Diposkan pada Cerbung, Novel

Maling dan Polisi : 12.

Saat Yeon Jae bersorak kegirangan dan mengangkat tangannya ke udara kemudian dengan air muka yang terisi kebahagiaan itu memutar kursi putarnya dan mendapati Gyu Jin tengah meringis kesakitan dan memegang dadanya, air muka itu segera lesap dari wajah Yeon Jae. Segera mungkin Yeon Jae bangkit dan menjelangi adik Gyu Young itu.

Yeon Jae tetiba berjongkok dan hal itu mengingatkan ia pada luka di kakinya, ia kemudian mendongak, “Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyanya. “Aku sudah menyelesaikan permainan ini, Gyu Jin. Sekarang, kita bisa pergi ke dunia asal kita, bukan?” tanyanya lagi, dan tanpa sadar sebutir air matanya jatuh melintasi pipi.
Dengan terus memegangi dadanya, Gyu Jin berusaha untuk mesem. “Aku tidak bisa ke sana, Kak. Waktuku telah habis saat ini.” katanya dan hati Yeon Jae tercabik, “Maaf.” katanya lagi.

Gyu Jin menepuk pundak Yeon Jae, sementara itu Yeon Jae terus berpikir, menekuri kata-kata anak kecil di atasnya itu.

Yeon Jae memalingkan pandangan, “Bagaimana mungkin? Memangnya untuk siapa aku memainkan permainan ini jika tidak untuk kita? Ini tidak adil.” dan ia seka air matanya. “Aku ingin pergi bersamamu.” gumamnya.
“Peraturannya tidak seperti itu, Kak.” tuturnya dan ia pegang wajah Yeon Jae dan menghadapkan wajahnya itu ke wajahnya. “Kau itu seorang polisi, jangan terlalu banyak menangis. Itu sama sekali tidak keren.” katanya, namun ia menangis dan membasahi wajah Yeon Jae.

Mengingat Gyu Young, Yeon Jae pun melihat mentari terbit di benaknya.

Dengan sedikit kesusahan, Yeon Jae bangkit dari jongkoknya, “Dengar Gyu Jin, bukankah kau ingin bertemu dengan kakakmu, Gyu Young?” dan wajah Gyu Jin seolah membeku, “Aku mengenalnya dengan baik. Kakakmu itu, Gyu Young, adalah sahabatku. Kau ingin menemuinya, bukan? Kau pasti merindukannya, kan?”

***

Setelah mendapat panggilan telepon dari Sung Hwan, Kyung Han yang baru saja selesai mendapat perawatan terutama pada kepalanya yang pecah itu segera mungkin keluar dari ruangan tempatnya dirawat dan menjelangi ruangan anaknya itu. Di depan ruangan Yeon Jae, terlihat Sung Hwan berdiri dan bersedekap sementara ia memandang pintu ruangan dengan pakem. Kyung Han pun menjelanginya.

“Bagaimana keadaan Yeon Jae, Sung Hwan?” tanyanya. “Apakah ia sudah bangun?” tanyanya lagi, antusias.
Sung Hwan seolah tidak peduli sama sekali dengan pertanyaan-pertanyaan yang sahabatnya itu lontarkan. Dibanding menjawab, ia lebih memilih menilik sepersatu luka Kyung Han dan dibikin ngeri hanya karena mengamatinya. “Apa yang terjadi kepadamu, Kyung Han?” tanyanya, protes. “Siapa yang kau khawatirkan itu? Memangnya siapa anak di dalam sana? Dia cuma anak didikku. Lihatlah dirimu sendiri. Hanya dirimu sendirilah yang perlu dikhawatirkan saat ini.” jelasnya.
“Eh?” dan Kyung Han mafhum, ia memang tak pernah mengatakan ihwal hubungannya dengan Yeon Jae, bahkan kepada Sung Hwan sekalipun yang merupakan sahabat baiknya. “Kau tahu, aku ini…”

Ketika hendak menjelaskan, pintu ruangan Yeon Jae terkuak. Sung Hwan dan Kyung Han pun sontak sama-sama menoleh. Keluarlah seorang dokter dari sana yang menggantung senyum di wajah. Seperti mentari yang telah dinanti-nantikan, bakal terbit saat ini.

***

Ketika tubuhnya mulai memudar, Yeon Jae membusungkan dadanya dan menghormat kepada Gyu Jin yang sampai saat itu masih saja memegangi dadanya. Yeon Jae tak bisa menolak setelah Gyu Jin menjelaskan aturan permainan Maling dan Polisi ini kepadanya. Ia pun hanya bisa menerimanya meski sesungguhnya menginginkan Gyu Jin pergi bersamanya.

***

“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Sung Hwan.
Kemudian Kyung Han menimpali, “Apakah ia telah bangun?” tanyanya.

Dan wajah Dokter itu berseri, ia pun mesem kembali. Kyung Han melewati dokter ini kemudian memasuki ruangan dan membuat Sung Hwan terheran-heran. Yeon Jae benar-benar bangun, ia bahkan di atas ranjangnya itu mampu duduk.

Dadanya berdesir ketika didapatinya anak lelaki yang telah dewasa itu duduk di ranjang seusai sekian lamanya hanya mampu terbaring di sana, “Kau sudah bangun, Nak?” tanya Kyung Han sembari terus berjalan menjelangi Yeon Jae, sementara Yeon Jae menoleh. “Ayah sangat merindukanmu.” akunya dan menghambur.

Saat Kyung Han melepaskan dekapan tereratnya atas Yeon Jae, Sung Hwan datang kemudian membawa Kyung Han pergi dari ruangan itu betapapun ia sama sekali tak ingin beranjak. Baru ketika Sung Hwan mengingatkan luka-lukanya, Kyung Han menurut. Toh, Yeon Jae juga masih butuh banyak istirahat sementara di ketika itu pula Yeon Jae tersadar  bahwa ayahnya itu memang terluka.

Yeon Jae memandangi pintu yang baru saja ditutup Sung Hwan, “Apa yang terjadi kepadanya?” gumam Yeon Jae.

Lalu, samar-samar Yeon Jae mendengar suara Gyu Jin seperti berada di sebelahnya dan begitu dekat kemudian berbisik, ‘Kakakku, Gyu Young’.

Ini adalah bagian terakhir dari cerbung ini. Doakan semoga ada season 2 dan terimakasih atas dukungannya selama ini.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s