Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 3.

Bagian 3.

Kau menaiki bangku taman. Tak lupa kau ajak lelaki paruh baya yang kini menjadi tawananmu itu dan kau tak tahu sejak kapan air mata yang beratus-ratus itu mengaliri pipinya yang mulai dihinggapi keriput senja. Orang-orang mulai memperhatikan kalian, terutama bagaimana kau kalungkan lengan di leher lelaki ini dan karena tak menurut, lelaki ini pun mendapatkan seperti apa rasanya disembelih.

“T-tolong jangan bunuh saya!” teriak lelaki ini. “Ambillah semua uang saya, Tuan. Tidak banyak memang, tapi saya harap itu akan cukup.”

Dan orang-orang mulai berbisik seperti, ‘Sungguh kasihan lelaki itu.’ dan ‘Mengapa seorang tentara berbuat seperti ini? Bukankah mereka seharusnya melindungi kita? Kenapa mereka menyerang kita bahkan,’ dan orang ini menoleh ke arah potongan-potongan tubuh yang ada di sekelilingnya, ‘…memusnahkan kita? Aku sungguh tak habis pikir.’

Aku tidak sedang mengancam nyawanya, aku tak sedang membikin kalian ketakutan akan kematian yang muskil. Aku bukan seorang pembunuh. Lelaki ini dan hanya dialah bajingan itu!

“Tuan,” bisik lelaki paruh baya ini, “…apa yang kau tunggu? Beritahu orang-orang ini. Cepat lakukan!” perintahnya.
Kau mengangguk meski ragu, “Dengarlah kalian!” dengan teriakanmu itu, kau kembali menjadi pusat perhatian, “Jika ada yang keluar dari taman ini, sebuah bom akan aku ledakkan. Jika ada yang berani lapor polisi atau kulihat seorang polisi di dekat sini atau bunyi sirene polisi, aku akan mengaktifkan seluruh bom di taman ini secara bersama-sama dan kota ini akan terkena ledakkan maha dahyat.” terangmu. “Dengarlah wahai seluruhnya, kalian yang ada di luar taman pun!”
Lelaki paruh baya ini menoleh ke arahmu, “Tuan?” panggilnya. Kau memandangnya, “Anda memang seorang serdadu.” katanya.

Saat hatimu begitu dongkol, pemikiran gila itu pun lahir. Kau pikir lelaki ini selalu bersungguh-sungguh, dan perihal meledakkan kota ini bagimu juga sebuah keseriusan tekad.

Apakah aku harus menjadi seorang pembunuh?

Dan baru saja kau tanyakan di dalam hati, lelaki paruh baya ini seperti dapat mendengar suara hatimu itu dan ia pun bertanya:

“Seorang seperti Anda tak mungkin menjadi seorang pembunuh. Benar begitu kan, Tuan?” tanyanya. “Saat kau membunuhku, orang-orang ini selamat. Namun, mereka akan berpikir bahwa kau sama sekali bukan penyelamat, melainkan seorang pembunuh.” terdapat penekanan pada kata ‘Pembunuh’.
Lelaki ini pun kembali mengoceh, “Kau tentu bakal dibebastugaskan. Seragam ini, baju hijau yang membuatmu gagah ini akan tanggal untuk selamanya. Betapapun nanti seorang kawan mengetahui alasan Anda melakukan semua perbuatan tercela ini, segala itu tak mengubah kenyataan sama sekali bahwa Anda telah menjadi seorang pembunuh. Anak dan istri Anda akan kehilangan sosok yang selalu mereka nanti pun sayang dan puji-puji. Setelah Anda dipenjara, mereka akan mulai kelaparan. Mereka mungkin tinggal di jalanan, di kolong jembatan. Mereka akan sering kedinginan di malam hari dan di siang hari, neraka seperti bocor untuk mereka.”
Tanpa sengaja, karena saking kesalnya, kau malah dengan lengan dan pisau itu makin menekan luka lelaki ini sehingga ia protes lagi, “Tuan?” panggilnya, kau tersadar, “Perlukah aku ledakkan sebuah sudut lagi?” tanyanya sembari meringis kesakitan dan darah mengaliri leher dari lukanya yang kian dalam.
“Tidak, tidak. Maafkan saya. Apa yang harus saya,” keberadaan seorang berseragam yang tahu-tahu sudah ada di dalam barisan orang-orang yang berjongkok telah membuat mulutmu menganga. “…la-kukan?”
Lelaki ini pun memandang berkeliling, “Ada apa?” tanyanya. Ia mesem ketika didapatinya dua orang serdadu lain ada di dalam taman.

Kedua serdadu ini adalah seorang Kopral dan Kapten, mereka adalah orang-orang terdekatmu. Bagaimana ketika kau kesusahan, mereka berdua selalu ada untukmu seperti seorang kawan lama.

Dan dengan mesem yang masih bertahan, lelaki paruh ini kembali memerintah, “Suruhlah kedua serdadu itu untuk berdiri, Tuan!” katanya. “Cepatlah, ada yang ingin aku katakan kepada mereka lewat dirimu.” desaknya.

Segala yang terhidang di depanmu kini menjadi serupa mimpi imaji paling buruk sepanjang hidup. Kau tak tahu bagaimana kau akan memerintah orang-orang paling penting dalam karirmu ini pun bagaimana lelaki ini akan memperlakukan keduanya. Nestapa benar-benar telah jatuh di punggung pagi kali ini.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s