Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 6.

“Lalu, apa yang terjadi setelah itu?” tanya Yeon Jae, antusias.

Terlampau lama menunggu dalam selimut keresahan, kakak Gyu Jin memutuskan untuk keluar rumah dan mencari Gyu Jin betapa dingin pun udara malam itu. Bahkan obat yang biasanya bakal membuatnya terlelap sesaat setelah ia meminumnya pun, kali ini lupa bagaimana caranya bekerja.
Kakak Gyu Jin harus menuruni jalan untuk sampai di kedai yang biasa didatanginya dan Gyu Jin ketika akan membeli bahan masakan. Dari kejauhan, terlihat pemilik kedai telah bersiap-siap untuk tutup, kakak Gyu Jin pun berlari menjelanginya.

“Permisi, Paman. Apakah kau melihat adikku? Dia bilang dia akan membeli rumput laut.”
“Ya, aku tadi melihatnya. Gyu Jin memang membeli rumput laut. Tapi, bukankah seharusnya dia sudah sampai rumah?” tanya penjual itu.
“Tidak, dia belum pulang sama sekali.”
“Aduh, padahal udara malam ini sangatlah dingin. Ke mana perginya anak kecil itu?”

Sementara penjual sayuran sibuk dengan pemikirannya sendiri tentang Gyu Jin, kakak Gyu Jin berjalan kembali, berjalan tanpa arah. Ia pun tak tahu bagaimana caranya ia sudah sampai di distrik lain selain yang ia tinggali selama ini.

Berpikir mungkin Gyu Jin sudah kembali ke rumah dan mencari keberadaan dirinya, kakak Gyu Jin memutuskan untuk pulang. Ia pun berbalik dan berjalan di jalan pulang. Baru beberapa langkah saja ia melangkah, perhatiannya segera tersita dengan kerumunan orang-orang yang mengerumuni sesuatu, entah apa. Penasaran, ia pun mendekat.

“Permisi, Bibi. Apa yang terjadi di sana?” tanyanya.
“Kecelakaan. Tabrak lari. Korbannya seorang anak kecil. Kasihan sekali.”
“Aku tidak akan ke sana. Aku membenci darah dan aku untuk apa aku ikut berkerumun jika hanya mengambil gambar korban alih-alih membuatnya tenang sementara ambulans datang.” batin kakak Gyu Jin.

Kakak Gyu Jin baru saja melangkah ketika didapatinya dua orang lelaki paruh baya bercakap-cakap setelah menyaksikan korban kecelakaan itu.

“Kulihat banyak rumput laut berceceran di sekitarnya, dia pasti diminta ibunya untuk membelinya tapi malah tertabrak mobil. Anak yang baik. Bagaimana perasaan ibunya jika ia tahu anaknya sekarat begitu?”
“Kau benar. Darah mengalir begitu banyak dari kepalanya, aku berani bertaruh ia tidak akan selamat.”
“Anak yang malang.” gumam mereka, nyaris bersamaan.

Rumput laut?

Kakak Gyu Jin berbalik kemudian berlari ke arah kerumunan. Ia sedikit kesusahan ketika menyibak kerumunan dan menemukan wajah yang sama sekali tak asing tergeletak di jalanan aspal dengan darah menggenanginya.

“Gyu Jin!!!”
“Ah, ah, tidak. Banyak sekali darah di sini!”

Meski ketakutan, kakak Gyu Jin memegangi kepala Gyu Jin dan menyelami telaga darah di hadapannya.

Dengan air mata yang membanjir, kakak Gyu Jin itu terus bertanya, “A-apa yang terjadi kepadamu? Siapa? Siapa yang melakukan ini?” tanyanya.
“Seragammu… Orang itu… Seragammu…”

Gyu Jin memejamkan mata setelah kata-kata terakhirnya. Kakak Gyu Jin belum sama sekali paham atas kata-kata yang diucapkan Gyu Jin, ia larut dalam kesedihan dan menangis. Kali ini mendekap erat-erat Gyu Jin dan menangis sejadi-jadinya.

“Kakakmu pasti sedih. Apakah kau tahu siapa orang yang telah menabrakmu itu?” tanya Yeon Jae.

Gyu jin mengangguk.

Gyu Jin seharusnya pulang ke rumah, namun, mendengar orang-orang berbicara di jalanan tentang betapa enaknya panekuk daging di distrik sebelah, Gyu Jin pun berpikir untuk membelinya. Terlebih kakaknya sangat menyukai panekuk daging. Ia yakin betul telah memeriksa keadaan sebelum menyeberang. Namun, tetiba sinar lampu paling menyilaukan itu membuatnya menoleh dan decit mobil yang mengerem mendadak memekakkan telinganya. Ia pun terpelanting jauh sementara rumput laut yang baru saja dibelinya berhamburan di jalanan.

Gyu Jin merasakan kepalanya berdenyut-denyut, dan setiap denyutan terasa begitu menyakitkan. Gyu Jin pun menangis karena rasa sakit yang dideritanya kini amatlah sakit. Dan meski pandangan matanya berangsur kabur, ia dapat melihat seseorang berseragam keluar dari mobil. Menangkup wajahnya sendiri dengan telapak tangan seusai melihat keadaan Gyu Jin sementara seseorang lain yang baru saja keluar dari mobil segera mendapat bogem mentah sana-sini.

“Apakah kau melihat papan namanya?” tanya Yeon Jae.
Gyu Jin mengangguk pelan, “Siapa namanya?” tanya Yeon Jae lagi.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s