Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 10. (dipost ulang karena terhapus)

Atmosfer menjadi beku, sama halnya luka yang Yeon Jae derita. Gyu Jin terkesiap ketika Yeon Jae ujug-ujug mencengkeram lengannya erat.

Gyu Jin memandang wajah Yeon Jae, “A-ada apa, Kak?” tanyanya.
Pandangan mata Yeon Jae dihinggapi kekosongan, “Bagaimana kau bisa mengenal Gyu Young?” tanyanya kembali. “Siapa kau… Gyu Jin?”

Gyu Jin belum sepatah kata pun berbicara, namun pertanyaan dalam hati Yeon Jae telah menemukan muaranya.
Yeon Jae merasakan detak jantungnya lesap. Pantas saja ia tak pernah merasa asing dengan anak di depannya ini. Tetiba hatinya dibernasi kerinduan, ia pun menumpahkan bandang matanya.

“Kenapa kau menangis? Apa lukamu terasa begitu menyakitkan? Ah, tentu saja. Apa yang aku pikirkan?” tanya Gyu Jin sembari menyeka air matanya, “Tenanglah, sabar. Sesampainya di Omega nanti, aku akan mengobatimu.

Yeon Jae mengangguk, ia kemudian menyeka air matanya lagi walau selalu lahir dan lahir kembali.

“Dia pasti telah melakukan kejahatan.” gumam Gyu Jin sembari berjalan ke arah pintu di puncak Omega. “Dia telah berubah menjadi monster.”

Yeon Jae menoleh sesaat. Ia tak tahu apa yang Gyu Jin bicarakan, ia hanya begitu bahagia karena menemukan adik Gyu Young di tempat seperti ini.

***

Kepalanya yang terluka tertunduk, darah menetes dari ujung ketidakberdayaannya. Saat Gyu Young membuka pintu dan dengan kehati-hatian menjelangi, ia bangun, mengangkat kepalanya yang berasa pening dan menemukan samar-samar Gyu Young menenteng sebuah pisau nan tajam.

“A-apa yang akan kau lakukan, Gyu Young?” tanya Kyung Han tergagap, “Ini tak akan menyelesaikan masalahmu.”
“Bukankah Anda begitu penasaran, ayah Yeon Jae?” Gyu Young memegangi dagu dan mengangkat wajah Kyung Han sehingga ia dapat melihat dengan leluasa ketakutan pada wajah ayah kawannya itu. “Sayangnya, saya tidak suka seseorang tahu banyak tentang diri saya. Orang yang tahu banyak hal tentang saya itu, harus dimusnahkan.”

Gyu Young tertawa, dan wajah jahat dalam tawanya membikin Kyung Han makin bergidik. Terlebih ketika Gyu Young mengayunkan pisaunya kekiri-kanan.

“T-tunggu dulu, Gyu Young!” kursi yang Kyung Han duduki berdecit karena ia mundur beberapa langkah, “Tapi kau kan, seorang polisi!!!”
Gyu Young memegangi pundak Kyung Han, “Anda tahu,” di dahi Kyung Han kini tumbuh berpuluh-puluh peluh, “…karena seragam inilah, saya dapat melakukan kejahatan tanpa diketahui oleh siapapun.”

Kyung Han menelan ludah, dan rasanya seperti menelan batu-batu nestapa. Ia pun segera memejamkan mata seusai Gyu Young mengangkat pisaunya ke langit. Ia telah merasakan sakit bahkan sebelum pisau itu tertancap di tubuhnya.

***

Berlatar belakang suara ketikan keyboard dan klik-klik mouse, Gyu Jin bersorak di dalam hatinya ketika ia mendapati kotak obat di dalam Omega.  Ia segera membaringkan Yeon Jae di sofa di antara komputer-komputer yang terus menyala dan orang-orang yang sibuk memainkan permainan Maling dan Polisi agar dapat kembali hidup ke dunia manusia.

“Gyu Jin?” panggil Yeon Jae. “Ah, tolong pelan-pelan.” protes Yeon Jae karena Gyu Jin menekan lukanya cukup keras.
“Ada apa?” tanya Gyu Jin sembari mengobati luka Yeon Jae sementara dahinya berkerut. “Ah, iya. Kau tahu kan, kalau waktu terus berjalan, sementara keadaan kita di dunia sudah tak pernah baik-baik saja?”
Yeon Jae mengangguk, “Lantas?” tanyanya. Ia bangkit dan menyelonjorkan kakinya.
“Kita mungkin tiba-tiba mengehentikan permainan ini, kita mungkin…”

Ketika Gyu Jin tengah menjelaskan ihwal permainan ini, seorang pemain ambruk ke lantai. Gyu Jin, Yeon Jae dan seluruh orang di dalam Omega pun menoleh. Seaat setelah setelahnya, tubuh orang itu terurai.

Gyu Jin menelan ludah dan melanjutkan kata-katanya yang sempat tertahan, “Mati.” katanya.

***

Terdengar langkah memburu. Kyung Han terjaga dan menemukan pintu ruangan yang mengungkungnya terbuka dan ia saksikan Gyu Young menoleh tepat ketika kaki Do Ran menapaki wajah Gyu Young.

Kyung Han mesem, “Do Ran! Kakak!” teriaknya. “Kenapa kau lama sekali?” protesnya dan senyumnya lesap berganti wajah nan mbesengut.
Do Ran mengusap-usap rambutnya yang sesungguhnya tak gatal, “Maaf ya, Kyung Han.” katanya.

Tanpa sepengetahuan keduanya, Gyu Young yang terkapar di lantai itu meraih pisau kemudian segera bangkit dan menjelangi Do Ran. Mulut dan mata Kyung Han menganga. Cukup mafhum dengan yang adiknya lihat, Do Ran menoleh namun ujung pisau yang begitu tajam pun mengkilat telah berada terlalu dekat dengan dadanya.

“Rasakan ini!”

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s