Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 9.

Malam melepas layar. Yeon Jae sesekali akan menyeka peluh yang berpuluh-puluh itu dan memandang ke bawah—kepada Gyu Jin yang lemah terduduk di dekat pagar.

“Sepertinya waktuku tidak banyak lagi, Kak.” kata Gyu Jin. “Aku akan meninggalkan kota ini.” lanjutnya.
“Kau akan kembali hidup?” Gyu Jin mengangguk dan mesem. Sementara itu Yeon Jae duduk di dekat Gyu Jin, “Syukurlah kalau begitu, pasti kakakmu akan sangat senang.” katanya.

***

Sembari memainkan jari-jarinya, Kyung Han pun menjawab. “Dengar, Gyu Young…” kata-kata dalam benaknya memudar, “Aku…” dan ia tak dapat lagi bicara.
“Saya tahu. Tidak apa-apa. Saya hidup seorang diri tanpa orang tua, wajar rasanya jika orang-orang berpikir bahwa saya adalah orang yang buruk.” dan Gyu Young menyeruput kopinya, “Liar, dan hal-hal semacam itu.” ia mengalihkan pandangan untuk menunjukan air mukanya yang memerah tetapi membeku.

Kyung Han bahkan belum menyentuh cup kopinya. Ia bangkit dan pamit kepada Gyu Young dan berencana akan segera menghilang ketika di parkiran itu, Gyu Young mencegahnya kemudian dengan takzim meminta sebuah tumpangan dan tentu ayah Yeon Jae yang dibebani rasa bersalah dalam jantung hati itupun tak dapat menolaknya.

***

Yeon Jae memegangi tangan Gyu Jin. Terlebih-lebih ketika didapatinya langkah kaki yang memburu, dan ketika Yeon Jae menilik ke tangga, polisi-polisi api tengah menuju ke atap gedung—ke keberadaan ia dan Gyu Jin. Yeon Jae menolak mentah-mentah saran Gyu Jin untuk terjun ke atap Omega. Ia bahkan sempat akan menguji kekuatannya dengan melawan para polisi api. Hingga Gyu Jin mengatakan bahwa usaha itu percuma. Polisi api lebih berbahaya dari luka yang akan didapatkan mereka karena terjun dari atap gedung menuju atap gedung lainnya.

Gyu Jin menoleh, “Ayo lakukan!” ajaknya. “Luka itu nanti akan sembuh.” katanya lagi, meyakinkan.

Dada Yeon Jae berdesir lagi, sementara derap langkah bersiap menyergapnya. Ia memejamkan mata, menaruh Gyu Jin dalam gendongannya dan tentu Gyu Jin menolak. Ia pun berkata:

“Setidaknya salah satu dari kita tak boleh terluka.”
Yeon Jae memejamkan mata sekali lagi. Ia baru saja membuka mata ketika polisi-polisi api sampai, menodongkan senapan yang juga berlapis api. “Aku akan melakukannya, Gyu Jin.” katanya.

Saat pistol meluncur, Yeon Jae dan Gyu Jin melesat menuju kehancuran dan memekik dan pekikan mereka merobek perut malam.

***

Kyung Han keluar dari mobil segera setelah ia melihat Gyu Young terjatuh ketika berjalan menuju rumahnya. Ia memapahnya. Tetapi, sebuah tangan tetiba memukul tengkuk Kyung Han begitu kerasnya dan ia pun ambruk seketika.

Ketika terbangun, ia dapati sebuah ruangan bercat hitam dan dinding-dindingnya menampilkan potret-potret diri anaknya, Yeon Jae, yang telah dicabik-cabik.

Sembari memegangi tengkuknya, Kyung Han bertanya, “Apa-apaan ini?” ia pun kemudian bangkit. “Semuanya… Foto Yeon Jae?” tanyanya lagi.

Kemudian ia dapati beberapa foto seorang anak kecil, wajahnya sangat mirip dengan Gyu Young. Hanya foto itulah yang utuh. Lalu foto Il Do Ran yang membuat nafas dan jantungnya tercekat—yang juga tercabik.

“S-siapa sebenarnya Gyu Young itu?”

Kemudian pintu terbuka. Kyung Han terkesiap dan mundur ke belakang. Sementara itu, Gyu Young yang membawakan menu sarapan untuk ayah Yeon Jae itu hanya mesem.

“Nasi goreng dan air putih. Maaf, saya hanya punya ini.” senyum Gyu Young masih bertahan di langit wajahnya, “Saya harap Anda menyukainya.” katanya lagi dan berlalu.

Sementara itu dada Kyung Han berdesir-desir. Banyak kata yang tersekat dalam hatinya, bibirnya pun beku. Ketika Kyung Han meraih gelas dan sedia meminumnya, sebuah tongkat melaju menuju kepalanya dan mendarat di keningnya. Semestanya pun dihinggapi keheningan. Entah kenapa, ia mengingat hal yang dilakukannya kepada Gyu Young di ruangan Yeon Jae, sebungkah penyesalan pun berlabuh di hatinya sebelum kesadaran hilang dari raganya dan kembali mengencani peraduan dalam linangan darah yang tak habis-habis.

***

Kedua kaki Yeon Jae patah, namun, justru Gyu Young yang menangis dan terus memegangi dan memukul dadanya. “A-ada apa?” tanya Yeon Jae terbata dan merintih menahan sakitnya. Dan sambil menilik kaki-kakinya ia menggumam, “Padahal kakiku yang terluka.” katanya.
“Gyu Young… Gyu Young… Gyu Young…”

Yeon Jae terkesiap. Mengapa tiba-tiba nama sahabatnya itu terus disebut-sebut oleh Gyu Jin?

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s