Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 5.

Jauh sebelum masakan Ibu siap dan Bapak duduk di meja makan untuk sarapan, Tuan Reserse diam-diam menyelinap keluar seusai bangun lebih awal tetapi tetap Ibu dapati ketika Tuan Reserse keluar dari rumah.

Ibu yang masih mengenakan celemek dan menenteng spatula itu menjelangi Tuan Reserse, “Kamu mau ke mana, Mas?” tanya Ibu, “Kamu harus sarapan dulu. Bapak bisa marah nanti.” katanya lagi mengingatkan.
Tuan Reserse menoleh dan segera mungkin mengembangkan senyum, “Saya harus berangkat saat ini, Bu. Sudah lama sekali rasanya saya tidak melihat salju, jadi, saya pergi pagi-pagi sekali untuk melihat salju di kota.” jawabnya, “Saya harus pergi sekarang. Sampaikan permintaan maaf saya untuk Bapak. Sampai jumpa lagi.” dan tanpa menunggu persetujuan Ibu, Tuan Reserse mengeloyor begitu saja.

Tuan Reserse setengah berlari menjauhi rumahnya demi tak mendengar teriakan Bapak yang meraung memanggil namanya dan bersumpah akan menghukumnya karena tak turut sarapan bersama Bapak-Ibu sekalian. Ia baru berhenti ketika di dapatinya kota telah seputih langit pagi ini.

“Ini benar-benar terjadi?” tanya Tuan Reserse sembari menggelengkan kepalanya, “Bagaimana bisa?”

Kemudian di antara tumpukan salju itu ia dapati sebuah pecahan kaca dan diambilnya pecahan kaca itu kemudian didekatkan dengan telunjuknya. Ia benci melihat darah terutama darahnya sendiri, tapi, barangkali hanya inilah jalan satu-satunya untuk mengetahui apakah yang kini tengah dialaminya merupakan realita atau mimpi imaji.
Ketika Tuan Reserse hendak menyayat kelingkingnya, seseorang menubruk Tuan Reserse sehingga keduanya terpental jauh ke depan. Di saat yang bersamaan, sebuah gundukan salju pecah tepat di tempat Tuan Reserse berdiri tadi dan karenanya Tuan Reserse segera menoleh dan melongo pun keheranan. Ia kemudian mendapati darah melinang melewati pelipis matanya dan kemudian dipeganginya kepala yang luka itu.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa berhenti di jalan di saat salju turun begini? Kau bahkan tak memakai baju hangat.” gerutu orang yang menyelamatkan Tuan Reserse ini, “Kau bisa saja…” dan mulut orang ini terbungkam begitu dilihatnya Tuan Reserse memekik atas lukanya.
“Kau terluka?” tanya orang ini, “Aku berniat menyelamatkanmu dari gundukan salju di atas gedung itu, tapi kau justru terluka karenaku. Berdirilah, aku akan membawamu ke rumah sakit.” dan orang ini berdiri untuk mencegat taksi yang dilihatnya dari kejauhan dan segera membuka pintu taksi itu dan membantu Tuan Reserse berdiri sebelum memasukkannya ke taksi.

Tuan Reserse merasa tak asing dengan orang yang menekan kepalanya ini agar darah tak banyak keluar dari sana. Namun, di banding menanyakan siapa orang ini dan mengapa orang ini menyelamatkannya dari gundukan salju, luka di kepalanya telah mengambil alih dunianya kini. Dalam dekapan orang ini, Tuan Reserse semaput karena tak mampu lagi menahan sakit yang di deritanya.

Orang ini mengecap dan untuk sesaat membuang wajahnya, “Kau sebut dirimu itu seorang polisi, Mas? Dengan luka sebegini saja kau sudah semaput.” dan ia menyeka ujung matanya, “Nanti kalau mengejar penjahat bagaimana?”

***

Tuan Reserse membaui bau karbol di seluruh sudut ruangan persegi ini. Ia menemukan sebuket bunga di samping tempat tidurnya. Ia menemukan Bapak tengah bercakap-cakap di depan ruang tempatnya dirawat dan karenanya ingin memanggilnya. Ia bangkit dan merasakan nyeri di kepalanya kembali menyerang. Meski begitu, ia masih bisa berdiri bahkan dengan menenteng infus yang menusuk nadinya itu berjalan menjelangi Bapak.

“Sepertinya dia tengah berusaha melukai dirinya sendiri ketika aku menyelamatkannya. Dia seperti ingin memastikan apakah di dunia ini dia bisa terluka ataukah tidak. Aku tidak yakin apakah dia akan melupakan semua ini. Tapi, tolonglah lebih kau jaga lagi dia.” katanya, Bapak mengangguk, “Jika dia bangun, jangan ceritakan apapun tentang aku. Aku adalah…”
“Bapak?” panggil Tuan Reserse yang telah begitu dekat dengan pintu, “Saya butuh…” dan mendengar suara seseorang berlari, Tuan Reserse pun urung.
Bapak segera membuka pintu, “Kamu butuh apa?” tanyanya, “Bapak akan sediakan apapaun.”
“Bapak, kenapa orang itu berlari?” tanya Tuan Reserse, “Bukankah ia sedang berbicara dengan Bapak? Apakah ini salah saya?” tanyanya lagi dan hatinya ditumbuhi perasaan bersalah.
Bapak mengibaskan satu tangannya, “Tidak.” katanya, “Sudah, jangan dipikirkan. Dari pada itu, siapa yang menyuruh kamu turun dari ranjang dan berjalan menjelangi Bapak? Kamu kan bisa berteriak memanggil Bapak.” gerutunya.

Bapak kemudian menuntun Tuan Reserse berjalan menuju ranjang dan membaringkan anak semata wayangnya itu di sana tetapi terus menggerutu sehingga Tuan Reserse menggumam seperti, ‘Walau tengah terluka begini, aku tetap saja diomeli.’.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s