Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 10.

Dengan berjalan terseok-seok, Dinda menghampiri Soni yang tengah memandangi buah hati kecilnya sembari terus tersenyum itu.

“Tidak bisakah kita merawatnya, selamanya?” tanya Dinda, Soni seketika menoleh. “Aku hanya berpikir bahwa ia, ia sangatlah manis.”
‘Aku tahu kalau pada akhirnya kamu akan seperti ini.’ batin Soni. “Tidak bisa. Bahkan jika perlu, hidupku sendiri pun akan aku berikan kepada Raja Kegelapan. Lagi pula, dia bukan benar-benar anak kita. Dia pun terlahir untuk dimatikan. Masuklah, kamu tidak seharusnya berada di sini. Kamu butuh banyak istirahat.” Soni merangkul pundak Dinda.
Namun, Dinda mengelak. Ia baru menurut ketika Soni mengeluarkan sihirnya. “Maaf.” ucap Dinda.

Soni tidur tanpa lelap di sebelah Dinda yang tak bisa berhenti terisak. Meski begitu, tak pernah sekalipun ia berkehendak mengeluarkan sihir miliknya demi membuat Dinda diam. Dinda terus seperti itu sepanjang malam, bahkan, setelah Raihan menjadi remaja.

Soni terjaga dari tidur paling panjangnya dan samar-samar menemukan seorang yang tak asing baginya terlelap sembari memeluk lengannya. Soni pun dengan pelan menarik lengannya. Tapi, seorang yang terus menunggui Soni itu malah terusik tidurnya sehingga ia meninggalkan awan-awan mimpi.

“Anda sudah bangun?” tanyanya seraya memandangi seluruh tubuh Soni. Matanya berkaca, tapi di wajahnya tergurat seulas senyum yang ranum. Ia pun bangkit, “Apakah Anda membutuhkan sesuatu?” tanyanya, tak sudi membuat hati Soni terlalu lama menunggu.
“Hendi,” panggil Soni lirih. Sesungguhnya ia bahkan tak tahu apakah ia pantas meminta bantuan kepada seorang anak yang beberapa saat yang lalu pernah menjadi anaknya pula itu, “Rama. Dinda. Mereka…”
“Meninggal,” Hendi menunduk. Ia kemudian memandang kedua mata Soni yang teduh itu lagi, “Saya terlambat. Maafkan saya.” katanya.
Soni mesem, “Tidak apa-apa.” sesungguhnya hatinya hancur berkeping-keping. “Apakah Raihan menemuimu?” tanyanya dan mangkuk hatinya itu terisi oleh kesedihan, rasa bersalah dan penyesalan. Pangeran dari kerajaan Cahaya itu. lanjutnya dalam hati.

Hendi mengangguk, dan pertemuan itu terulang kembali di benaknya.

“Hendi, bangun. Bangunlah. Cepat, bangun.” Hendi membuka mata, didapatinya Raihan yang berpakaian serupa pangeran kerajaan menghadapnya. “Maaf, aku butuh bantuanmu lagi.”
Hendi mengucak mata, “Bantuan apa?” tanyanya seraya mengaum, sementara wajah seriusnya mulai ia tenteng. “Aku tidak mau bertukar lagi denganmu.” katanya.
Raihan terbahak, “Tentu saja tidak,” dan sejurus kemudian wajahnya malih serius, “Waktuku tidak banyak lagi, Hendi. Bahkan di dunia mimpi ini. Seseorang mungkin berniat mencelakai kekuargaku yang kini jadi keluargamu. Mereka datang dari kegelapan. Ini terdengar aneh. Ya, tapi, kau hanya perlu mendengarkannya. Kau pernah jadi aku, aku pernah menjadi engkau. Karena itu, kau memiliki separuh kekuatanku. Maaf, aku harus pergi sekarang. Ingat, engkau adalah aku.” dan Raihan bersinar, dan cahayanya memekakkan mata dan daun mimpi untuk Hendi bergulir.

Soni mengangkat tangan kirinya kemudian meletakkannya di rambut Hendi. Hendi membeku. Soni kemudian mengusap rambut Hendi yang lembut itu, ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia melakukan hal itu kepada Raihan. Ia tak berkata-kata sama swkali, tapi air matanya ruah. Dan air mata itulah yang meluapkan segala isi hati Soni.

“Tidak apa-apa.” kata Hendi. Batin Soni seolah dihujani salju pertama, tapi air matanya tak kunjung kerontang. “Semuanya sudah berlalu.” kata Hendi lagi.
“Apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Hendi. “Aku tidak melihat jasad Raihan, Pak?”
“Kau boleh memanggilku ‘Ayah’, Hendi.” tangan Soni mendarat di kepalanya yang berdenyut, “Tentang Raihan. Raja Kegelapan pasti membawanya. Kita harus merebutnya.”

Hendi mengangguk.

Tanpa sepengetahuan Hendi, Ayah mengekor padanya sejak tadi. Bahkan ia melihat bagaimana anaknya itu menggunakan sihir untuk menyembuhkan Soni dan begitu terkesiap.
Ayah yang berdiri di depan pintu itu urung. Ia berbalik dan berjalan di koridor meninggalkan rumah sakit.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s