Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 7.

Jubah Hitam merasakan cairan kental itu mengalir melewati matanya berkali-kali dan membikin penglihatannya membuyar semakin lama. Ia tak berkata apapun, tapi Bapak ambruk ke tanah bahkan dengan posisi ambruk begitu ia berjalan menuju Jubah Hitam dan bersujud di kakinya. Jubah Hitam ikut ambruk, ia tergeletak di tanah. Ia kemudian menggumam seperti, ‘Kenapa di dunia ini luka selalu segera pulih?’ dan, ‘Rasanya saya ingin merasakan luka yang sesungguhnya atau mati. Dengan begitu saya tak perlu lagi berada di dunia ini bahkan diserang oleh ayah saya sendiri.’.

“Maafkan Bapak, Mas. Bapak tidak tahu kalau itu kamu.” katanya, lalu sembari menilik luka Jubah Hitam, Bapak mendekatkan tangannya, “Kamu baik-baik saja, kan?”

Jubah Hitam menampik tangan Bapak, tangan yang sesaat yang lalu telah membuat kepalanya pecah. Ia kemudian bangkit dan sebelum pergi dari tempat itu, ia menunduk ke arah Bapak yang sampai saat itu pula masih saja duduk di tanah dan mengotori seragam kebesarannya. Jubah Hitam pun berkata, ‘Saya baik-baik saja.’ dan, ‘Saya tidak akan membiarkan Anda membuatnya jatuh ke dalam dunia ini makin dalam lagi. Ingat itu!’. Dan sebelum Bapak mengatakan perasaan di dalam hatinya, Jubah Hitam lebih dulu secepat kilat berlari meninggalkan Bapak yang kemudian berbicara di dalam hati. Aku ingin membuatnya bahagia. Kau tahu, bukan? Ibunya mati saat melahirkannya. Ayahnya menjadi seorang polisi dan ia bangga-banggakan, tapi, ayahnya yang seorang polisi itu kemudian gugur dalam tugas saat ia berumur sepuluh tahun dan karenanya ia meninggalkan surat wasiat dan menginginkan ia untuk tak pernah mengikuti jejak ayahnya sama sekali. Tapi, saking sayangnya ia dengan sang ayah, ia tetap saja menjadi seperti ayahnya walau ayahnya itu tahu hal itu adalah sesuatu yang begitu sulit baginya. Aku tahu bagaimana kau bisa lahir di dunia ini, itu hanya sama seperti aku dan diriku yang lain. Aku pasti…

“S-siapa yang melakukan ini?” kata seorang polisi dan membantu Bapak berdiri, “Apakah kau terluka?”
Bapak menggeleng, “Jubah Hitam itu,” kata Bapak sembari mesem, “…rupanya dia juga Tuan Reserse, anak kita.” terangnya.
“Jadi kau sudah bertemu dengannya?” tanya polisi itu lagi, “Aku pikir juga ini memang sudah waktunya. Bersiaplah, kita akan lebih sering berhadapan dengannya.” katanya.

Bapak menoleh ke arah dirinya sendiri yang beberapa tahun lebih muda darinya saat ini, ia menemukan mata dirinya yang muda itu dirasuki iblis dan karenanya bertanya pada diri sendiri mengapa ia tak lagi nyaman berada di samping dirinya sendiri yang bahkan telah membuatnya tercipta di dunia ini.

***

Tuan Reserse terjaga karena mendengar kegaduhan di luar ruangan tempatnya dirawat. Esok adalah hari kepulangannya, namun, jika malam ini ia sama sekali tak bisa tidur, kepulangannya pun bakal jadi molor.
Penasaran, ia akhirnya dengan menenteng infus itu berjalan mendekati sumber suara dan dari pintu yang sedikit terkuak, ia melihat Ibu dan Bapak tengah berseteru entah apa yang mereka bicarakan di ketika itu.

“Ibu ini bagaimana, Ibu kan orang tuanya juga.” kemudian Bapak mengedarkan pandangan dan menangkup wajahnya sendiri dan terlihat begitu kesal, “Masa sih, Ibu lebih patuh kepadanya?” tanyanya tak percaya.
Ibu berkacak pinggang, baru kali pertama ini Tuan Reserse melihat Ibu bertingkah demikian, “Bapak pikir siapa yang menciptakan kita di dunia ini, huh?” tanyanya kembali, “Ya, dia itu. Ya, diri Bapak yang…”
“Ada apa sih, Ibu, Bapak?” tanya Tuan Reserse yang ada di tengah-tengah Ibu-Bapak sekalian, “Karena kalian, saya tidak bisa tidur sama sekali. Lagi pula, apakah kalian tidak peduli dengan para pasien yang lain?” tanya Tuan Reserse dan memandang berkeliling.
Bapak menggenggam tangan Tuan Reserse, “Dengar, Mas. Di rumah sakit ini tidak ada seorang pun selain kamu. Bahkan,” kata-kata Bapak terhenti. Ibu mencengkeram tangan Bapak begitu erat sehingga Bapak menghentikan penjelasan atas realita yang terjadi kepada anak semata wayangnya, Tuan Reserse, “Biar, Bu. Biarkan Bapak menjelaskan apa yang sudah semustinya Bapak jelaskan.”

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s