Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 7.

Gyu Young duduk di dekat jendela di restoran, ia menyukai pemandangan lalu-lalang kendaraan dan gemerlap kota dengan riuh rendahnya. Ia baru saja mempertanyakan dalam hati kapan tibanya makanan yang telah dipesannya ketika makanan itu terhidang di meja. Gyu Young terusik dengan keberadaan sepiring panekuk daging di sebelah makanan lain, ia yakin ia tak memesannya sama sekali dan keberadaan sepiring panekuk daging itu telah membuat rasa laparnya menguap.

“Hei, Yoon Ah. Apa ini?” tanya Gyu Young.
Yoon Ah, seorang wanita—kawan yang juga kenalan Gyu Young akhir-akhir ini pun duduk di depan Gyu Young, “Panekuk daging. Kau tidak tahu?” tanyanya.

Gyu Young seharusnya meluapkan kekesalannya karena panekuk daging itu membikin dirinya kehilangan nafsu makan. Tapi di depan Yoon Ah, Gyu Young seolah selalu tidak bisa melakukannya. Gyu Young mengedarkan pandangan, di ketika itu ia mesem.

Gyu Young bangkit, “Aku akan membayar semua ini. Kau, makanlah semuanya.” katanya.
“Ada apa?” tanya Yoon Ah protes, “…kau bahkan belum mendapat panggilan dari atasanmu.”

Samar-samar Gyu Young mendengar Yoon Ah menggumam seperti, ‘Padahal telah aku bawakan banyak-banyak panekuk daging untukmu’.

Aku tahu dia wanita yang baik. batin Gyu Young.

“Maaf, ya.” kata Gyu Young sembari tersenyum. Ia pun pergi meninggalkan Yoon Ah dalam kedongkolan.

***

Orang-orang akan tertidur pulas ketika mabuk. Do Ran adalah pengecualian. Apalagi ketika ia sudah meminum air beras, rasa mabuknya bisa segera lesap.

“Kak?” panggil Kyung Han sembari menyodorkan segelas air beras lagi kepada kakaknya.
Do Ran menatap adiknya, “Hmmm?” tanyanya seraya meraih gelas dan meneguk air beras itu.
“Apakah kau pikir Gyu Young itu anak yang baik?” tanya Kyung Han.
Dengan kukuh, Do Ran mengangguk, “Tentu saja. Kau pikir dia orang seperti apa?” tanyanya seraya menyodorkan gelas yang telah kosong.
Kyung Han bangkit untuk mencuci gelas itu, “Ah, tidak. Hanya saja…”
“Hanya saja?” desak Do Ran.

Pandangan matanya berbeda ketika di restoran tadi. batin Kyung Han.

“Lupakan.”
“Ah, dasar kau ini. Aneh.”

Seusai mencuci gelas, Kyung Han meraih mantel dan baru saja akan menarik pintu ketika Do Ran menanyai tujuan kepergian Kyung Han.

“Tentu saja ke rumah sakit.” jawab Kyung Han dan berlalu meninggalkan kakaknya yang mulai dihinggapi seutuhnya kesadaran.

Di pintu depan rumah sakit, Kyung Han mendapati Gyu Young memasuki rumah sakit yang sama.

“Apakah dia akan menjenguk Yeon Jae juga?”

Penasaran, Kyung Han pun mengekor pada Gyu Young. Gyu Young memang menaiki eskalator menuju lantai tiga, tetapi ia melewati kamar Yeon Jae. Bahkan, singgah sebentar atau bahkan menoleh pun tidak dilakukannya. Kyung Han pun makin penasaran.

Ketika Kyung Han melewati kelokan pada sebuah koridor yang sepi, ia kehilangan Gyu Young dan baru saja mengedarkan pandangan ketika seseorang menangkap tangannya kemudian menjatuhkannya ke lantai sementara tangan kanannya ditekuk ke belakang dan begitu kesakitan.

“Mengapa kau mengikutiku?
“Ini aku!”

Gyu Young yang tak asing dengan suara itu segera menilik wajah pembuntutnya dan segera melepaskan cengkeraman tangannya begitu mengetahui bahwa yang tengah disergapnya ialah Kyung Han.

“A-apa yang Anda lakukan?” tanya Gyu Young tergagap.

Saat Kyung Han telah bangkit, Gyu Young membungkuk-bungkukkan badannya berkali-kali sembari meminta maaf.

“Sudahlah. Ini salahku. Tapi, untuk apa kau ada di area ini?” tanya Kyung Han sembari meringis dan memegangi lengannya yang lara.

Gyu Young yang sejak tadi menunduk itu pun memandang wajah Kyung Han.

Mereka memasuki sebuah ruangan. Di atas ranjang, terdapat seorang anak kecil yang terbaring lemah.

“Siapa anak itu?” tanya Kyung Han.
Senyum di wajah Gyu Young mengembang, “Namanya Gyu Jin, dia adalah…”

Nafas Gyu Young seolah tercekat, Gyu Jin yang sudah setahun belakangan ini terdiam akhirnya dapat menggerakkan jarinya. Gyu Young tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, air matanya pun runtuh.
Gyu Young pun memencet tombol darurat pemanggil dokter. Beberapa saat kemudian seorang dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan itu. Gyu Young menjelaskan bagaimana ia melihat jari-jari Gyu Jin bergerak, sementara Kyung Han pergi meninggalkan ruangan itu dengan rasa penasaran yang masih hinggap.

Dan sambil berjalan di koridor, Kyung Han menggumam, “Siapa anak yang terbaring di ranjang itu, apakah dia adik Gyu Young? Gyu Jin, Gyu Young…”

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s