Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 5.

Bagian 5.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Ketika matamu terjaga, kedua orang ini malah ada di belakangmu. Dengan kedua kaki-kaki mereka yang jenjang, kedua orang ini menginjak lengan lelaki paruh baya dan ia sendiri bahkan tak tahu kapan kedua serdadu ini bergerak dan menyerangnya.

“A-apa yang kalian lakukan?” tanyamu, keheranan. Dan kau berbalik, “Jangan-jangan…”
“Aku tidak tahu apakah aku melakukan hal yang benar, Sersan. Tapi tolong, lakukanlah dengan cepat. Orang ini cukup kuat juga.” kata Kapten, “Cepatlah lakukan, Sersan!”
Dan Kopral tersenyum, “Kami selalu,” dan sebutir air matanya terlahir kembali, “…percaya pada Anda, Sersan!”

Lelaki paruh baya ini, dalam keterkesiapan dan detak jantung yang melangit mulai menyadari ikatan di antara ketiganya dan tak menyangka sama sekali jika orang-orang ini masih juga percaya kepada seorang teroris di banding seorang pribumi yang terluka.

“T-tidak!!!” teriak lelaki paruh baya ini, “Aku pasti…” dan sebuah tendangan mendarat di wajahnya dan seketika itu dunia yang dikuasainya sesaat lalu menjadi gulita.
Tungkai-tungkaimu lemah dan kau ambruk ke tanah, “Apakah Anda baik-baik saja, Sersan?” tanya Kopral, ia kemudian melihat kepada Kapten dan segera mungkin kapten mengikat tangan lelaki baruh baya ini sementara Kopral menjelangi Sersan, “Anda telah melakukan yang terbaik, Sersan.” katanya dan senyum masih menggantung di wajahnya.
Kemudian kau sedikit menoleh ke belakang, Kopral mengekor pada matamu dan ia menemukan pisau tertancap di punggungmu dan ia kembali begitu panik. “L-luka Anda,” katanya dan menangkupkan telapak tangannya ke wajah, “…saya akan memanggil ambulance.”

Orang-orang masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan melihat air muka orang-orang ini, Kapten bangkit dan untuk kali pertama melepaskan cengkeraman tereratnya atas lelaki paruh baya ini bahkan setelah ia telah jatuh semaput. Kapten mulai menjelaskan hal-hal yang terjadi. Kau yang menawan pribumi itu rupanya adalah juga orang yang ditawan. Kau, Kopral dan Kapten sekalian bukanlah orang-orang yang jahat. Lelaki paruh baya ini dan hanya ialah seseorang yang jahat di sini. Dan ketika Kapten mulai membicarakan betapa di tiap sudut taman ini semayam begitu banyak bom, orang-orang ini mulai menghambur keluar taman. Sesaat kemudian setelah mobil-mobil polisi dan ambulance datang, kau benar-benar ambruk ke tanah, sepertinya terlalu banyak darah yang keluar dari punggungmu itu.

***

Kau terjaga dan membaui ruangan yang penuh akan karbol dan menyadari telapak mungil itu mendekap telapak tanganmu dan terus memandangi wajahmu dengan penuh harap namun tak pernah mau melepaskan pegangan paling eratnya. Dan ia bangkit seusai melihatmu membuka mata dan menangis karena anak satu itu dan memanggil ibunya yang terlelap di sofa. Sesaat kemudian sebelum dokter dan perawat masuk, Kopral dan Kapten merasuki ruangan itu dan dari mata mereka yang berkaca-kaca terlukis kebahagiaan yang tak terkira. Tapi Kopral dan Kapten segera terusir dari ruangan itu karena anak kecil itu, anakmu, mengusir keduanya dan baik kau maupun kedua orang itu tahu persis apa yang ada dipikirannya.
Saat dokter dan para perawat serta anak-istrimu keluar ruangan, seorang anak kecil yang entah dari mana memasuki ruangan tempat kau di rawat. Kau yakin betul tak pernah mengenal anak ini sebelumnya, tapi, kau juga yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Baru setelah kau teringat akan kejadian di taman, kau tahu bahwa anak ini adalah anak dari kedua orang yang meledak karena kau sempat ingin beranjak dari taman. Kau pun sontak tergugup.

Dengan sedikit kesusahan dan menahan rasa sakit kau bangkit menilik wajah lusuh yang terus tertunduk itu, “Ada apa, Nak? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyamu. Dan dengan bodohnya kau bertanya lagi, “D-di mana ayah dan ibumu?” tanyamu.

Anak ini segera mendongak, terlihat kesumat di wajahnya dan mata yang kini menatapmu tajam. Dia tak bicara sepatah kata pun, tapi pisau berkilat yang ia tunjukan kepadamu telah membuatmu bergidik.

“Ada apa dengan pisau itu?” kau mulai menggeser posisi tubuhmu, menjauhi anak kecil ini, “A-apa yang akan kau lakukan?”

Luka di punggungmu masih terasa dan begitu melumpuhkan pergerakanmu terutama kedua tangan. Entah di mana Kopral dan Sersan yang seharusnya masuk segera setelah anak-istrimu pergi. Adakah kau akan habis di tangan anak kecil yang menanggung kesumat ini?

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s