Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 11.

Di dermaga sebelum naik ke perahu, Hendi memakai jubah putih yang diberikan Soni sehingga ia dan ayah barunya itu mengenakan pakaian yang serupa.

“Apakah kamu yakin, Hendi? Kamu bisa saja,” Soni bahkan tak tahu bagaimana mengatakannya kepada anak sekecil Hendi, “…tewas.” dan ia mengalihkan pandangan, tak ingin menangkap—barangkali perubahan pada air muka Hendi.
Hendi tersenyum, “Saya tidak apa-apa, Ayah. Sekarang, saya punya kekuatan.” katanya dan ujug-ujug mendekap Soni erat-erat. “Kita harus kembali dengan selamat.” katanya dan melepaskan pelukan itu.

Soni memberikan isyarat, dan Hendi segera menaiki perahu disusul dengan dirinya dan kemudian perahu itu berlayar sementara ia sebentar-sebentar akam menebar sihirnya agar perahunya lesat dalam melaju.

Ayah duduk dan memeluk lututnya di pinggiran geladak. Betapapun seharusnya ia telah menyalakan mesin perahunya agar melaju menyusul, tetapi ia malah diam, malih seolah tak peduli. Dan kemudian air matanya yang tak terhingga itu membasahi geladak. “Dia bahkan tak pernah sering memelukku. Siapa lelaki tampan itu? Ayah? Ah, ini konyol. Bagaimana bisa seseorang memiliki dua orang ayah?” Ayah menyeka air matanya. Laut bisu, adalah laut yang tak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaannya. “Aku bahkan tak tahu apakah aku harus menyusulnya atau pergi melaut sendiri saja.” katanya sesekali menoleh ke arah perahu yang nyaris mencium cakrawala itu.

Soni menghentikan perahunya, ia kemudian mengarahkan tongkat sihirnya ke depan. Sesaat kemudian, muncullah portal hitam dari bawah laut. Perahu kembali dilajukan Soni, dan mereka pun mulai memasuki kerajaan Kegelapan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di hadapan raja Kegelapan sejak kerajaan itu runtuh seusai diserang tentara dari kerajaan Cahaya. Yang tersisa hanya sang raja. Kini, ia merenggut sang pangeran Cahaya dan menang telak betapapun kerajaan Cahaya tak disentuhnya sama sekali.

Baru beberapa saat saja sampai di kerajaan Kegelapan, Soni sudah mengeluhkan sakit pada kepalanya.

Setelah membukanya, Hendi menangkupkan telapak tangannya dan dari sana muncul mantra penyembuh. Soni menolak mantra itu dan meyakinkan kepada Hendi bahwasanya mantra yang diciptakannya tidaklah berguna untuk serangan atas ingatan masa lalunya yang hidup sebagai salah satu anggota orang penting yang hidup di kerajaan Cahaya.

“Apakah ingatanmu sudah kembali?” dan raja Kegelapan yang duduk di singgasana itu terbahak. “Oh, tidak. Pasti hatimu sangat sakit saat ini.” katanya dan ia bangkit.
Soni mengepalkan tangan, “Hati-hati, Hendi. Aku punya firasat buruk. Barangkali dia merencanakan sesuatu yang tak pernah kita duga sebelumnya.” gumamnya, “Aku akan…”
Dan sebuah pedang menancap di perut Soni, ia pun terbatuk-batuk dan saban batuknya mengeluarkan darah. Dan tangan Hendi yang bergetar itu mulai menggenggam tangan Soni. “A-apa yang harus saya lakukan?” tanya Hendi, “Mantra penyembuh?”

Tanpa menunggu jawaban Soni, Hendi menciptakan mantra penyembuh dan menuangkannya di luka Soni seusai ia beranikan diri mencabut pedang di perut Soni dan membuat ayahnya itu memekik kesakitan dan mencengkeram tangan Hendi erat-erat. Tangan Hendi bahkan berdarah karenanya.

“Apakah ini berhasil?” tanya Hendi lagi seraya terisak. “Apakah berhasil, Ayah?” ulangnya sembari menyeka bandang mata.
Soni menggeleng pelan. Dan demi tak membuat Hendi tersedih, ia pun mesem. “Aku masih bisa bertarung, kok.” katanya. Ia pun bangkit. Tapi sebuah pedang kembali melesat, kali ini targetnya adalah Hendi. Soni mendekap Hendi, dan ketika pedang itu telah mulai kembali berhasil menembus perutnya, ia dorong Hendi dan tersuruk ke tanah. “Maaf, Hendi.” dan mesem. Dan mesemnya itu segera hilang dari wajahnya yang membiru dan sangat pucat. Soni pun ambruk.

Hendi menjelangi Soni dan sebuah pedang meluncur lagi, kali ini bahkan raja Kegelapan yang hanya dengan santai menuruni tangga itu yakin bahwa pedang yang baru diluncurkannya itu akan sampai di perut Hendi. Tapi kemudian dugaannya itu terbakar. Hendi memejamkan mata dan mulai meraba rasa sakitnya, tapi rasa sakit itu tak pernah lahir. Ia membuka mata dan menemukan seseorang tertusuk pedang raja Kegelapan menggantikan dirinya. Orang yang sangat ia kenal, sama sekali tak asing. Ayah, yang juga mesem kepadanya bahkan setelah tanggungan lukanya.

Hendi terbengong-bengong, nafasnya dan detak jantungnya turun ke jari kaki. Hanya bandang air matanya yang terus mengalir.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s