Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 4.

Gyu Young baru saja akan berhormat-hormat ketika ia tiba di restoran—tempat perjanjian dan mendapati lelaki paruh baya itu dalam mabuk yang hebat.

“Apa yang Anda lakukan? Anda tidak seharusnya melakukan ini, Pak Il!” tanya Gyu Young.

Dia minum tanpa lauk.

Do Ran tersenyum, “Do Yeon Jae, anakku itu walau dia hidup, ia tidak bisa melakukan apapun. Dia seperti mati. Untuk apa aku hidup, Gyu Young? Untuk apa?”
“Untuk menebus dosa-dosa Anda,” gumam Gyu Young, air mukanya lesap tetiba.

Seorang lelaki yang baru saja akan masuk ke dalam ruang restoran urung. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat melihat bagaimana Gyu Young menatap Do Ran.

“Apa kau bilang? Kau bicara seperti seorang wanita,” tanya Do Ran disertai tawa kecil.

Gyu Young tidak tahu sejak kapan lelaki itu ada di balik pintu, ia hanya merasa perlu untuk menoleh pun mengetahuinya.

Gyu Young sedikit terkesiap ketika didapatinya seseorang yang ia kenal menghadap pintu, “Oh, Pak Do?” tanyanya, memastikan.
Gyu Young setengah berlari menjelangi pintu dan membuka pintu yang sedikit terkuak itu, “Mengapa Anda tidak masuk?” tanyanya seraya mendorong pintu ke samping.
Lelaki bernama Do Kyung Han itu melangkah masuk, “Tiba-tiba aku memikirkan sesuatu, jadi aku berhenti di depan pintu.” katanya tanpa menoleh sama sekali ke arah Gyu Young.

Gyu Young mafhum dengan perlakuan ayah Yeon Jae itu. Ia bahkan sempat menilik mata Kyung Han dan matanya semerah senja dan basah.

Ketika kembali ke meja makan, Gyu Young mendapati Do Ran telah tertidur lelap sementara Kyung Han geleng-geleng melihat kelakuan kakaknya itu.

“Beliau meminta saya untuk menjemputnya,” aku Gyu Young.
Kyung Han menoleh sebentar ke arah Gyu Young kemudian melihat kepada Do Ran lagi, “Kalau begitu, bantulah aku membawanya ke mobil.” katanya.
Gyu Young mengangguk meski tak sekalipun lagi Kyung Han melihat kepadanya, “Baik, Pak.” katanya.

Mereka membawa Do Ran ke mobil Kyung Han. Gyu Young ditinggalkan diparkiran rumah sakit setelah Kyung Han memutuskan ialah yang bakal merawat kakaknya.

***

Yeon Jae berjalan mengekor kepada Gyu Jin yang tengah merajuk karena perlakukan Yeon Jae beberapa saat lalu setelah penyerangan oleh para polisi api.

“Hei, maafkan aku. Aku memang salah. Maafkan aku.” entah sudah berapa kali Yeon Jae mengucapkan kata-kata itu.

Sesekali Gyu Jin akan menoleh, menunjukan wajahnya yang mbesengut dan kembali berjalan ke tujuan.

“Ah, sungguh. Ini sangat menyebalkan. Sebenarnya aku juga tak ingin mengikutimu wahai anak kecil. Tapi di kota ini hanya kau saja yang sepertinya bisa menerimaku.” Yeon Jae menoleh ke kanan-kiri, tempat orang-orang memandangnya tajam dengan sinis.

Barulah ketika sekelompok orang menghadang Yeon Jae, Gyu Jin menghentikan langkah kemudian berbalik.

“Kostum yang bagus,” kata salah satu penghadang.
Dahi Yeon Jae berkerut, “Kostum?” tanyanya.
“Iya. Aku bahkan mengira bahwa kau adalah polisi sungguhan.” kata penghadang kedua.
Seorang penghadang ketiga melangitkan jari telunjuknya sementara mulutnya setengah menganga, “Jangan-jangan…”
Kini giliran penghadang keempat yang bicara, “Kau benar-benar seorang polisi?” tanyanya.

Gyu Jin setengah berlari menjelangi Yeon Jae yang dikepung para penghadang, ia segera menggandeng tangan Yeon Jae kemudian membawanya pergi sembari berbohong sedikit ihwal seragam yang teman barunya kenakan itu.

“Hei, apa maksudmu bilang seperti itu kepada mereka? Aku ini benar-benar polisi, tahu. Untuk menjadi polisi, aku mengikuti latihan yang ketat dan berbagai macam tes yang setengah mati aku jalani!” maki Yeon Jae.
Gyu Jin mengibaskan satu tangannya, “Aku tahu, aku tahu. Masalahnya, di dunia ini polisi adalah malaikat maut. Kau pasti belum lupa pada polisi dengan seragam api, mereka akan menangkap kita kemudian membuat kita benar-benar mati di dunia kita. Pantas rasanya jika semua orang di sini membenci polisi, bahkan yang benar-benar polisi seperti dirimu.” jelasnya.
Kemurkaan Yeon Jae seketika padam, “Jangan-jangan Omega… Maling dan Polisi…”
“Kau benar.” kata Gyu Jin.
“Kalau begitu, kita hanya perlu memasuki Omega dan memenangkan permainan itu. Setelah itu…”
“Kita akan kembali hidup.” Gyu Jin kembali menimpali.
“Masalahnya masuk ke Omega tidaklah mudah. Polisi api itu akan datang ketika ada orang yang berusaha mendekati Omega. Jalan satu-satunya adalah seperti yang semua orang lakukan tadi. Di saat kau tiba di kota ini…”
“Mereka sedang mencoba memasuki Omega?”
Gyu Jin mengangguk, “Tepat sekali.” katanya.
Yeon Jae memandang wajah Gyu Jin, “Berapa umurmu? Kau berbicara seperti orang dewasa. Sungguh tak sopan.” tanyanya.
“Tidak sopan? Lalu, polisi mana yang marah-marah kepada seorang anak kecil. Seumur hidup aku baru menemuinya sekali dan itu adalah kau.”
“Kau?” tatapan mata Yeon Jae tak kalah tajam dari Gyu Jin.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s