Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 9.

Bagian 9.

Kau berbalik, tak kerasan lagi ada di gedung itu. Tahu-tahu, Tuan Merah Muda sudah ada di sampingmu dan menilik bagaimana kau tertunduk dan menyeka air mata.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan?” tanya Tuan Merah Muda dan berkacak pinggang di depanmu, “Kau punya pilihan dan aku akan menurutinya apapun itu. Cepatlah putuskan, mumpung busmu belum tiba.” terangnya.
Tapi kau tak tahu harus berkata apa, sehingga Tuan Merah Muda bertanya lagi. “Apa yang akan kau lakukan?” kau mendongak, menatap Tuan Merah Muda. Pertanyaan satu itu menjadi pertanyaan paling sulit yang pernah kau dengar. “Apakah aku musti memusnahkan mereka?” tanyanya lagi.
Kau sontak menggeleng, “Tidak, Tuan. Jangan lakukan itu.” pintanya, “Biarkan saja. Mereka saat ini begitu bahagia. Saya tak ingin merusaknya.”

Tuan Merah Muda mengangguk, ia membiarkan kau melintas dan mengekor kepadamu ke manapun kau pergi. Kau tak tahu harus pergi ke mana, toh, menurut Tuan Merah Muda, bus untukmu belum jua tiba. Kau hanya ingin berjalan menjauh.

“Taman kanak-kanak?” tanya Tuan Merah Muda. Kau terjaga, “Ada apa dengan tempat ini?”
Rupanya aku begitu merindukan anakku. batinmu. “Saya ingin bertemu anak saya, Tuan.”
“Apapun itu.” Tuan Merah Muda duduk di bangku di beranda taman kanak-kanak, “Kau bisa melakukan apapun sebelum pergi.”

Kau turut duduk. Dan mendapati seorang wanita memasuki taman kanak-kanak dan begitu menyita perhatianmu, kau bangkit dan berjalan menjelanginya dan berniat mendekapnya tetapi tubuh wanita itu tak pernah tergapai olehmu betapapun kau begitu dekat dengannya bahkan sama sekali tak bersekat.

Kau teringat kematianmu sendiri dan pasrah lalu duduk di bangku, “Apakah dia istrimu?” tanya Tuan Merah Muda. “Dia begitu cantik.” akunya.

Kau mengangguk. Istrimu itu duduk di bangku yang terletak persis di depanmu dan Tuan Merah Muda. Ia terlihat tengah asyik memandangi sebuah foto di dalam dompetnya, ia pun tersenyum karenanya dan saat tidak ada siapapun yang memperhatikannya, ia akan dengan kilat menyeka ujung matanya. Agaknya hatinya telah bernas oleh kerinduan dan kabar darimu ataupun ketentaraan tak pernah pasti. Kau bisa saja gugur di tengah perjuangan, tertembak di perbatasan atau bertemu maut yang sembunyi di antara kawan-kawanmu sendiri. Istrimu sangat mengetahui hal itu tapi paling tidak ingin mempercayainya.

Ketika istrimu bangkit, kau turut bangkit. Rupanya anak-anak di dalam kelas telah mulai menghambur keluar. Pelajaran hari itu rupanya telah usai. Kau berjalan mengekor kepada istrimu yang menjelangi anak semata wayangmu sementara Tuan Merah Muda mengekor kepadamu. Kau kemudian mengikuti mereka berjalan keluar taman kanak-kanak dan berjalan menuju rumah.

“Kau seharusnya berjalan di jalan ini juga kan?” tanya Tuan Merah Muda, “Kau pria yang sangat malang.”
Kau mesem, “Begitulah.” katamu dan membuang pandangan, “Tapi saya tidak menyesal atas takdir saya, saya hanya tak tahu bagaimana nantinya jika mereka tahu.” kau pun menunjuk ke arah anak dan istrimu. Saya tidak ingin mereka sedih dan terluka.

Di sebuah kelokan jalan, kau berhenti karena anak istrimu pun turut berhenti.

Istrimu bertanya kepada anakmu, “Ada apa?” kemudian istrimu itu menoleh, rupanya anakmu itu memandangi toko kue beras. “Kamu mau kue beras?” tanyanya lagi.
Dan anakmu menggeleng pelan, “Tidak, Ibu.” jawabnya, “Aku hanya mau kue beras yang dibelikan oleh Ayah nanti.” katanya lagi.
Istrimu itu mesem, “Kalau begitu,” katanya, “…mari kita berdoa semoga Ayah segera pulang.” katanya. Bukankah ini sudah lebih dari tiga minggu? Apakah dia ada tugas tambahan? Kenapa dia belum jua pulang? Apa yang terjadi kepadanya.

Air matamu luruh lagi. Kau bahkan dapat mendengar suara hati istrimu itu.

Melihat istri dan anakmu telah jauh di depan, Tuan Merah Muda menoleh dan mendapati kau terbengong-bengong lantas bertanya, “Ada apa?” tanyanya, “Bukanlah seharusnya kita mengikuti mereka?” tanyanya lagi.
Kau menoleh, “Tuan?” Tuan Merah Muda menatapmu, “Saya harus membelikan anak saya kue beras. Dan…”
“Dan?” desak Tuan Merah Muda, “Kau mau apa lagi?”
“Aku mungkin lupa belum menulis surat wasiat untuk mereka.” dan dengan menggenggam tangan Tuan Merah Muda kau bertanya, “Bolehkah?”

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s