Diposkan pada Cerbung, Novel

To My Youth : 12. (The Last)

“A-ayah, apa yang ayah lakukan… Di sini?” Hendi bangkit dan menangkap tubuh Ayah yang nyaris ambruk itu.
Ayah melukis lekuk senyumnya dengan payah, “Aku mendengar kamu memanggil ‘Ayah’ kepada seseorang, sedangkan hanya aku ayahmu. Aku memutuskan untuk mengikutimu…” bandang darah mengaliri mulut Ayah, “Hendi, kenapa ini rasanya sangat panas?” tanyanya dan memegangi luka di perutnya yang menganga.

Hendi menciptakan mantera penyembuh, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Ia pun menuangkannya di luka Ayah. Namun, melihat wajah dan tubuh Soni makin pucat, ia pun mengerti bahwa mantra itu tidaklah berfungsi di kerajaan ini. Hendi tertunduk dan tak henti-hentinya menumpahkan air mata. Kedua orang yang disayanginya terluka sementara ia belum sama sekali bisa menggunakan sihir yang Raihan titipkan.

Apa yang harus aku lakukan?

Sebuah portal muncul kemudian. Hendi memejamkan mata karena portal yang muncul itu begitu menyilaukan matanya. Seseorang yang memakai pakaian seperti anggota kerajaan menoleh dan tersenyum kepada Hendi seolah berkata bahwa ‘semua akan baik-baik saja’.

“Raja Cahaya!” maki Raja Kegelapan.

Hati Hendi terdabik. Sementara wajah Raja Kegelapan segera merah menyala, ia mengeluarkan pedang dan seketika itu jua melesatkannya ke arah Raja Cahaya. Namun dengan tangkas Raja Cahaya menampiknya dan pedang itu menghantam tanah kemudian meledak.

“Apa yang harus saya lakukan kepada Ayah-ayah saya, Raja? Mantra penyembuh milik Pangeran Raihan ini tidak berfungsi sama sekali. Apa yang harus saya lakukan?” Hendi mendongak.
Sembari terus mengelak serangan-serangan Raja Kegelapan, Raja Cahaya menoleh, ia terbengong beberapa saat sebelum akhirnya mulai membuka mulut. “Pengorbanan, Nak. Seseorang harus berkorban untuk menghidupkan seorang lainnya. Sebelum itu, aku harus mengalahkan orang ini terlebih dahulu.” dan Raja Cahaya yang seolah hendak meledakkan perang Raja Kegelapan mengembalikan pedang itu dua kali lebih cepat dan menusuk dada Raja Kegelapan dan Raja Kegelapan tersungkur ke belakang.

Apakah aku telah mati? batin Raja Kegelapan.

Dan dunia yang dipandangi Raja Kegelapan mulai dihinggapi gulita dan dingin yang membekukan serupa kesepian.

“Pada dasarnya ia tak lebih kuat dariku.” gumam Raja Cahaya.
“Raja!” teriak Hendi, “Tolonglah Ayah saya!!!”
“Ayah yang mana?” Raja Cahaya menghampiri Hendi, “Apakah kau sudah putuskan?” Raja Cahaya kemudian menoleh kepada Soni, dan sebutir air mata mengaliri wajahnya.
“Ada apa, Raja? Kenapa kau menangis?” tanya Soni dengan begitu lirihnya, “Jangan membuang air mata untuk penjahat seperti diriku ini.”
Raja Cahaya menyeka air matanya, “Biar bagaimanapun, kau tetaplah adik yang kusayangi.” Raja Cahaya menilik Hendi lagi, “Hei, Nak, bagaimana? Siapa yang akan kau selamatkan?”

***

Hendi memandang ke arah matahari terbit di ujung laut di dekat rumahnya. Ia duduk di pasir pantai, membiarkan ombak menyapu tungkai-tungkainya yang lemas. Tetiba hatinya berselimut kerinduan.
Hendi melirik sedikit ketika didengarnya langkah kaki dari jalan berbatu sebelum menapaki altar pantai. Meski begitu ia tak ingin menoleh sama sekali. Kedatangan orang ini barangkali tidak tepat sama sekali di waktu ini.

Orang itu duduk di sebelah Hendi, “Jika kamu merasa di sini begitu berat, kita bisa pindah.” ia menoleh, “Kita bisa ke kota lain, kita mulai hidup yang baru.” dan ia tak bisa memandangi matahari pagi, itu mengingatkannya kepada muasalnya.
Hendi tersenyum walau masam, “Bukankah di tempat ini banyak cahaya? Anda pasti begitu tersiksa.” giliran ia yang menoleh, “Saya sudah putuskan, kita akan pindah.” dan ia menyeka air matanya.

Orang itu merangkul pundak Hendi, di antara sinaran mentari yang baru lahir, mereka tak ubahnya seperti sepasang sahabat.

“Ngomong-ngomong, jangan panggil Ayah ‘Anda’, kamu membuat Ayah seperti orang asing.”
“Tapi Pak Soni,” Hendi terdiam sesaat, “…maksud saya Ayah, saya…”
Soni bangkit, “Sarapanmu sudah siap. Berangkatlah ke sekolah dan katakan semua pada kawan-kawanmu, betapa sulit pun itu.” katanya.
Hendi pun urung dan malih mesem, ia kemudian bangkit. “Terima kasih.” ucapnya.

Soni berjalan terlebih dahulu, ada begitu banyak pekerjaan rumah yang menantinya untuk dikencani. Selain itu, ia pun harus bersiap untuk pergi bekerja. Di ketika itulah Hendi menggenggam tangan ayahnya erat-erat, seolah ingin memperlambat waktu. Soni menepikan kesibukan hari Senin di kepalanya untuk berjalan perlahan menuju rumah. Tersinari oleh matahari yang mulai meninggi, siluet mereka berdampingan melukis hari.

Tamat

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s