Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 2.

Polisi ini setengah berlari ketika turun di pos pertama dan membikin para polisi yang menungguinya menggerutu, ia bahkan dapat mendahului polisi-polisi yang berjalan di barisan paling depan. Saat telah sampai di basecamp, ia berjalan menuju ke parkiran dan mendorong uang dan membuat seorang polisi lain tentu terdorong ke belakang. Dan polisi yang baru saja diberikan segepok uang itu tertunduk dan telaga di matanya pun tumpah. Polisi ini menepuk pundak polisi yang tersedih itu, ia berkata seperti ‘Aku hanya membantumu. Ibumu sakit parah dan harus segera operasi. Kau mungkin akan ditangkap jika rencanaku ini bocor, tapi, aku pastikan semua itu tidak terjadi. Ingat, apa yang kau lakukan ini mungkin dosa, tapi, kau akan lebih berdosa lagi jika hanya berdiam sementara ibumu tersiksa dalam sakitnya.’ dan polisi ini, ketika polisi yang tersedih mulai berani menatap kedua matanya malah teringat suatu kemampuan paling aneh yang saat ini paling dibencinya, kemudian ia berkata lagi, ‘Kadang, ada hal-hal yang tak boleh kita ketahui.’ dan polisi ini setelah melihat rombongan yang juga telah mulai sampai di basecamp, kemudian menjaga jarak dan mengibaskan satu tangannya seperti mengisyaratkan kepada polisi yang tersedih itu untuk segera pergi dari sana.

***

Ia lupa—tak lagi tahu tugas penting apa yang membuatnya tertidur begitu lelap dan mengasuh lelah di peraduan dan matanya sulit terjaga dan jeritan alarm di samping telinganya seperti bunga tidur lainnya. Sampai akhirnya pintu kamarnya terbuka, seorang wanita paruh baya memasuki kamarnya dan sambil berjalan menuju jendela ia berkata, ‘Bangun, Mas. Ibu sudah menyiapkan makanan kamu. Bapak juga sudah menunggu kamu lho, di meja makan.’ dan wanita yang menyebut dirinya Ibu ini membuka tirai jendela dan mematikan alarm. Segera kemudian, sinar mentari masuk dan ia yang masih ingin mengencani mimpi pun terjaga dimulai dari mata yang samar-samar menangkap keberadaan Ibu yang terus mengomel karena dengan cara apapun ia masih bertahan seperti itu di tempat tidurnya.

Dan sambil mengucak matanya, ia bangkit, “Ibu? Kanapa Ibu ada di sini?” Apakah ini mimpi? lanjutnya dalam hati. Kemudian ia menilik jendela dan sinar mentari yang masih saja mengincar matanya yang belia. “Seperti mentari sungguhan saja.”
“Apa yang kamu bicarakan? Ibu tidak bisa mendengarnya jika kamu hanya menggumam.” Ibu merebut selimut yang masih membalut ia dan berkata—mengingatkan lagi, “Cepatlah turun. Bapak sudah menunggu kamu. Nanti kalau Bapak naik, malah kamu bisa dimarahi.”

Setelah puas menatapi Ibu yang membereskan kamarnya, ia pun turun—tak ingin sama sekali percaya bahwa dunia yang kini dipijakinya merupakan mimpi ilusi. Ditemukannya seorang lelaki yang juga paruh baya duduk di kursi utama di meja makan itu. Lelaki itu menatap sang polisi yang berjalan begitu pelan seperti mengandung kesumat atas lambungnya yang meliuk-liuk.

“Cepatlah duduk. Bapak harus segera berangkat. Ibu kamu mana?” tanyanya, dan ia kemudian bangkit lantas mengambil nasi untuk sang polisi, istrinya dan dirinya sendiri. “Makanlah!” perintahnya.

Segera mungkin, Ibu turun dan bergabung bersama keduanya. Ibu dan Bapak sibuk membernasi perut mereka dengan sarapan. Polisi ini malah tercenung karena pemandangan di depannya. Bagaimana senyum yang indah terus menggantung di wajah ibunya, bagaimana zirah yang melekat di badan ayahnya itu membuatnya mengenakan zirah yang sama. Harmoni ini, sungguh membernasi hatinya—membuat bandang matanya luruh. Anehnya, kedua orang tuanya seperti tak pernah melihat ia menangis pun terisak-isak.

“Kamu berangkat ke kantor bersama Bapak kan, Mas?” tanya Ibu. “Ibu juga sudah menyiapkan seragam kamu.”
“Tidak, Bu. Bapak harus berangkat setelah ini. Tuan Reserse di depan kita ini bisa memakai mobilnya sendiri.” jelas Bapak, “Maaf ya, Mas.” ucapnya lagi.
Polisi ini pun walau telah berkali menyeka air matanya segala percuma, bandang itu menerjang lagi bahkan kali ini lebih deras lagi. “Jadi, Bapak-Ibu tahu saya seorang polisi?” tanyanya. “Apa yang sebenarnya telah terjadi?” gumamnya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s