Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 2.

Bagian: 2.

Seluruh tubuhmu kerasukan gementar. Kau duduk, menangkupkan telapak tangan ke wajah kemudian mengacak-acak rambutmu yang semula rapi. Kau menoleh, lelaki ini masih mesem saja. Sesekali tanganmu bakal mengepal, lelaki ini tetap tersenyum dan kepalan tanganmu mengendur begitu saja.

Kau mulai mengatur nafas, “Apa yang Anda inginkan dari saya? Uang? Saya punya. Tidak banyak memang, tapi semoga ini cukup.” dan kau keluarkan dompetmu lalu menyerahkannya begitu saja tanpa berpikir untuk mengambil kartu-kartu berharga seperti tanda penduduk dan ketentaraan. “Lihatlah!”
Lelaki ini menggeleng pelan, dan senyum yang bertahan menggantung itu membikin engkau naik pitam. “Saya tidak butuh uang.” katanya sembari memberikan dompetmu, “Saya butuh Anda untuk bermain.” katanya lagi.
“Bermain?” dahimu berkerut, “Saya harus pulang, Pak. Saya tidak punya banyak waktu setelah…”
Sergahnya membuatmu terbengong-bengong, “Bekerja tiga minggu berturut-turut tanpa libur. Anda mengunjungi perbatasan, menolong orang-orang asing hanya karena diperintah. Jika sedang beruntung, Anda akan meniduri gadis-gadis perbatasan yang malang itu dan mereka menurut hanya karena tetua desa atau betapa Anda dan kawan-kawan Anda sekalian menjelaskan bahwa hal itu bagian dari membalas budi yang realitanya Anda hanya mencari kepuasan dan masa depan perempuan-perempuan ini modar. Mereka bunting tanpa suami. Sebagian kecil perempuan-perempuan ini memilih menjadi pembunuh, dan yang mereka bunuh adalah buah hati mereka sendiri. Sebagian banyak memilih untuk merawat anak-anak mereka tanpa ayah dan hidup seperti itu seterusnya karena setelah ironi ini, tidak ada yang sudi mempersunting mereka. Babi jalang!” makinya dan seperti dirasuki malaikat, lelaki ini mesem kembali, “Apakah Anda memiliki istri? Seorang anak?” tanyanya.
Kesal, kau daratkan pukulan di wajah lelaki ini dan mengundang perhatian orang-orang lagi dan kau pun bangkit, “Saya punya istri? Anak? Kenapa? Apa masalahnya dengan Anda? Saya dan kawan-kawan saya bukanlah orang-orang yang Anda gambarkan, kami orang-orang yang bersih.” makimu. “Saya akan pulang. Saya tidak peduli lagi dengan Anda, apapun.” kemudian dengan memalingkan wajah, kau menggumam, “Saya tidak bisa bermain.”

Ketika kau mulai melangkah, sebuah cahaya yang lebih terang dari matahari pagi memekakkan matamu dari samping. Kau baru saja menoleh ketika cahaya itu melahirkan bunyi yang maha dahsyat dan melemparkan sebuah bangku berikut potongan tubuh orang yang duduk di bangku itu dan tungkai-tungkaimu lemah dan kau segera ambruk.

Lelaki paruh baya ini tahu-tahu sudah berjongkok di sampingmu dan mendekatkan mulutnya ke telingamu, “Bagaimana, Tuan? Apakah yang barusan menjawab rasa penasaran Anda?” tanyanya kemudian ia seka darah yang mengalir dari ujung bibirnya yang sedikit sobek itu, “Inilah akibatnya jika Anda memukul wajah seorang pribumi.” terangnya.

Sama seperti engkau, seorang anak lelaki ambruk ke tanah seusai dilihatnya ayah dan ibu kini tubuhnya termutilasi. Air mata itu mengalir tanpa izin. Perasaan bersalah mulai hinggap di hatimu dan penyesalan mengetuk-ngetuk punggungmu yang lebih dahulu dihinggapi lelah karena bertugas tiga minggu terakhir ini.
Ketika kau hanyut akan lautan air mata dan pemikiran-pemikiran tentang penyesalanmu sendiri, lelaki paruh baya ini menyerahkan sebuah pengontrol berikut sebuah pisau yang entah untuk apa dan kau menerimanya meski kebingungan.

Kau memandang wajah lelaki ini yang lagi-lagi masih bersemi, “Kita akan memulai permainan ini, Tuan. Berpura-puralah menjadi orang jahat dan menawan saya. Gunakan pengontrol ini agar Anda, sepenuhnya terlihat seperti seorang koboi.” jelasnya, “Jangan biarkan orang-orang ini keluar dari taman. Jika ada yang keluar, saya pastikan seseorang lainnya akan meledak jua.” katanya.

Ragu, kau mencoba bangkit meski kesusahan. Kau mendekati lelaki yang memunggungimu kini dan melingkarkan tangan kananmu yang memegang pisau berkilau itu dan meletakkan pisau itu begitu dekat dengan lehernya. Namun karena gugup, kau malah menggores lehernya dan ia mengumpat seperti ‘Bajingan!’ dan ‘Babi jalang!’, kemudian sebuah ledakkan kembali terjadi berikut dengan hancurnya tubuh beberapa orang. Dan orang-orang ini mulai tak tahu bagaimana lagi mereka harus bereaksi. Sebagian besar dari mereka berjongkok di tanah dan menangis terisak-isak atau memekik, sementara hatimu hancur karena ledakan yang kedua kalinya itu.

“Tolong jangan lakukan lagi, saya mohon.” pintamu, “Saya akan melakukan apapun, apapun.” katamu, meyakinkan.
Dan baru sebentar kau mendekap punggungnya, punggung lelaki ini pun telah kebasahan oleh air mata, “Baiklah, Tuan. Saya akan benar-benar memulainya kali ini.” katanya, “Bersiaplah!”

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

2 tanggapan untuk “Menunggu Kedatangan Bus : 2.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s