Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 5.

Mengapa anak kecil seperti Gyu Jin bisa berada di kota ini, apa yang terjadi kepadanya, sungguh Yeon Jae ingin sekali mengetahuinya. Setelah sampai di puncak gedung, Yeon Jae berniat akan mengutarakan niatnya.

Yeon Jae memegangi perutnya yang kembang kempis, ia menatap ke atas—kepada Gyu Jin yang berjalan mendahuluinya, “Mengapa kota ini sangat kotor dan bobrok? Untuk sampai di puncak gedung ini saja kita harus menaiki tangga.” tanyanya, kesal.
“Itulah mengapa tidak ada yang percaya jika seragam dan lencana yang kau kenakan asli, karena kau begitu…”
“Bagitu?” desak Yeon Jae.

Gyu Jin memang tidak mengatakannya, tetapi Yeon Jae membaca gerak bibir anak kecil satu itu dan Yeon Jae menyimpulkan kata yang diucapkan Gyu Jin adalah ‘pa-yah’.
Yeon Jae murka, tetapi Gyu Jin yang masih utuh nafas dapat berlari sehingga Yeon Jae tak dapat meraihnya.

Gyu Jin duduk di kursi usang di dekat pagar pembatas yang sama usangnya. Yeon Jae menemukan Gyu Jin dan baru saja akan mengeksekusinya ketika didapatinya wajah lugu itu tersenyum ke arah matahari terbenam berwarna pastel.

Kesumat di dalam hati Yeon Jae pun lesap seusai ditatapinya wajah Gyu Jin yang lugu itu, “Gyu Jin?” panggilnya.
Gyu Jin pun menoleh, “Kenapa?” tanyanya, ketus.
“Apakah aku boleh bertanya?”
“Tanya apa?”
Hati Yeon Jae tetiba dihinggapi perasaan tidak tega, “Ah, tidak jadi. Lupakan saja.” kata Yeon Jae, berdalih.

Merasa kesal, Gyu Jin merengut setelahnya.

“Ini pasti tentangku, bukan? Tidak apa, Kak. Katakan saja.” celetuk Gyu Jin.
Yeon Jae menoleh, “Bagaimana kau bisa sampai di kota ini? Apa yang terjadi kepadamu?” tanyanya.

Rasa penasaran di dalam hati Yeon Jae melangit, tetapi rasa penasaran yang baru pun segera tumbuh. Yeon Jae tak tahu apakah ia seharusnya bertanya atau tidak. Tetapi segala kata telah terkata, tinggal jawab menandaskan tanya hati.

“Aku…” Gyu Jin membuang wajah. Yeon Jae menahan nafas demi mendengar jawaban yang bakal Gyu Jin muntahkan. Gyu Jin pun membuka mulutnya, “…pasti akan cerita.”
“Ah, sungguh. Kau buatku penasaran.” maki Yeon Jae.

Sudah cukup lama Yeon Jae menginjakkan kaki di puncak gedung itu, tetapi ia belum pernah sekali saja melihat pemandangan matahari terbenam. Matanya bahkan berkaca-kaca. Pemandangan yang terhidang di depannya kini adalah kemewahan yang tak pernah di dapatinya, sebab ia kesibukan membersamai langkah-langkahnya, bahkan ketika ia terlelap sekalipun.

“Kak?”
Yeon Jae menyeka air mata kemudian menoleh, “Apa?” tanyanya.
“Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kau ada di kota ini?” tanya Gyu Jin.
Yeon Jae menggeleng, “Aku tidak tahu,” jawabnya.
“Kau masih belum mengingatnya?” tanya Gyu Jin.
Yeon Jae kembali menggeleng, “Pasti sesuatu yang mengerikan,” gumam Gyu Jin.
Kali ini Yeon Jae menoleh, “Apa?” tanyanya.
“Lupakan.”

Giliran Yeon Jae yang merengut.

“Apakah kau mau mendengar ceritaku? Aku bahkan belum pernah menceritakannya kepada siapapun karena menganggap hal ini teramat sedih.”
“Apa yang terjadi kepadamu, Gyu Jin? tanya Yeon Jae.
Hati Gyu Jin tetiba sesak, ia pun memegangi dadanya, “Tabrak lari.” jawabnya.

Sudah berhari-hari lamanya sang kakak jatuh sakit, sehingga kakaknya itu tidak pergi bertugas dan menanggalkan zirah yang susah payah didapatnya.
Setelah kepergian ayah-ibunya, Gyu Jin menyayangi kakaknya melebihi siapapun di dunia ini. Pada saat seperti ini pun, anak kecil yang baru berusia sebelas tahun itu menjadi dewasa dan merawat kakaknya dalam ketidakberdayaan.

“Gyu Jin?” panggil kakaknya.
Gyu Jin yang tengah mengompres dahi kakaknya dengan air es itu pun menoleh, “Ada apa?” tanyanya.
Melihat air muka yang bernas lelah, kakak Gyu Jin pun urung atas kehendaknya, “Ah, lupakan.” katanya dan mesem.
“Sup rumput laut? Itu kan hanya dibuat di hari ulang tahun kita. Lagi pula, sup rumput laut itu melambangkan…”
“Kegagalan?” cetus sang kakak.

Atmosfer menjadi beku. Gyu Jin menyesal telah mengingatkan kakaknya akan kegagalan.

“Pahlawan juga bisa sakit, ia butuh istirahat.”
Melihat sang kakak dapat kembali tersenyum, Gyu Jin pun turut mesem, “Baiklah, aku akan membuatkan sup untukmu.” kata Gyu Jin.

Setelah menyelesaikan tugasnya mengompres dahi sang kakak, Gyu Jin bangkit—mengambil beberapa lembar uang.

“Apa yang kau lakukan?”
Sembari menghitung lembaran uang di tangannya, Gyu Jin menjawab, “Kita tidak memiliki rumput laut, jadi aku akan turun untuk membelinya. Aku akan segera pulang.”

Gyu Jin pun berlalu begitu saja. Sementara tumbuh rasa khawatir di hati kakak Gyu Jin, dan ia berpikir ia mungkin seharusnya meminta Gyu Jin untuk membuatkannya ramen saja.

Saat sang kakak menunggu, perasaan hatinya makin kalut. Ia pun memutuskan untuk mengambil air putih. Ketika telah selesai menuang air putih itu ke dalam gelas dan hendak meminumnya, tak sengaja ia jatuhkan gelas itu sehingga pecahan kaca berserak di lantai.

Hati kakak Gyu Jin turut pecah, Apa yang terjadi? batinnya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s