Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala: 1.

Para polisi dan sepuluh penjahat yang melarikan diri ke gunung ini dan tertangkap telah turun dan berjalan lebih dahulu di depan. Tuan Reserse adalah pengecualian sama sekali. Orang-orang dan dirinya sendiri yang berpikir ia cukup tangguh meninggalkannya begitu saja tanpa curiga sama sekali bahwa dunia yang dipijakinya tengah berputar-putar. Sempat ia jumpai seorang polisi lainnya yang barangkali yang terakhir yang tertinggal di belakangnya. Namun, dengan senggangnya ia melewati Tuan Reserse yang tengah memegangi kepalanya yang berdenyut itu. Bahkan ketika Tuan Reserse ini memanggilnya untuk meminta bantuan barang menuntunnya ke jalan yang benar dan tidak berada begitu dekat dengan jurang, polisi ini tetap mengeloyor dan yang Tuan Reserse dengar dari polisi durjana yang satu ini hanyalah gumamam kecil seperti, ‘Jangan mengikutiku.’ atau, ‘Jangan mengejarku.’. Tetapi tentu karena berpikir bahwa polisi ini adalah polisi yang terakhir, Tuan Reserse tentu mengejarnya meski dalam kepayahan.
Segera mungkin polisi ini berhenti dan menoleh. Hanya tatapan matanya yang tajam yang Tuan Reserse lihat, dan ia tak mempedulikannya sama sekali. Matahari terbit di wajah Tuan Reserse dan sebuah senyum paling ranum mengembang di sana. Tapi segera mungkin pula, Tuan Reserse tersandung berikutnya ia terguling di tangga-tangga batu itu kemudian dalam ketidakpastian hidup itu ia berdoa dalam harap bahwa ia tak tergelincir ke dasar jurang di kiri atau kanannya berada. Tetapi segera mungkin lagi, kemudian tubuh Tuan Reserse yang tak berdaya itu benar-benar berada cukup dekat dengan dasar jurang di sisi kanannya dan ia kemudian mulai merasuki jurang yang tak bertuan sebelum sampai ke dasar dan dunia dalam gulita.

Polisi ini kemudian menilik tangga batu, tempat di mana darah yang yang mengalir dari kepala Tuan Reserse nan malang yang pecah ini berceceran. Ia beralih mengedarkan pandangan kepada jurang dan dasar-dasarnya yang tak nampak.

Matanya menjadi berkaca-kaca, ia kemudian membatin. Maaf. Saya tidak mungkin merubah takdir Tuhan. Dan ia berjalan kembali seolah tidak pernah ada yang tertinggal di sana dan betapa pun nanti ia akan kerepotan perihal akan ditanyai kawan-kawannya ihwal keberadaan Tuan Reserse sebab ia satu-satunya yang berjalan di paling akhir dan tentu saja berpapasan dengan Tuan Reserse yang memang sengaja menyuruh polisi-polisi lain untuk berjalan terlebih dulu.
Mungkin baru sekitar lima belas menitan polisi ini menuruni gunung, dan sebuah tembakan didengarnya seperti berusaha mengetuk pintu hatinya. Untuk memastikan yang didengarnya benar-benar sebuah tembakan, polisi ini kemudian berhenti sejenak dan polisi-polisi lain nan jauh di bawah sana turut berhenti kemudian menanyai polisi ini dengan pertanyaan seperti, ‘Ada apa?’, dan dari kejauhan pula polisi ini menggeleng pelan betapapun ia yakin barangkali polisi-polisi di bawah sana tak pernah tahu apa yang disampaikan polisi ini, dan polisi ini kemudian menambahkan—memastikan, ‘Tidak ada apa-apa.’, teriaknya. Tapi kemudian didengarnya kembali sebuah bunyi tembakan, polisi ini pun alih-alih menjelangi bunyi suara malah meneruskan langkahnya—kembali menuruni gunung dan menjelangi rekan-rekannya yang masih menunggunya sembari beristirahat barang membiarkan peluh yang mendekap zirah mereka menguar.
Sementara polisi ini menepuk pundak polisi-polisi lain yang menunggunya di batu-batu yang terhidang di jalur pendakian untuk menandai mereka bahwa ia telah sampai kepada mereka, Tuan Reserse yang kepalanya masih berpusar ini dengan matanya yang basah oleh darahnya sendiri menilik berapa banyak peluru yang masih tersisa semenjak diluncurkannya timah-timah panas ini saat mengejar para penjahat. Ia temukan angka yang ganjil, tetapi keganjilan ini adalah sebuah harapan seusai seluruh badannya yang dipacari penderitaan berkat seluruh kesakitan termasuk kaki-kakinya sendiri yang tak dapat dirasakannya, dan karenanya ia sangat bersyukur. Namun, ketika Tuan Reserse hendak melangitkan sekali lagi peluru-pelurunya, tangannya dirasuki gementar dan menarik pelatuk pun ia tak bisa. Tangannya ini kemudian ambruk seiring kepalanya yang dengan denyutan makin kuat berikut dengan dunia Tuan Reserse yang kembali menjelma gulita. Di sisi lain—di antara semak-semak, seekor harimau mengintai tubuh yang terluka ini dan dengan berjalan begitu pelan saja ia telah sampai di hadapan Tuan Reserse yang bakal histeris andai ia kembali terjaga. Hanya takdir dan rerumput jalanglah yang tahu apa yang terjadi kemudian.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s