Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 8.

Hendi telah mengatur nafasnya, tetapi di dalam mobil Soni itu ketenangan Hendi bergelimpang dan ia tak tahu bagaimana caranya agar ia dapat bangkit menjadi kuat.

Seolah tahu yang dirasakan Hendi, Soni pun bertanya, “Ada apa? Apa ada yang tertinggal?” tanyanya.
Air mata Hendi segera tumpah, “Ada yang harus saya lakukan. Tolong ijinkan saya turun, Ayah. Tolong.” pintanya.
Soni menepikan mobil, membuka pintu dan mempersilakan Hendi keluar, “Terima kasih, Ayah. Terima kasih.” seutas senyum rekah di cakrawala wajah Hendi.
Hendi baru saja berlari menjauhi Soni ketika Soni setengah berteriak kepadanya, “Ayah tahu kamu tidak akan kabur!” katanya.

Sempat berpikir untuk menghentikan langkah dan menoleh, tapi Hendi urung dan berlari menjelangi Ayah yang barangkali saat ini tengah menangisi kepergiannya.

Sementara Hendi menemui Ayah, Raihan yang mendadak berselimut canggung berjalan menuju gerbang keluar rumah di saat Dinda dan Rama berdiri di teras depan rumah.

Di saat yang sama, Soni membuka gerbang dan menemukan Raihan yang menanggung kesedihan sekaligus bahagia di punggungnya di saat yang sama.

“Kau sudah mau pergi?” tanya Soni.
Raihan mengangguk, “Biar aku antar.” kata Soni seraya menggenggam tangan Soni.
Raihan segera melepaskan pegangan tangan itu, “Tidak perlu.” tangkisnya.

Soni seharusnya mengejar Raihan. Tapi Raihan yang gesit itu berlari menjauhi rumah Soni dengan begitu lesat.
Raihan menoleh untuk memastikan apakah Soni mengejarnya atau tidak. Ketika ia memandang ke depan lagi, ia bertabrakan dengan seseorang kemudian terjatuh.

Ia hendak menumpahkan kemarahannya kepada seseorang yang menabraknya ketika ia dapati wajah seseorang yang akhir-akhir ini menjadi wajahnya sendiri itu muncul di hadapannya.

“R-raihan?” tanyanya, terbata.
“Dengan ini kita sudah kembali menjadi diri sendiri. Terima kasih, Hendi.” kata Raihan, senyumnya yang rekah lebih hangat dari matahari pagi.

Raihan pun bangkit kemudian mengulurkan tangannya. Sementara Hendi memegangi wajahnya dan ingin sekali—saat itu bersua cermin.

“Apakah kau tidak apa-apa?” tanya Hendi.
Raihan yang sedang memelototi lutut dan lengan Hendi yang berdarah itu pun sontak terkejut, “Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu—kepadamu?” tanyanya seraya memandang mata Hendi.
“Bukan tubuhmu, tapi…”

Hendi memegangi dadanya. Raihan langsung mafhum apa yang Hendi maksudkan. Ia hendak mengalihkan pandangan, tapi, mata Hendi yang seolah menusuknya itu membuatnya tak dapat berpaling sementara matanya berkaca-kaca.

Raihan kemudian menepuk pundak Hendi, “Tolong jaga Ayah. Ingat, dia sangat menyayangimu.” pintanya.
Hendi mengangguk, “Maaf soal sekolahmu. Aku benar-benar tidak bisa banyak membantu.” kata Raihan lagi.

Hanya selembar senyum yang Hendi buka, itu pun segera lesap sesaat setelah Raihan berjalan melewatinya dan hilang di ujung jalan.

Hendi menoleh, “Siapa juga yang mau kembali ke sekolah?” tanyanya sembari menyeka ujung mata.

Tidak pernah sekali jua Soni merasa jemu, meski ia telah berdiri dan sesekali mondar-mandir di sana. Dahinya berkerut ketika tetiba botol keputusasaan muncul di tangannya dan bersinar terang karena telah penuh terisi.

Sesaat kemudian Dinda dan Rama keluar rumah, agaknya mereka menyadari kilauan cahaya paling cerah itu.

“Ada apa, Ayah?” tanya Rama.

Dinda yang hendak menanyakan pertanyaan yang sama dibuat takjub dengan botol keputusasaan yang dengan sihir telah Soni layangkan sehingga dapat jelas terlihat.

Ketika Soni menyimpan botol keputusasaan kembali, gerbang rumahnya terbuka. Raihan berdiri nun jauh di sana—pulang dengan keputusasaan. Ia bahkan tak terlihat sama sekali seperti seseorang yang baru bebas dari kungkungan maha hebat.

Dengan air mata berurai, Soni merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sementara Raihan tak tahu harus berbuat apa pada sikap ayahnya yang mendadak itu. Ia hanya terus terdiam di tempatnya berdiri dengan mulut yang menganga.

Sementara itu…

Ayah memandangi ambin, tempat kasur lapuk dan selimut perca berlabuh dalam sekarat. Dari ujung matanya melinang air mata kebahagiaan. Sebuah selimut tebal berlabuh di sana dan ia tahu betul Hendi adalah satu-satunya orang yang telah meletakkannya di sana.

Ketika Ayah hendak membuka plastik pembungkusnya, pintu rumahnya berderit.

Apakah ada yang tertinggal lagi? tanyanya dalam hati.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s