Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 10.

Bagian 10.

Tentara ini berjalan menuju kedai panekuk daging dan memasuki sebuah ruangan yang tertutup. Ia menemukan para tentara tengah berpesta, jadi ia menyunggingkan senyum dan seperti mengenal orang-orang itu, tentara ini membuka sebotol arak beras dan duduk di antara semuanya tanpa merasa canggung sama sekali. Ia kemudian memanggil pelayan, dan seorang pelayan ambruk di hadapannya. Ia memesan tentu saja panekuk daging, dan mie kacang hitam dan semangkuk penuh tteokbokki dan membikin semua orang makin heran lagi. Saat seorang tentara hendak menghardiknya, Kapten mengibaskan satu tangannya mengisyaratkan agar tentara yang naik pitam itu mengurungkan niatnya dan membiarkan tentara ini turut berpesta batapapun sepersatu dari mereka tak pernah sama sekali mengenalnya.

Sadar dirinya menjadi pusat perhatian, tentara ini mengedarkan pandangan dan menunduk mesem, “Saya boleh bergabung bukan, Kopral, Kapten?” tanyanya dan terdapat penekanan pada kata ‘Kopral’, ia lantas menoleh ke arah Sersan dan Kapten dan menutup mulutnya dan bertingkah seperti terkejut dan melakukan suatu kesalahan paling besar, “Maaf. Maksud saya, Sersan dan Kapten.”
Hening. Tentara ini mendapati Sersan mengepalkan tangannya. Tapi, sejurus kemudian ia dengar Kapten mulai berbicara, “Tentu saja boleh. Kau tentara juga. Berpestalah bersama kami malam ini.” dan meski Kapten berbisik di telinga Sersan, entah kenapa tentara ini dapat mendengar dengan jelas setiap kata yang terucapkan, “Kita urus tikus ini nanti. Sabarlah.” katanya.

Tentara ini menikmati makannya dan sesekali ia menyeringai dan berkata, ‘Tikus?’ dan kemudian mesem lagi karena orang-orang tiada henti memandang kepadanya.

***

Para tentara telah pergi, tapi, tentara ini masih bertahan di dalam kedai bahkan perutnya seperti tak pernah dapat penuh walau ia adalah satu-satunya orang yang memesan begitu banyak menu makanan.

Sersan dan Kapten duduk di depan tentara ini, dan karenanya tentara ini menjadi gugup. Tentara ini pun memandangi keduanya dan keduanya menatapnya tajam.

Tentara ini tersungkur di depan kedai. Sersan dan Kapten memang tak pernah mengucapkan sepatah kata pun kepadanya, tapi bagaimana ia dikeluarkan dari kedai panekuk daging ini telah menceritakan segalanya.
Sersan dan Kapten kembali masuk ke dalam kedai, sementara tentara ini bangkit dan menoleh ke arah kedai sebelum berjalan meninggalkan tempat itu. Ia baru berhenti ketika sampai di kedai penjual kue beras. Ia memang tidak memilih kue yang paling besar, tapi ia memilih yang tercantik. Ia meminta secarik kertas kepada penjual kue dan mulai menuliskan sesuatu di sana.
Tentara ini tercengang melihat seorang anak duduk di beranda rumah dan berteman foto ayahnya yang seorang serdadu terbingkai indah dalam dekapan mungil. Sesekali ibunya akan keluar rumah untuk menilik anak ini dan dengan berat hati akan menyampaikan bahwa ayah dari anak ini mungkin tidak pulang hari ini. Anak ini seharusnya masuk. Jika pun ia masih ingin tetap menunggu, harusnya ia menunggu ayahnya pulang di dalam rumah.
Tentara ini menyeka ujung mata sebelum menyunggingkan senyum dan membuka gerbang rumah dan membikin ibu-anak ini menoleh dan urung masuk ke dalam rumah padahal pintu telah terbuka.

Ibunya segera menjelangi tentara ini betapapun dengan jarak sejauh itu dapat dilihatnya dengan jelas bahwa seseorang nun jauh adalah seorang berbaju hijau.

“Ada keperluan apa ya, Anda datang selarut ini?” tanya sang ibu, “Adakah yang bisa saya bantu?” tanyanya lagi.
Tentara ini menyodorkan kotak kue beras yang dibelinya, “Ini,” katanya, “Bapak menitipkan ini kepada saya, beliau juga sangat meminta maaf karena tidak dapat memberikannya langsung.” terangnya.
Sang ibu seperti akan jatuh ke tanah jika tentara ini tak memegangi kedua lengannya, “Maksud Anda apa, ya? Saya tidak mengerti.” tanyanya dan menerima sodoran kotak kue itu, “D-dia akan kembali, bukan?” dalam matanya yang berkaca itu, menyembul cahaya asa.

Sang Ibu nyaris terlonjak ketika kotak kue beras berpindah tangan.  Anaknya tahu-tahu telah ada di sebelahnya dan mangamati tulisan yang ada di atas kotak kue beras itu.

Wajahnya terlihat begitu sumringah, “Wah!” serunya, “Benar, ini memang dari Ayah. Ini tulisan Ayah. Kira-kira Ayah bilang apa ya, di suratnya ini?” tanyanya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s