari penyerahan akan segera tiba,” tanya Dinda seraya menoleh ke arah Soni.
Rama pun turut memandangi ayahnya, “Waktu kita sebentar lagi akan habis, Ayah.” katanya turut menimpali.
Soni memijat keningnya yang berdenyut, “Setelah dipikir lagi, ternyata memang ada yang aneh.” katanya.
“Maksud Ayah?” tanya Rama.
Soni mesem, dan senyumnya yang teduh itu selalu berarti apapun. “Tidak apa-apa, Nak. Pokoknya kalian tenang saja. Bahkan jika botol keputusasaan tidak penuh dan Ayah harus menghadapi Raja Kegelapan, Ayah akan melindungi kalian.” katanya sembari merentangkan tangannya panjang-panjang, seperti melepaskan beban tak usai yang memenuhi pundaknya.

Hati Raihan teriris mendengar percakapan keluarganya, ia baru saja berjalan menuju ruang makan seusai menguping pembicaraan ketika tubuhnya terlempar kebelakang dan membentur tembok. Raihan tak lagi dapat bergerak seusai kepalanya berdarah-darah. Saking sakitnya rasa sakit yang ia rasakan, ia sampai tak merasakannya sama sekali.

“Hati-hati, Nak. Sihir kamu yang barusan bisa membunuh Raihan jika Ayah tidak mengurangi entitasnya.” kata Soni.
Giliran Rama yang mesem, “Maaf, Ayah. Habisnya dia sudah ada di sana sejak tadi, aku jadi kesal.” aku Rama.
Soni menilik kebawah—kepada botol keputusasaan yang entah sejak kapan sudah ada di genggamannya, “Ayah tahu, kamu memang menjadi semakin kuat.” katanya.

Bahkan dengan luka separah itu, cairan dalam botol ini hanya bertambah sedikit.

***

“Tapi, kenapa?” dalam keheranan, Ayah bertanya.

Hendi hanya bisa mengganggam tangan ayahnya erat-erat. Biar pun begitu, tak pernah sekalipun ia berani memandang mata ayahnya yang ditumbuhi air mata kesedihan.

“Tidak apa-apa, Ayah. Ayah sudah berusaha keras. Kali ini, Hendi bahkan akan membantu Ayah.” ucap Hendi.

Ayah melepaskan pegangan Hendi yang kian erat, ia bangkit dan berlalu dari hadapan Hendi dan memasuki kamarnya. Hendi benci kesunyian di dalam harinya kini, sehingga ia dapat mendengar Ayah terisak-isak menahan tangis.

***

Raihan baru saja terjaga ketika Soni duduk di ranjang usang itu. Raihan terkesiap bukan main, betapapun ia tahu bahwa kesakitan yang barusan menimpanya bukanlah ulah ayahnya.
Raihan memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut, sementara setiap denyutan begitu menyiksanya. Botol itu tetiba muncul di atas telapak tangan Soni. Saking seringnya melihat botol itu, Raihan sampai hafal jika itu adalah mantra penyembuh.

“Maafkanlah Rama,” air muka Soni tulus, “…selain nyaris membunuhmu, ia juga hanya menuang setengah botol dari mantra penyembuh yang kuberikan. Tak heran jika sekarang kau masih kesakitan.”

Perasaan haru tetiba memenuhi relung hati Raihan, saking bahagianya Raihan karena menemukan Soni yang selama ini dikaguminya, matanya berkaca-kaca.

Soni menuang mantra penyembuh di luka—kepala Raihan, “Dengan ini kamu akan benar-benar sembuh.” katanya.
Soni setengah terkejut ketika tetiba Raihan mendekap tubuhnya erat-erat, “Ada apa?” tanyanya.
“Ayah, mengapa kita tidak seperti ini saja.” gumam Raihan.
Soni bermaksud melepaskan pelukan erat Raihan, tetapi Raihan mencegahnya, “Aku tidak tahu bahwa kau begitu menyayangiku,” Raihan memejamkan matanya—segenggam air mata pun tergelincir, “…Hendi.”

Kesadaran Raihan terdabik, matanya terbelalak.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s