Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 11.

Kedua mata Kyung Han membelalak sama halnya Do Ran sesaat setelah dihunuskannya pisau tajam itu dari perutnya dan terhuyung-huyung ia sebelum bersandar di tembok dan ambruk saat itu juga. Tidak banyak yang Do Ran ingat sebelum luka berdarah-darah pun gulita, ia hanya melihat Kyung Han yang terus menangis itu berteriak kepadanya—memaki dan bersumpah akan menghajarnya jika tak terus terjaga dan malah memejamkan mata, ia bahkan baru kali pertama ini melihat sang adik bersikap demikian. Polisi-polisi mulai berdatangan. Dan karena berusaha kabur, Gyu Young mendapat sebuah tembakan dan langkahnya menjadi lumpuh sementara ia memekik karena samua rencana yang tercerai-berai.

***

Gyu Jin membantu Yeon Jae yang lebih besar pun tinggi berkali lipat darinya itu menuju meja komputer. Ia mendudukan Yeon Jae di sana sementara ia berdiri dan memberikan arahan dan terus berkata bahwa waktunya tidak lagi banyak.

“Permainan Maling dan Polisi ini sendiri sangatlah mudah. Kau hanya perlu menangkap seberapa banyak Maling yang telah ditetapkan pada tiap levelnya. Yang sulit di sini adalah…”
Dan Gyu Jin terdiam sejenak karena Yeon Jae menyelanya, “Menuju ke tempat ini, bukan?” tanyanya, kemudian ia nyalakan komputer tetapi karena menunggu jawaban Gyu Jin, ia pun berhenti memencet klik-klik mouse.
Gyu Jin mengangguk, “Kau benar. Namun, ada satu hal lagi yang musti kau ketahui.” ujarnya.
Kali ini Yeon Jae menoleh, “Waktu di dalam Omega ini dilipatgandakan. Jadi, kau harus segera memainkannya.” dan Gyu Jin memencet tombol mouse itu dan segera mungkin permainan pun dimulai.
Dan dengan wajah mbesengut Yeon Jae protes, “Harusnya kau bilang dari tadi, Gyu Jin!” katanya, ketus.

Sementara Yeon Jae memainkan permainan Maling dan Polisi, Gyu Jin duduk di bangku panjang di belakang Yeon Jae dan memegangi dada. Dan karena kegaduhan permainan yang dimainkan seluruh orang di dalam tempat ini, Yeon Jae pun tak tahu sama sekali bahwa persis di belakangnya Gyu Jin tengah memekik kesakitan dan memegangi dadanya yang lara.

Tidak, jangan sekarang. Aku mohon. Biarkanlah dia menyelesaikan permainan. batinnya.

***

Polisi-polisi ini kemudian berpencar. Seorang polisi menelpon ambulance untuk Do Ran, seseorang lagi melepaskan ikatan yang mengungkung Kyung Han dan seorang lagi memborgol tangan Gyu Young.

Di dalam ketidaksadarannya, Do Ran terus menggumam, “Yeon Jae, Yeon Jae…”

Sementara itu, Kyung Han tak henti-hentinya menghujani tubuh sang kakak yang jatuh di pelukannya itu dengan air mata. Dan seperti tertembak hatinya, Gyu Young pun turut menangis. Diingatnya sang adik yang terbaring tak berdaya di ruangan khusus di rumah sakit itu—diingatnya dendam-dendam kepada orang-orang yang menjatuhkannya kini.

***

Seorang polisi berjalan menuju koridor rumah sakit dan berhenti tepat di depan ruangan Yeon Jae serta membikin dua orang polisi yang telah berjaga di sana berhormat-hormat kepada dirinya dan ia mempersilakan mereka untuk menurunkan hormatnya. Ia baru saja menepuk pundak kedua polisi ini dan mempersilakan mereka untuk pergi—beristirahat ketika sebuah telepon lahir di ponselnya.

“Sung Hwan, Jenderal terluka parah. Saat ini beliau sedang dalam perjalanan ke rumah sakit pusat. Apakah engkau bisa ke sana?” tanya orang di dalam telepon itu. Polisi bernama Sung Hwan itu pun terbengong-bengong, sesaat kemudian ia menoleh, “Hei! Bagaimana?” tanya orang itu lagi.
“Saat ini aku sedang di rumah sakit lain, aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Aku sedang berjaga di depan ruangan Yeon Jae, salah satu anak didikku.” jelasnya. “Bagaimana dengan petugas Kyung Han?” tanya Sung Hwan.
“Justru itu,” entah kenapa dada Sung Hwan jadi berdebar-debar, “…Jenderal datang untuk menyelamatkan petugas Kyung Han yang diculik, karena itulah mereka sama-sama terluka.” tuturnya.
“A-apa?” teriaknya, tak percaya. Dan sadar ia berada di lorong rumah sakit, ia pun menutup mulutnya dan membungkuk kepada sesiapa yang segera mungkin menoleh ke arahnya dan memandangnya sinis. “Baiklah. Aku mengerti. Pastikan mereka segera mendapat perawatan. Aku harus menutup telepon ini.” dan karena begitu jengah, Sung Hwan pun setelah menutup teleponnya masuk ke dalam ruangan.

Ia duduk di kursi di dekat ranjang Yeon Jae. Perasaan hatinya tak karuan. Jenderal yang merupakan idolanya di kepolisian telah jatuh bahkan bersama dengan sahabat baiknya, Kyung Han. Pada saat yang bersamaan, Sung Hwan mendapati jari Yeon Jae bergerak. Perasaan hatinya pun makin tak karuan. Ia bangkit, sekonyong-konyong memencet tombol pemanggil dokter dan duduk dengan risau sembari mengganggam tangan Yeon Jae dan mengajak anak didiknya itu berbicara.

(ini adalah dua bagian terakhir dari cerbung ini)

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s