Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 8.

Gyu Jin terangkat ke angkasa dan memekik—menangis karena sebuah lubang bersinar di langit menariknya. Yeon Jae memeganginya dan kebingungan dengan apa yang terjadi kepada anak TK itu.

“Apa yang terjadi?” teriak Yeon Jae.
“Tolong aku, Kak!”

***

Saat dokter dan para perawat keluar, Gyu Young segera menjelangi mereka.

“Apa yang terjadi, Dok? Adik saya bisa bangun lagi, kan?” tanyanya.

Setelah memberikan isyarat, para perawat pergi meninggalkan koridor sehingga dokter itu dapat dengan leluasa membicarakan perihal Gyu Jin kepada Gyu Young.

Gyu Young terduduk lemah, “Segala kemungkinan dapat terjadi. Sebagai manusia, kita hanya bisa terus berusaha dan berdoa.” kata dokter dan berlalu meninggalkan Gyu Young.
“Kenapa? Kenapa? Padahal kukira Gyu Jin bisa segera bangun dan menangkap orang itu. Sial.”

Sementara itu…

Kyung Han tersedih tiap memasuki ruangan di mana Yeon Jae dirawat. Sebutir air mata pun mengalir, dan ia segera menyekanya. Mengingat apa yang menimpa anaknya, ia menjadi kesal. Ia yakin baik dirinya maupun sang anak tidak memiliki musuh, tetapi kejadian mengerikan bahkan nyaris merenggut nyawa anaknya itu. Sungguh ia tak habis pikir.

Gyu Young tak dapat menahan lagi rasa kesalnya. Ia mendatangi ruangan Yeon Jae dan mengambil sebuah bantal di sofa dan meletakkannya beberapa jarak di atas wajah Yeon Jae. Dari kejauhan, perhatian Kyung Han terusik dengan pintu ruangan Yeon Jae yang sedikit terkuak. Karenanya ia mempercepat laju berjalannya dan berhenti sejenak untuk menilik sesiapa yang ada di dalam ruangan.

Nafasnya benar-benar tercekat, “Gyu Young? A-apa yang ia lakukan?” tanyanya.

Kyung Han menjatuhkan cup kopinya kemudian berlari menjelangi Gyu Young sembari berteriak. Gyu Young yang terkesiap itu pun menoleh. Namun, di ketika itu pula ia malah mendapatkan bogem mentah dan kepalanya terbentur meja di dekat ranjang Yeon Jae. Gyu Young merasakan kepalanya berdenyut. Ketika disentuhnya kepala yang luka itu, cairan basah menggenangi jari-jarinya. Darah.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kyung Han, masih berteriak.
Dengan pandangan mata yang kabur, Gyu Young mencoba bangkit. “Saya bisa jelaskan semuanya, Pak.” dalihnya.
Kyung Han menunjuk pintu keluar, “Pergi kamu!” teriaknya.

Sembari memegangi kepalanya yang berdarah-darah, Gyu Young berjalan terhuyung-huyung menjelangi pintu. Kyung Han mengekor kepada Gyu Young dan membanting pintu tepat ketika Gyu Young akan menutup pintu itu. Gyu Young pun tentu begitu terkesiap.

Sembari mengumpat dan berjalan, Kyung Han melipat bagian lengan kemejanya, “Anak itu sudah tidak waras. Ngomong-ngomong, kenapa udara malam ini panas sekali?” tanyanya.

Ketika Kyung Han menilik pada Yeon Jae, dahi anaknya itu ditumbuhi berpuluh-puluh keringat dan Kyung Han pun segera menyekanya dengan sapu tangan di saku celananya. Ketika menilik lebih dalam lagi, ternyata bantal tempat Yeon Jae bertumpu telah basah.

Apa yang terjadi?

Kyung Han baru sadar bahwa ac di ruangan itu mati ketika beberapa orang teknisi datang dan memperbaiki penyejuk udara tersebut seusai meminta maaf kepada Kyung Han atas ketidaknyamanan yang menimpanya dan Yeon Jae, sang pasien.

“Ah, tidak. Apa yang telah aku lakukan, Yeon Jae? Anak itu pasti membenciku.” gumam Kyung Han sembari mengganti bantal Yeon Jae yang basah.

Setelah mendapat beberapa jahitan dan perban, Gyu Young diperbolehkan pulang. Ia terkejut ketika ia dapati Kyung Han sudah berada di bangku di depan ruangan tempatnya mengencani dokter atas luka barunya.

Kyung Han bangkit, ia kemudian membungkuk, “Maafkan aku,” katanya.
“Apa yang Anda lakukan? Tolong angkat kepala Anda. Anda tidak seharusnya melakukan ini.” tanya Gyu Young yang panik itu.

Saat duduk di meja kafetaria rumah sakit, Kyung Han memainkan jari-jarinya karena resah sementara matanya sibuk memandangi Gyu Young yang tengah meracik dua buah cup kopi di ujung ruangan. Tidak butuh waktu lama, sebuah cup kopi mengepul telah terhidang di hadapan Kyung Han sementara ia dapati senyum tergurat di wajah Gyu Young yang duduk di depannya.

Kyung Han menunjuk kepala Gyu Young, “Apakah rasanya sangat sakit?” tanyanya sembari meringis.
“Sudah tidak lagi, kok.” jawab Gyu Young dengan senyum masih melekat di wajah.
“Apa yang kupikirkan tadi, bodoh.” maki Kyung Han sembari memukul kepalanya sendiri.
“Mungkinkah,” Kyung Han menatap Gyu Young yang tengah berbicara, “…Anda mencurigai saya akan mencelakai Yeon Jae?”

Kyung Han menelan ludah. Ia mengedarkan pandangan. Seorang lelaki dengan wajah lelah berjalan menaiki tanjakan jalan. Meski terlihat terlihat begitu lesu, entah kenapa Kyung Han ingin bertukar menjadi lelaki itu. Ia ingin hilang dari hadapan Gyu Young saat itu juga.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s