Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 3.

Bapak menyodorkan punggung tangan kepada Tuan Reserse yang segera Tuan Reserse raih dan cium. Bapak kemudian bangkit dan menenteng tas bahu kemudian mengecupi kening Ibu dan berkata, “Apa maksud kamu? Tentu saja kami tahu.” katanya kemudian sembari menoleh, ia berkata lagi, “Bapak harus berangkat sekarang.” dan Bapak setengah berlari menuju pintu keluar.
Melihat Tuan Reserse terbengong-bengong, Ibu pun menghampiri, “Ada apa, Mas?” tanyanya dan menepuk pundak Tuan Reserse, “Apakah kamu sudah selesai?” tanyanya lagi.
Tuan Reserse mengangguk, “Sudah. Terima kasih untuk makanannya.” kemudian ia melanjutkan di dalam hati, Rasanya masih sama enaknya. Saya bahkan tak bisa berpikir bahwa ini adalah mimpi. Segala sesuatunya hanya terlihat amat sempurna.

Setelah memberikan piring kotor kepada Ibu, Tuan Reserse menaiki tangga untuk sampai di lantai dua. Waktu telah menepuk punggungnya dan ia musti terburu-buru dalam mengenakan zirah begitu pula ketika menuruni tangga. Saat pertama kali melangkahkan kaki untuk turun, langkah kakinya meragu dan karenanya berpijak pada pijakan yang salah dan nyaris tergelincir. Ia berpegangan pada pagar batas di pinggiran tangga dan memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut dan menerima fragmen mengerikan. Namun, ketika Tuan Reserse mencoba mengingatnya, yang didapatinya hanyalah denyutan yang makin kuat dan ia tak tahu mengapa fragmen itu menikahi benaknya.

Ibu memegangi tangan Tuan Reserse dan menilik wajah anaknya yang kesakitan itu, “Ada apa, Mas?” tanyanya. “Sepertinya kamu sedang tidak enak badan. Lebih baik kamu libur dulu.”
Tuan Reserse terjaga, “Tidak, Bu.” ia kemudian melepaskan tangan Ibu, “Saya baik-baik saja.” katanya lagi dan mesem.
“Ingatan kejadian mengerikan milik siapa itu?” gumam Tuan Reserse sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

Kantor kepolisian di distrik pusat nampak sepi. Tuan Reserse mengedarkan pandangan dan tak ditemuinya seorang polisi pun pagi itu. Baru ketika ia teringat bahwa ia begitu terlambat, langkahnya memburu berangsur berlari menuju lapangan di belakang kantor. Ia menemukan para polisi tengah melaksanakan apel pagi dan merasuki barisan itu dan beberapa orang yang dikenalinya sebagai senior berbisik seperti, ‘Kau dari mana saja?’ dan, ‘Tumben sekali telat.’ dan ia tak menghiraukan bisikan-bisikan itu dan keberadaan seseorang di tengah lapangan telah merampas perhatiannya.

“Bapak?” panggil Tuan Reserse. Dan mendadak ia menjadi pusat perhatian. Bapak yang tengah berpidato bahkan menghentikan laju kata-kata yang tersusun rapi di kepalanya dan menilik suara yang tak asing itu. “Bapak bekerja di sini juga?” tanyanya.
Masih menjadi pusat perhatian, seseorang menarik lenganmu dan membawamu maju ke depan. “Anda pasti datang terlambat.” kata Bapak, semua orang tertawa sementara Tuan Reserse tertunduk malu. “Di hari pertama saya bekerja di kantor ini, mungkin pengakuan saya ini akan menjadi cukup memalukan. Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Sebenarnya, Tuan Reserse yang satu ini adalah anak saya.” akunya dan tawa orang-orang terbenam di lautan cengang.

***

Seusai menyelesaikan hukumannya, Tuan Reserse kembali ke kantor dan peluh telah mendekap seluruh tubuhnya. Ia berjalan dengan pakem dan menemukan seseorang menutupi wajahnya ketika berpapasan dengan Tuan Reserse di koridor. Tuan Reserse menghentikan langkahnya dan samar-samar wajah orang ini tergambar di benaknya.

“Tunggu.” perintah Tuan Reserse. Ia menoleh, “Bukankah kita…” polisi itu telah hilang dari sana dan Tuan Reserse begitu terkesiap karenanya. Ke mana orang itu? tanyanya dalam hati.

Ketika ia memandang ke depan lagi, didapatinya Bapak telah ada di depannya. Dan melihat dua orang polisi di belakang Bapak, Tuan Reserse pun menghormat kepada Bapak dan Bapak membalasnya kemudian setelah menepi sementara Bapak melanjutkan langkahnya, Tuan Reserse membungkuk kemudian melanjutkan langkahnya pula. Sementara, polisi ini memandangi Tuan Reserse yang nyaris ditelan ujung koridor.

***

Sesampainya di rumah, Tuan Reserse membuka buku catatan dan menuliskan keresahan di dalam benak dan hatinya.

-Ibu dan Bapak tetap di usia yang sama. Masakan Ibu masih terasa enak. Sementara itu, Bapak mulai bekerja di kantor kepolisian distrik pusat.
-Seorang polisi bertingkah aneh…

Ketika tengah mencatat, ujug-ujug Tuan Reserse ambruk ke lantai. Ia bahkan belum sempat menanggalkan seragamnya. Ibu sempat membuka pintu kamar Tuan Reserse. Namun, entah kenapa dengan air muka yang bernas kekosongan ia menutup pintu kembali meski jelas didapatinya Tuan Reserse tidak sadarkan diri.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s