Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 9.

Ayah urung memacari selimut barunya, ia bangkit dan berjalan menuju sumber suara dan menemukan Hendi dengan wajah bertekuk lelah.

“Ada apa? Adakah yang tertinggal lagi?” tanya Ayah antusias.

Sebab jika Hendi mengangguk, Ayah siap mengambilkan apa saja yang Hendi minta. Tapi Hendi malah membisu betapa pun Ayah memandanginya tanpa berkedip.

Hendi menghambur, “Ada apa?” tanya Ayah.
“Ayah?” panggil Hendi.
“Hmmm. Ada apa?” tanyanya seraya melepaskan pelukan Hendi.
Ayah mendapati senyum di wajah Hendi, “Aku pulang.” katanya.

Hendi berjalan merasuki rumah. Sementara itu Ayah dengan dahi berkerut yang bertahan lama mengekor pada anak semata wayangnya itu dan perasaan dalam cangkir hatinya meluap-luap. Ia baru saja akan menanyai Hendi lagi ketika ia lihat Hendi ambruk ke kasur lapuknya kemudian mendengkur beberapa saat setelahnya.
Melihat Hendi asyik memacari mimpi, entah kenapa Ayah menjadi menguap. Bahkan rasanya sudah tak dapat tertahankan lagi. Alih-alih berjalan ke kamarnya dan tidur, Ayah berbaring di samping Hendi dan semestanya dalam gulita.

Sementara itu…

Di dalam kegelapan yang teramat gelap, sepasang mata merah bersinar terang disertai tawa yang merobek hati siapapun yang mendengarnya.

Soni memukuli Raihan tanpa ampun seperti mendapati maling jalang merasuki rumahnya. Sesekali akan muncul ramuan penyembuh dari telapak tangan Rama, dan Dinda yang tengah terisak-isak itu memusnahkan mantra yang terus-menerus lahir dari anak bungsunya itu.

“Lagi, lagi. Aku belum mati. Lagi…” kata Raihan, lirih.

Kekejaman Soni makin beringas. Ia mengambil sebuah pedang di dekat pintu gudang dan menebas leher Raihan hingga darah mengucur dari lukanya. Raihan memegangi lehernya yang penuh darah. Sesekali ia akan mengeluarkan bandang darah itu dari mulutnya. Soni menendang dada Raihan sehingga Raihan jatuh ke lantai. Saat Raihan menatap—memelas pada ayahnya, Soni meletakkan kakinya di atas perut Raihan. Rama tak sampai hati melihatnya betapa sering pun ia melakukan hal yang sama kepada kakaknya. Diam-diam ia melahirkan sekali lagi ramuan penyembuh dan melemparkannya kepada Raihan. Di luar dugaan, justru Raihan sendiri yang menangkis bantuan dari Rama itu. Dinda dan Soni yang sama-sama mengeluarkan sihir pun urung.
Raihan kembali menatap Soni, ia menggunakan sisa kekuatannya untuk menunjukan kepada Soni bahwa ia sudah tak dapat lagi menanggung segala rasa sakit yang tertumpah kepadanya. Ia pun letakkan tangan di dada, dan dalam sekejab pedang dalam genggaman Soni telah tertancap di sana sementara sebutir air mata mengalir di wajah Raihan, air mata terakhir. Raihan mati dengan mata yang bertahan seperti itu dan bayangan penderitaan anaknya itu telah membuat Soni ambruk dan menimpa dada Raihan yang juga penuh darah. Soni masih memiliki banyak mana, tapi untuk bangun dari jasad anaknya saja ia merasa sudah tak bisa sama sekali. Ia pun bertahan seperti itu dan terisak lantas menangis sejadi-jadinya diikuti oleh Dinda dan Rama.

“Kalian telah melakukan tugas dengan baik,”

Soni, Dinda dan Rama menoleh seketika, mendapati sesosok mahluk dalam balutan kabut hitam dengan sepasang mata menyala. Ketiganya pun segera memberikan penghormatan.

Sosok hitam itu berjalan mendekati ketiganya. Ia berbalik dan mendekati jasad Raihan. Ia hunus pedang tajam, menggandakannya menjadi tiga dan dalam sekejab menancap di punggung satu keluarga itu. Soni, Rama dan Soni bahkan tak tahu kapan sosok yang mereka puja melakukan hal itu.

Soni memegangi dadanya yang tertembus pedang tajam. Dari mulutnya yang terbatuk-batuk kemudian keluar darah. Ia memandang ke samping, Rama dan Dinda telah ambruk bahkan memejamkan mata.

Sebutir air mata pun membasahi wajahnya yang sahaja, “A-apa yang Anda lakukan, Yang Mulia? Bukankah kami, kami…”

Luka  Soni begitu menyiksanya. Sesungguhnya ia telah mengaktifkan mantra penyembuh, tetapi mantra yang hanya diucapkan Soni di dalam hati itu seolah tidak bekerja sama sekali.

“Itu adalah ganjaran bagi kalian karena telah membunuh pangeran dari kerajaan Cahaya, kalian…”

Pangeran Kerajaan Cahaya?

Kedua mata Soni membelalak. Ia segera memandang kepada jasad Raihan, dan ditemukannya mahkota bersinar di kepala anaknya itu. Bahkan Raja Kegelapan yang tengah berbicara pun tak didengarkannya. Ia kepalkan kedua tangan, mengumpulkan sihir sebanyak mungkin dan bersiap menyerang Raja Kegelapan yang telah membantai seluruh keluarga selain dirinya sendiri.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s