Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 7.

Ketika Hendi menarik selimut—bersiap untuk tidur, terdengar pintu rumah diketuk dan bunyinya mendabik telinga. Didengarnya gumaman-gumaman dari mulut Ayah yang tidak jelas. Tapi ia tahu hal itu menunjukkan Ayah tidak suka dengan kedatangan tamu selarut ini, siapapun itu.

Hendi berjalan mendahului Ayah yang sedang menghidupkan lampu di ruang tamu, “Biar saya saja, Ayah.” katanya.

Ayah pun urung dan langkahnya terhenti.

Hendi membuka pintu, ia terkesiap. Dan jika Ayah tengah pergi melaut, mungkin Hendi akan membanting pintu itu, menguncinya rapat-rapat kemudian pergi untuk bersembunyi.

“Oh Pak Soni, Raihan, ada apa datang semalam ini?” tanya Hendi.
Raihan yang sejak pertama menunduk itu menatap Hendi, “Ayahmu sudah tahu semuanya,” katanya.
“Apa?”

Hendi bahkan tak tahu bagaimana kaki-kakinya berjalan ke belakang sebelum badannya ambruk lalu pertanyaan-pertanyaan Ayah yang menanyakan kondisi dirinya membuatnya menangis sebelum segala sesuatunya berubah menjadi gulita.
Malam itu Hendi tak bisa tidur sama sekali. Senyum ayahnya telah menghantui tidur, pun mimpinya.

Sementara itu,

Raihan pindah ke kamar tamu. Soni melarangnya betapapun Raihan ingin tinggal di sana karena berpikir malam itu adalah yang terakhir kalinya.

Melihat pemandangan itu, Rama segera bertanya, “Kenapa Ayah pindahkan dia ke kamar tamu? Apa Ayah…”

Pertanyaan-pertanyaan yang hendak Rama muntahkan terjungkir setelah Dinda menggenggam tangan anak bungsunya itu erat-erat. Rama tidak tahu maksud Dinda melakukan itu, namun, tidak demikian dengan sang ibu yang langsung sadar bahkan hanya ketika Soni memandang matanya lekat-lekat.

“Saya tidak pantas tidur di tempat sebagus ini,” gumam Raihan.
Soni berjongkok demi menerawang wajah Raihan yang tertunduk lesu, “Apa maksud kamu? Di sini kamu sudah bukan pengisi wadah—botol keputusasaan lagi. Jadi, kamu akan diperlakukan seperti selayaknya seorang tamu. Terlebih lagi, besok kamu juga akan meninggalkan tempat ini.” katanya.

Raihan merasa bahwa ia telah menahan kuat-kuat air matanya, kini mereka malah membanjiri wajah Soni. Raihan ingin melepaskan wajah Soni atas air matanya, tapi Soni malah enggan menghindar.

“Tak apa, menagislah!” kata Soni.

Saat air mata Raihan telah habis, Soni membiarkan pundaknya sebagai tempat untuk Raihan bersandar bahkan akhirnya terlelap. Dengan pelan, ia pindahkan Raihan ke ranjang bahkan menyelimutinya.

“Apakah benar, Raihan di depan kita ini adalah anak itu?” tanya Dinda.
Soni membawa Dinda keluar kamar kemudian ia mengangguk, “Benar. Diamlah, dia akan terjaga jika kau terus bicara.” katanya, mengingatkan.
“Kenapa aku tak bisa menyadarinya?” tanya Dinda seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, heran.
Soni berjalan menjauhi kamar Raihan diikuti oleh Dinda, “Bahkan aku pun tak menyadarinya.” akunya.
“Apakah kita perlu memberitahu Rama?” tanya Dinda lagi.
Soni menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang sementara kedua tangannya mengepal, “Tidak perlu. Rama tidak perlu tahu siapa anak itu sebenarnya. Lagi pula, esok dia akan kembali menjadi dirinya dan pulang.” jelasnya.
“Kita akan membiarkannya hidup? Bagaimana jika ia…”
“Tidak akan, Dinda. Dia menyayangiku.” kata Soni setengah mengeram.
“Bagaimana dengan menghilangkan ingatan tentang keluarga kita?” tanya Dinda lagi.

Kali ini Soni berbalik, ia berjalan ke arah Dinda sementara jantung Dinda berdegup sangat kencang dan ia sadari ia tak seharusnya banyak bertanya demikian. Soni kemudian menyelimuti tubuh Dinda dengan sebuah mantra.

Kedua mata Dinda terbelalak, “Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku!” pintanya.

Tetapi Soni sudah terlanjur naik pitam atas kebawelan istirnya itu. Ia pun tak berniat membatalkan mantranya sama sekali.

Pagi-pagi sekali, Soni telah berada di rumah Hendi. Hendi bahkan sampai kehilangan selera makannya dan ia tak makan bersama Ayah sama halnya payi hari yang biasanya.

“Sudahlah. Kau kan cuma pergi sehari saja, kenapa serasa seperti kau akan meninggalkan Ayah untuk selamanya? Lepaskan pelukan paling erat ini, Ayah merasa sesak. Lagipula,”
“Lagipula?” tanya Hendi seraya melepaskan pelukan erat atas ayahnya.
“Jika kau tak mau pergi, tinggallah di rumah saja.” terang Ayah.
Dahi Hendi berkerut, “Haruskah saya, Ayah?” tanyanya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s