Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 4.

Tuan Reserse terjaga dan merasakan nyeri di kepalanya. Ia berpikir barangkali itu adalah imbas ia terjatuh tadi. Entah bagaimana ia telah berada di tempat tidur. Bapak masih juga belum pulang dan Ibu, orang satu-satunya di rumah, tak akan bisa mengangkat berat tubuh anaknya itu yang dua kali lebih besar darinya. Tuan Reserse pun menjadi begitu penasaran.

Saat benak Tuan Reserse ditumbuhi selaksa tanya, Ibu membuka pintu kamar tanpa masuk sekalipun ke kamar Tuan Reserse, “Mas, mari makan malam. Bapak sudah menunggu di bawah.” ajaknya, “Tumben sekali ya, kamu tidur seawal ini.” katanya lagi.
Tidur? batinnya. “Saya tidak tidur, Ibu. Sepertinya saya semaput.” akunya.
Ibu mesem, “Iya, semaput. Tidur seperti orang yang semaput kan, maksudnya?” kemudian Ibu mengibaskan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegangi gagang pintu, “Sudahlah. Cepat turun. Ibu juga akan turun sekarang.”
Ini aneh. kata Tuan Reserse dalam hati. Ia kemudian membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan menemukan dirinya memakai baju tidur. Ketika mengedarkan pandangan, ia dapati zirahnya telah tanggal di dekat almari—di dekat jendela kamarnya. “B-bagaimana bisa…” mulut Tuan Reserse melongo dan dirasuki keheranan.

Tuan Reserse bangkit dari peraduan dan mendapati sebuah buku dan pulpen di atas meja, di atas hamparan kertas putih itu belum tertulis satu katapun dan Tuan Reserse tak ingat sama sekali mengapa ia mengeluarkan alat tulis itu dari laci. Tuan Reserse memasukkan buku berikut pulpen ke dalam laci, ia kemudian berjalan keluar untuk turun dan makan malam bersama Bapak dan Ibu.

Di meja makan, Ibu terus terkikik-kikik setelah Bapak menceritakan apa yang terjadi di kantor pagi tadi. Tuan Reserse tersipu dan menjadi yang naif sekali.

“Mas, supaya kejadian yang sama tidak terulang, kamu bangunlah lebih awal. Kamu bisa berangkat bersama Bapak.” kata Ibu, “Apa perlu Ibu bantu membangunkan kamu?” tanyanya, kemudian.
“Tidak, Bu. Dia harus belajar. Biarkan dia bangun semaunya. Jika terlambat, dia juga akan dapat hukuman seperti yang lain. Tidak peduli walau dia anak Bapak sekalipun.” larang Bapak, “Ngomong-ngomong, apa kalian merasa udara tiba-tiba begitu dingin?” tanyanya.
“Iya, Pak. Ibu juga sedikit kedinginan.” akunya, “Jangan-jangan…”

Tuan Reserse menoleh untuk menilik jendela. Ia bangkit dan berjalan menuju tempat Bapak duduk untuk menilik jendela itu. Di luar sana, ditemukannya butiran kapas putih yang beku jatuh dari langit malam.

Salju? batin Tuan Reserse. “Ibu, Bapak, bagaimana mungkin salju turun di samping rumah kita?” tanyanya.
Ibu bangkit, “Pertanyaan macam apa itu?” tanyanya, “Negara kita kan memang negara empat musim.” terangnya.
Segera Tuan Reserse menoleh ke arah Ibu, “Apa?” tanyanya, Ini seperti keinginan masa kecilku dulu. batinnya.

Tuan Reserse mengingatnya. Salah satu mimpinya ketika masih belia adalah tinggal di negara empat musim, dia sangat menyukai musim selain musim panas dan hujan, terutama salju.
Untuk memastikan bahwa yang berjatuhan dan menumpuk di rerumputan hijau di luar sana adalah salju, Tuan Reserse keluar rumah untuk melihatnya dari dekat. Tuan Reserse tak tahu kenapa sebutir air matanya jatuh, perasaan dalam hatinya hanya tengah meluap-luap. Bapak tentu protes. Tuan Reserse segera masuk ke dalam dan melanjutkan makan malamnya dan Bapak menjadi kian menggerutu.

“Melihat salju, kamu langsung berlari keluar rumah. Jika itu karena salju itu adalah salju pertama, wajar. Tapi, kamu seperti baru kali pertama ini melihat salju itu.” kata Ibu, ia kemudian berbisik, “Lihat tuh, Mas. Bapak sampai merengut begitu.” katanya.

Memang benar ini pertama kalinya, Bu.

Di depan pagar rumah Tuan Reserse, seseorang yang memakai jubah hitam di bawah rontokan salju itu terus memandang ke arah rumah. Ia baru beranjak ketika Bapak keluar untuk memastikan gerbang rumahnya telah dikuncinya dan seperti tak peduli pada orang asing di depan rumahnya itu, Bapak biarkan saja ia pergi meski dengan kemampuannya Bapak bisa saja menangkap orang ini dan menanyainya mengapa orang ini ada di depan rumahnya termasuk bagaimana orang ini malah memakai jubah hitam dan bukannya baju hangat.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s