Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : Bagian 1.

Bagian 1.

Kau pergi meninggalkan barak dan menolak semua tawaran kawan-kawanmu tak terkecuali tawaran untuk singgah sejenak barang melepas lelah di kedai panekuk daging yang juga menjual soju dan mie kacang hitam. Tak sabar rasanya ingin segera pulang ke rumah—mengecupi anak semata wayang sementara punggung tangan dan seluruh pipi yang berhias peluh dikecupi oleh anak itu sampai habis secuil ketampanan pada wajah garangmu. Ketika kau pulang, seragam seperti di tumbuhi perekat dan sang anak menempel di sana sepanjang hari. Ia tak pernah melepaskan dekapan tereratnya itu hanya karena berpikir bahwa ayahnya mungkin mendapat panggilan mendadak dan pergi ke belakang rumah dan berhormat-hormat kepada rerumputan di sana dan pergi secara diam-diam seperti saat-saat yang telah lalu.

“Ayah hanya pergi sebentar. Begini, ayah janji, ayah akan membelikan kamu kue beras saat ayah pulang nanti.” dan kau pun mesem, sementara anak naif itu mengangguk, membalas senyumanmu dan merelakanmu pergi sekali lagi dan rindu yang baru sesaat tandas menggali liangnya kembali.

Tak banyak yang ingin kau lakukan saat telah sampai di rumah nanti, kau hanya ingin menghabiskan waktu bersama buah hatimu dan mendengar ia bercerita tentang bagaimana ia menjalani hari-harinya tanpa keberadaan dirimu di sisinya. Bahkan jika tak diminta oleh belahan jiwamu, sedikit bercinta pun tak bakal kau lakukan.
Menuju halte, kau musti berjalan menuruni bukit dan mendapati diri telah kuyup oleh keringat begitu telah sampai tujuan. Sesekali terbit ide untuk memesan taksi. Tetapi karena jarang menggunakan ponsel saat bertugas, benda satu itu pun jarang digunakan. Paling banter kau menghubungi sang istri untuk membuatkanmu sup rumput laut sebab kau bakal pulang dan jika rindu dalam hatimu telah membanjir, kau sempatkan pula menyapa anakmu itu.
Kau telah sampai di halte. Orang-orang ini duduk memenuhi seluruh bangku dan kau mau tak mau musti menunggu kedatangan bus sembari berdiri. Kemudian kau lihat orang-orang yang tak mendapatkan tempat duduk itu beralih ke bangku-bangku taman yang terletak persis di belakang halte. Saat kau buka dua kancing seragam paling atas karena kepalakan, seorang lelaki paruh baya duduk di sebelahmu membuka botol cola dan menyodorkannya kepadamu. Awalnya kau menolak. Kau bahkan menaruh curiga kepada orang satu ini. Namun karena tak dapat berbohong kepada diri sendiri pun tak memiliki bekal sendiri, kau pun menerima tawaran itu dan meneguk cola itu sampai tinggal buih-buih kesunyian. Kau bahkan tak bertanya terlebih dahulu kepada lelaki baik di sebelahmu itu apakah kau boleh menghabiskannya atau tidak. Dan lelaki paruh baya itu cuma mesem dan kau membalasnya dengan mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri:

“Nama saya…” kau sedikit menoleh ke arah atas saku kananmu di mana namamu terbordir indah di sana sedang lelaki paruh baya itu mengangguk mafhum. “Saya adalah seorang…”
“Serdadu, bukan?” sergah lelaki paruh baya.
Kau tetap mengangguk meski terkesiap dengan betapa seperti tak jodohnya antara wajah lelaki paruh baya ini dengan suara yang keluar dari mulut sangar—yang begitu lemah lembut itu.
“Saya seorang koboi, Tuan!” serunya dengan antusias, orang-orang bahkan menjadi memandang ke arah kau dengannya duduk kini. “Di Amerika, saya adalah pengembala sapi yang menaiki kuda.” terangnya meski sedikit yakin bahwa kau pasti telah mengetahui ihwal ini.
Kau menoleh ke arah lelaki ini dan baru saja akan meluapkan tawa sembari berkata, “Dan kita saat ini tidak sedang berada di Amerika…” lalu kau berhenti begitu saja. Baru setelah kau sadar perihal penerangan sejurus lalu, kau telan ludah yang seperti batu-batu kerikil itu telah menyesaki dadamu dengan goresan luka.

Perkenalan ini menjadi kebekuan. Kau semustinya tak perlu sampai sejauh ini. Demi menghilangkan debar jantung dan rasa tak enak dalam hati, kau putuskan untuk menyemburkan tawa hanya karena berpikir bahwa lelaki satu ini tengah berkomedi.
Segera mungkin, bus menuju kotamu lahir di halte. Kau bangkit dari bangku taman dan baru saja bermaksud akan pamit dan berterima kasih atas cola yang lelaki paruh baya ini berikan ketika lelaki paruh baya ini dengan tangan kuatnya mencengkeram lenganmu yang menahan pergerakanmu.

Dan bibirnya tersenyum tetapi juga kau lihat mengerot, “Selangkah saja Anda pergi dari bangku ini, Tuan, khalayak yang bahagia ini akan saya musnahkan.” katanya dan ia menarik lenganmu dan kau terduduk kembali di bangku. “Lihatlah ke bawah bangku ini!” perintahnya.

Orang gila! makimu dalam hati.

Kau semustinya menampik tangan lelaki ini dan berlari saja menuju bus yang mulai dirasuki penumpang. Namun kau malah mematuhi kata lelaki ini dan kau dapati sebuah gundukan tertempel di sana dan sebuah lampu merah menyala berkedip-kedip. Kau lupa caranya bernafas. Dadamu sesak kembali dan detak jantung yang semustinya memburu itu malah tak hidup sama sekali.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s