Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 6.

Sudah dua hari lamanya Tuan Reserse di rawat di rumah sakit dan libur dari tugas-tugasnya yang menumpuk. Ia bersyukur karena di atap rumah sakit ini terdapat sebuah taman kecil yang biasa digunakan orang-orang seperti para pasien dan anggota keluarga untuk melihat matahari terbenam atau melihat pemandangan kota pada malam hari.
Seorang duduk di samping Tuan Reserse dan pada saat itu pula keberadaan orang ini menyita perhatian Tuan Reserse.

Tuan Reserse sempat membuang pandangan untuk mesem dan kembali menoleh, “Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Tuan Reserse nyaris memuntahkan tawanya, “Bukankah hari ini bukan saatnya perayaan hari hantu?” tanyanya lagi dan ia masih menahan tawanya.
“Kau pasti merasa sesuatu yang aneh tengah terjadi, bukan?” tanya orang ini, ia kemudian menggumam, “Aku tidak percaya kau menertawakan dirimu sendiri.”

Tawa Tuan Reserse segera karam. Demi apapun, meski tak dilihatnya sama sekali, orang ini—suaranya bahkan postur tubuhnya sama sekali tidak asing bagi Tuan Reserse.

“Anda siapa?” tanya Tuan Reserse, air mukanya menjadi pakem, “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya lagi, antusias. Ia kemudian memegangi kepalanya karena sebuah ingatan yang samar-samar mengetuk benaknya.

Orang berjubah hitam ini bangkit. Di saat yang sama, Bapak berlari ke arah Tuan Reserse dan si Jubah Hitam menoleh atas bagaimana langkah kaki Bapak yang nyaring karena memburu. Setelah begitu dekat dengan Tuan Reserse, Bapak menaiki bangku untuk kemudian menangkis Jubah Hitam dari hadapannya dan Tuan Reserse dan Jubah Hitam jatuh ke dasar rumah sakit. Tuan Reserse pun dirasuki gementar. Bapak telah membunuh seseorang? tanyanya dalam hati. Apakah ini mimpi?
Tuan Reserse bangkit dan segera menilik ke dasar rumah sakit yang masih dapat dilihatnya dengan jelas. Ia memang terkesiap atas bagaimana Bapak menendang Jubah Hitam sehingga ia jatuh, tapi, ia lebih terkesiap lagi mengetahui realita bahwa Jubah Hitam masih hidup bahkan bangkit berdiri. Ketika Tuan Reserse mengedarkan pandangan ke Bapak dan seluruh taman, orang-orang seperti tak peduli pada perlakuan kasar Bapak dan ia makin tak tahu lagi apa yang sebenarnya telah terjadi.

Bapak menjelangi Tuan Reserse dan memegang lengannya kemudian membuatnya berdiri, “Dengar ya, Mas, jangan pernah berbicara kepada orang berjubah hitam itu. Ia sangat berbahaya.” katanya, “Bapak tahu kamu kebingungan, tapi yang perlu kamu lakukan hanyalah percaya kepada Bapak. Bapak akan selalu melindungi kamu.”

Tuan Reserse benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa, tungkai-tungkainya lemah dan ia jatuh dalam dekapan Bapak. Tanpa banyak berkata-kata lagi, Bapak segera membawa Tuan Reserse turun untuk menuju kamarnya. Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, kepala Tuan Reserse berdenyut-denyut dan karenanya ia terus memeganginya. Kau pasti merasa sesuatu yang aneh tengah terjadi, bukan? Aku tidak percaya kau menertawakan dirimu sendiri. Kata-kata Jubah Hitam itu pun terus terngiang-ngiang di kepala Tuan Reserse dan karenanya Tuan Reserse memekik kesakitan dan menyayat kesunyian di sepanjang koridor.

***

Setelah menyelimuti Tuan Reserse yang terlelap dengan selimut, Bapak menoleh ke arah jendela. Ia membuka jendela itu dan mendapati Jubah Hitam ada di seberang jalan—di depan rumah sakit ini. Bapak naik ke jendela, ia kemudian melesat menuju tempat Jubah Hitam dan segera mencekiknya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Bapak dengan kesumatnya, “Aku ingin dia ada di dunia ini. Selamanya.”
Sembari memegangi lengan Bapak yang besar itu Jubah Hitam mesem, “Untuk apa Anda menanyakan pertanyaan yang Anda sendiri sudah tahu jawabannya?” berhasil melepaskan kekangan atas cengkeraman Bapak, Jubah Hitam kemudian mundur beberapa langkah, “Saya ingin dia kembali ke dunianya yang sesungguhnya. Walaupun, di sana mungkin dia sudah tak lagi bernyawa.” terangnya.

Karena saking kesalnya, Bapak hanya mengibaskan satu tangannya, dan karenanya Jubah Hitam menjadi terlempar begitu jauh bahkan membentur tiang lampu di pinggiran jalan. Jubah Hitam mencoba bangkit, tapi, Bapak mengibaskan tangannya beberapa kali lagi sehingga beberapa kali lagi pula tubuh Jubah Hitam terus membentur tiang-tiang di pinggiran jalan itu sampai berdarah-darah. Baru ketika jubah si Jubah Hitam ini terkuak, Bapak berhenti mengibaskan tangannya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s