Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 4.

4.

Matahari mulai meninggi. Kesejukan kota mulai berganti dengan teriknya musim panas. Lelaki ini tak henti-hentinya terkikik. Namun karena orang-orang memandangnya dari kejauhan, seperti terlihat bahwa lelaki ini terus menangis karena kau tawan dan bagaimana pisau itu menekan lukanya.

“Wahai serdadu!” kau menunduk, malu rasanya memerintah mereka berdua di saat begini. “Mendekatlah kepadaku, cepat!”

Korpal, Kapten. Maafkan aku.

“Ambillah revolver di saku celana saya. Letakkan pisau ini. Ikat mereka. Dudukkan mereka berikut saya di bangku taman. Namun, jangan jauh dari keberadaan saya.” perintahnya, “Katakanlah kepada mereka, Tuan, seperti ini,” dan lelaki ini berbisik kepada dirimu. Awalnya kau tentu menolak perintahnya, namun, tak ingin mendengar ledakan selanjutnya, kau pun pada akhirnya tak dapat mengelak.

Kopral dan Kapten telah menghadapmu. Kau yang tengah menenteng revolver itu berjaga kalau-kalau kedua rekanmu ini menyergapmu—mencoba melumpuhkanmu. Kau semustinya telah mulai berbicara. Di depan mereka, air matamu seperti akan runtuh. Hanya mata yang berkaca-kaca. Di dalam hatimu kau berharap mereka tak membenci dirimu, kau harap orang-orang ini mafhum nestapa apa yang telah menimpa dirimu kini. Dan hanya keajaiban yang akan mengabulkan harapan dalam hati kecilmu itu.

“Jangan mencoba menyerangku, atau kutembak kalian atau aku ledakkan orang-orang ini sekalian.” barisan kata pertama itu kau utarakan tanpa menyerta nafas, “Aku hanya akan mengikat kalian.” katamu lagi.

Dan kau mengikat tangan mereka satu-persatu. Dan mereka berbisik di ketika itu seperti, ‘Apa yang telah kau lakukan, Sersan? Oh, Tuhan. Aku seperti sedang bermimpi. Mimpi paling buruk sepanjang hidupku. Kau seorang teroris?’ dan dahi Kapten berkerut lalu kembali berbisik, ‘Yang benar saja, sialan!’

Maafkan aku, Kapten.

Kemudian, ‘Anda adalah alasan saya bertahan di barak. Mengapa Anda menjadi seperti ini? Apakah ada sesuatu yang tak kami ketahui, Sersan? Usah Anda menanggung semua ini sendiri. Saya tidak ingin Anda dikeluarkan dari ketentaraan.’ dan sebutir air mata jatuh melewati pipi Kopral yang tak pernah menangis bahkan ketika ibunya meninggal dunia. Kau melakukan hal yang sama, hanya saja tak pernah dilihat oleh sesiapapun dan kau segera menyekanya.
Ketika kau telah selesai mengikat tangan mereka dan kembali ke hadapan mereka, lelaki paruh baya yang semula terlihat lemah dan terus memegangi lukanya ini bangkit dari bangku dan dengan pisau yang digenggamnya dalam gementar, ia benamkan pisau itu di punggungmu sehingga kau seketika memekik kesakitan dan ambruk ke tanah. Ini adalah skenarionya, dengan luka dan berdarah-darah yang membuatmu kepayahan, kau mengambil revolver yang terjatuh kemudian menembaki kaki-kaki lelaki ini sehingga ia ambruk bahkan tak dapat bangkit kembali dan terus memekik dan menangis atas luka-lukanya. Kau pun menjadi manusia paling kejam yang pernah ada.

Seperti jalan cerita yang telah dituliskan lelaki ini di dalam benakmu, kau bangkit dan kini musti menanggung luka kemudian menghadap Kopral serta Kapten dan mengarahkan revolver ke arah mereka.

“A-apa yang akan kau lakukan, Sersan?” tak pernah kau duga sebelumnya bahwa pagi ini kau bakal membuat Kapten yang senantiasa terlihat berwibawa dirasuki gementar dan keringat dingin mengalir dari ujung baretnya. “Kau tidak akan melakukan hal itu, bukan?”
Air mata Kopral membanjir, “Tidak, Sersan!” teriaknya. “Anda tidak boleh begini!” dan teriakannya itu benar-benar merobek hatimu.

Kau memejamkan mata. Kau tahu betul posisi Kopral dan Kapten ada di mana. Kau telah menarik pelatuk dan dua kali tembakan dengan arah yang berbeda telah kau luncurkan. Jadi, kau yakin saat ini kedua orang itu telah terkapar di tanah dengan timah panas yang menancap di perut atau dada mereka. Tak dapat lagi menahannya, kali ini air matamu benar-benar bandang.
Samar-samar kau dengar orang-orang menggumam, ‘Apa yang telah dilakukan kedua tentara itu? Kenapa mereka ikut menyerang lelaki itu?’ kau pun membuka mata.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

2 tanggapan untuk “Menunggu Kedatangan Bus : 4.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s