Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 8.

Bagian 8.

Memangnya apa yang sebenarnya terjadi? batinmu. Kemudian, seperti halnya gambaran sebelumnya, kau lari pagi dengan Kopral dan Kapten. Ketika telah berhasil mendaki dan menuruni bukit, tetiba Kopral dan Kapten kompak pamit untuk ke kamar kecil. Mereka pun menitipkan tas mereka kepadamu.
Kau menunggu mereka di bawah pohon cendana yang teduh, sesekali kau akan menoleh ke arah jalanan—tempat Kopral dan Kapten nantinya akan muncul dan karena berpikir kau akan mengajak mereka berkemah di bawah pohon ini pun karena mereka begitu lama. Saat kau kembali menoleh, sebuah balok kayu melesat ke kepalamu dan dihantam benda sekeras itu, kau langsung ambruk ke tanah sementara kepalamu berdarah-darah.

Kau menunjuk telapak tangan “S-siapa yang melakukan itu kepadaku?” tanyamu, “Siapa yang tega?”
Karena menjadi kesal kembali, Tuan Merah Muda menampik tanganmu lagi dan yang kali ini begitu keras, “Aku bilang lihat dulu.” katanya, “Nanti kau juga tahu.”

Orang-orang yang memakai seragam ini kemudian mengencangkan tas di punggung dan dadamu itu. Tak cukup dengan itu, mereka kemudian mengikat tubuhmu dengan tali dan membuat simpul mati agar kau jika suatu waktu terjaga, tak dapat membukanya. Entah mengapa postur tubuh keduanya begitu tak asing bagimu.
Mereka menaiki kapal sembari membawa tubuhmu dan ketika telah sampai di tengah danau yang dalam, mereka kemudian menceburkan tubuhmu di sana dan kau segera lesap, karam, karena pemberat yang mendekap tubuhmu berkali-kali lipat lebih berat dari berat tubuhmu sendiri. Sebelum sampai di dasar danau, kau memang sempat sadar. Kau mencoba membuka simpul agar dapat melepaskan tas-tas yang mengekang tubuhmu itu tetapi waktumu tak lagi banyak sementara simpul tali itu begitu pelik. Kau bahkan memanggil-manggil nama mereka seperti, ‘Kopral, Kapten, tolong aku. Aku di sini. Kalian pasti mencariku, bukan?’. Akhirnya kau menelan begitu banyak air dan hilang kesadaran sebelum tahu-tahu berada di halte ini dan dibangunkan Tuan Merah Muda dan mengatakan kepadamu bahwa kau telah mati. Kau tak serta merta mempercayainya, dan ketika sebuah mobil melintas di depan halte dan Tuan Merah Muda mendorongmu, kau tak terlindas sama sekali. Kau tercengang, dan di ketika itu kau percaya kepada Tuan Merah Muda dan apa yang tengah dilakukannya di halte ini, seperti mengantarmu menuju alam akhirat.

Saat kau teringat tentang Jenderal yang sempat memintamu untuk mengunjungi ruangannya dan kau diberitahu bahwa kau akan menggeser posisi Kapten sementara kau menjadi Kapten, Tuan Merah Muda bertanya, “Apakah kau mau melihat orang-orang yang telah memusnahkanmu?” tanyanya. “Kau pasti tak pernah menyangkanya.”
Kau bangkit, “Tidak, Tuan. Mari kita masuk ke dalam bis.” katamu, “Semua orang telah menunggu.”

Kau berjalan menjelangi bis itu, tapi, Tuan Merah Muda meraih lenganmu dan di ketika itu ia membawamu terbang melesat jauh ke langit dan kau pun tentu memekik lantaran begitu ketakutan.

Kopral menaiki panggung seusai namanya dipanggil, ia tak dapat menyembunyikan air mukanya yang bernas bahagia. Di ketika itu, pangkatnya dinaikkan dan semua orang bertepuk tangan kepadanya. Sebelumnya Kopral adalah seorang yang begitu payah di ketentaraan, kini ia telah menjadi seorang yang berprestasi dengan naik pangkat.

Aku ingin tahu apa pangkat barunya. tanyamu dalam hati.
Tuan Merah Muda menoleh ke arahmu, “Kau pikir?” tanyanya, “Dia kini seorang sersan, Sersan.” terangnya.
Kau sontak menoleh, “Benarkah?” air matamu berkaca-kaca, “Syukurlah.”

Seusai hatimu berbunga karena prestasi Kopral yang kini menjadi seorang sersan, kau memandang berkeliling dan berharap menemukan Kapten. Bagaimana dengan Kapten? Setelah aku mati, dia seharusnya tetap menjadi seorang Kapten, bukan?
Tuan Merah Muda mengangguk meski yakin kau mungkin tak melihat kepadanya, “Tentu saja.” katanya, “Tapi, apakah kau tahu mengapa aku membawamu ke tempat pelantikan kedua sahabatmu ini?” tanyanya.

Kau menggeleng pelan tapi tak pernah menoleh ke arah Tuan Merah Muda. Kau dapati Kapten tengah berjalan menjelangi Kopral dan di ketika itu segera mendekap tubuh Kopral erat-erat dan mereka terlihat begitu bahagia. Di saat itu pula kau teringat mengapa kau lebih memilih untuk menjelangi bus menuju akhirat ketimbang menjelangi orang-orang yang telah memusnahkanmu. Jantungmu pun menjadi begitu berdebar-debar.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s