Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 6.

Bagian 6.

Saat anak ini berangsur mendekat, tubuhmu berguncang hebat entah kenapa. Anak ini makin dekat dan tubuhmu berguncang lagi. Baru ketika kau terjaga dan mendapati siluet seseorang di antara sinar mentari yang masuk melalui jendela-jendela yang sengaja tak kau tutup tirainya itu lahir, guncangan itu pun berhenti.

Dan ketika orang ini mulai bicara, kau tahui bahwa itu adalah Kopral. “Ada apa, Sersan? Anda mimpi buruk lagi?” tanyanya dan ia kemudian sedikit menunduk, “Maaf membangunkan Anda lebih awal, tapi Kapten telah menunggu di belakang barak.” ucapnya lagi.
Kau bangkit dan menyadari seluruh tubuh telah dirasuki peluh. Menyadari peristiwa yang baru terjadi hanyalah sebuah mimpi, kau pun mesem. Dan sambil menyeka peluh di kening itu kau berkata, “Kau turunlah lebih dulu, aku akan segera menyusul.” dan mendapati Kopral masih berdiam di sana, kau berkata lagi, “Ada apa?” tanyamu.
“Ini semua salah saya, Sersan. Jika saya tidak begitu payah, Anda dan Kapten tidak perlu meluangkan waktu untuk melatih saya.” jawabnya sembari terisak dan menyeka ujung mata, “Padahal Anda baru saja pulang dari perbatasan.” katanya lagi.
Kau masih menatapnya, “Kau tahu,” Kopral menatap matamu, “…apa yang paling aku benci?” tanyamu.
Kopral menggeleng pelan, “Itu adalah mengajarimu bagaimana jauh dari payah.” jawabmu. Dan Kopral segera menunduk, dan segera mungkin juga kau menambahkan, “Tapi apa kau tahu apa yang lebih aku benci lagi?” tanyamu.
Masih menunduk, Kopral menggeleng lagi, “Itu adalah ketika kau percaya bahwa kau begitu payah. Kau tidak payah, Kopral. Kau berusaha lebih keras dari siapapun jua, jadi kaulah yang paling hebat.” jawabmu.

Kau kemudian bangkit dari peraduan, menanggalkan pakaian dan berganti seragam. Kopral pamit, dan ketika kau sedikit menoleh—kau dapati senyum mengembang di wajahnya.
Turun dan berjalan sampai belakang barak, kau dapati Kapten dan Kopral telah bersiap dengan seragam mereka dan menenteng tas yang telah lebih dahulu dijejali pemberat. Seluruh orang melihat ke arah kalian terutama Kopral yang menciptakan segala ini. Mereka mulai berbisik seperti, ‘Lihatlah prajurit payah itu!’ atau ‘Dia bikin susah Sersan dan Kapten. Padahal, Sersan dan Kapten baru pulang dari perbatasan.’ dan seperti biasa, Kopral selalu ada di barisan terbelakang dan menekuri bisikan-bisikan itu bahkan berhenti karena beban di punggung atau bagaimana ia begitu kepalakan atau leher yang seperti dicekik. Dan sesekali di antara kau atau Kapten akan memaksa Kopral untuk bangkit kemudian salah satu dari mereka itu akan mendorongnya berlari hingga Kopral ada di barisan paling depan. Mereka baru berhenti berlari seusai menaiki bukit di belakang barak dan menuruninya dan sampai di belakang barak. Kemudian Kopral akan mentraktir kau dan Kapten minuman dan kalian menghabiskan pagi dengan minuman. Tapi, hari itu rindu di hatimu sudah membeludak. Kau ingin bertemu dengan anakmu, kau ingin segera pulang. Segera mungkin setelah meneguk segelas minuman, kau undur diri dan walau sedikit kecewa mereka—pada akhirnya menerima keputusan itu dan membiarkan engkau pergi.

Kau berjalan menuruni bukit, melihat ponsel dan sesekali berhenti karena merasa pernah mengalami hal ini sebelumnya. Sembari terus berjalan, kau mengingat-ingat lagi dan tak kau ingat apapun jua.
Kau terus mengingat pengulangan yang berkesinambungan ini dan tahu-tahu telah sampai di halte bus di dekat sebuah taman. Waktu itu halte sangat ramai. Kursi-kursi telah penuh akan orang-orang dan karena bus datangnya masih cukup lama, kau pun memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di taman—di belakang halte. Saat kau membuka beberapa kancing seragam teratas karena kepalakan, seorang lelaki paruh baya duduk di sebelahmu. Kau menoleh, dan mulai memafhumi kerterikatan antara apa yang coba kau ingat dan yang sepertinya pernah terjadi sebelumnya dan kau mulai mengingatnya. Kau menilik bagaimana lelaki paruh baya ini membuka botol cola, menoleh kepadamu dan memberikan botol itu kepadamu dengan senyum yang mengembang. Kau menampik dengan sekuat tenaga uluran tangan itu dan pecahan dari botol ini melahirkan bunyi paling menyayat berlatar belakang pekikan lelaki paruh baya ini dan inilah kali pertama orang-orang mulai memperhatikan kau dengannya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s