Diposkan pada Cerbung, Novel

Manunggu Kedatangan Bus : 7.

Bagian 7.

Lelaki paruh baya ini sesungguhnya naik pitam dan baru saja akan memaki kau, orang yang dibantunya itu, ketika kau secepat kilat melingkarkan lengan di lehernya dan membikin lelaki paruh baya kesusahan bernafas dan mencoba mengelak meski sergapanmu lebih kuat dari usahanya untuk bebas.

“Saudara sekalian, lelaki ini adalah teroris.” teriakmu, “Periksalah bawah bangku Anda, di sana ada sebuah bom.” perintahmu.

Dan orang-orang ini pun menganut, dan mereka kemudian menilik di bawah meja mereka dan tak mereka temukan apapun jua di sana. Lalu mereka saling berbisik, ‘Kurasa tentara inilah yang seorang teroris. Dia yang melukai seseorang.’ dan, ‘Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita lapor polisi?’ dan karenanya kau dibuat keheranan. Di ketika itulah cengkraman erat lelaki paruh baya yang sejak tadi berusaha melepaskan diri dari kekangan yang membuatnya sukar bernafas itu mengendur, kau segera menunduk dan melepaskan sergapanmu dan menemukan ia lunglai dan jatuh ke tanah.
‘Apa yang telah dilakukannya? Apakah tentara itu telah membunuhnya?’.

Apa yang telah aku lakukan? Kau turut ambruk dan menilik keadaan lelaki paruh ini; kau baringkan telunjuk di depan hidungnya dan nafasnya tak lagi kentara. Kau alihkan telunjuk itu untuk meraba nadinya, tapi, tak jua kau dapati denyutan itu di sana. Kau beralih mendekap tubuh lelaki ini—rebah di dadanya, dan tak kau temukan detak apapun di sana.
Kau menilik orang-orang, dan seluruhnya memandangmu sinis.
Lalu, karena masih tak percaya dengan pengakuan orang-orang di taman ini tadi, kau beralih menilik tiap-tiap bangku taman dan tetap tak kau dapati apapun di sana. Segera mungkin, mobil-mobil polisi datang. Kau diborgol dan dimasukkan ke dalam mobil seusai polisi-polisi ini memukulimu sampai babak belur, entah mengapa. Mereka juga menanggalkan seragammu dan menggantinya dengan pakaian lusuh khas narapidana, seusai kau ditetapkan bersalah dan menetap di balik jeruji besi pada hari itu pula.
Kau meminta para polisi menyembunyikan ihwal ini terhadap keluargamu, namun, kau justru meminta mereka untuk menghubungi Kopral serta Kapten yang karena dalam masa libur bertugas, segera datang menjelangimu.

Di depan dirimu air mata keduanya luruh, “Sersan? Ini mimpi, bukan?” tanya Kopral, “Saya pasti sedang bermimpi.” katanya.
Kapten merangkul Kopral dan mengelus-elus punggungnya, “Tabahkan hatimu,” katanya, “…” tetapi di ketika itu bandang air mata milik Kapten justru tak lagi dapat terbendung.
“Maafkan aku.” katamu sembari tertunduk dan segera mungkin bangkit kembali, “Tapi, Sersan, Kapten, demi apapun kalian musti menjaga anak istriku. Ini adalah permintaan terakhirku. Aku mungkin akan dimatikan karena mematikan seseorang. Jika itu benar-benar terjadi, katakanlah kepada mereka bahwa aku kembali bertugas, walau sampai kapanpun jua aku tak akan pernah bisa kembali pulang.”

Lelaki berpakaian formal dan kesemua pakaiannya berwarna merah muda yang duduk di sampingmu itu mengatupkan telapak tangannya yang tengah asyik kau tilik kemudian mengibaskan tangannya dan gambaran yang selama ini terputar sejak kau duduk di halte bus ini pun memudar.

Ia kemudian berdiri dan berkacak pinggang, “Semua yang ada di benakmu itu salah,” katanya, “…aku sangat paham mengapa bisa begitu.”
Kau musti mendongak untuk menatap wajahnya, “Kenapa?” tanyamu, kemudian kau menujuk bis yang terus menyala meski kau tak kunjung menaikinya, “Tuan, apakah tidak apa-apa membiarkan bus itu terus menyala?” tanyamu lagi.
Tuan ini kemudian duduk lagi membentangkan telapak tangannya di depanmu, “Tidak apa-apa, tanyamu? Kau pikir bus ini bus murahan yang kau naiki setiap pulang bertugas?” tanyanya, “Lihatlah ini. Ini adalah kejadian yang benar-benar menimpamu.” terangnya.

Dan sebuah fragmen terputar lagi.

Entah mengapa nafasmu terengah padahal kau baru saja terjaga. Kau temukan Kopral duduk di sampingmu dan sebuah cahaya paling menyilaukan memekakkan matamu.

“Ada apa?” tanyamu dan kau coba bangkit, “Kau sudah bersiap?” tanyamu lagi.
Segera mungkin Kopral memegangi tanganmu, “Sayalah yang semustinya bertanya begitu,” katanya, “Apa yang terjadi kepada Anda? Apakah Anda mimpi buruk lagi?” tanyanya.

“Bukankah,” kau menunjuk telapak Tuan Merah Muda ini, “…ini kejadian yang sama?” tanyamu.
Tuan Merah Muda segera menampiknya dan kau memekik kesakitan, “Lihat saja,” perintahnya, dan samar-samar kau mendengarnya menggumam seperti ‘Kau pasti akan tersedih.’.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s