Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 8.

Tuan Reserse tentu kebingungan, “Apa yang sebenarnya telah terjadi?” tanyanya, kemudian ia menilik sepersatu wajah Bapak-Ibu, “Bapak? Ibu?” desaknya.

Ibu merangkul Tuan Reserse dan berbalik kemudian membawa Tuan Reserse ke dalam. Sampai saat itu ia masih mencengkeram lengan Bapak dan ketika mulai memasuki ruangan Tuan Reserse, Ibu melepaskan cengkeraman erat itu dengan melemparkan lengan Bapak dengan begitu kencang sehingga Bapak terlempar ke ujung koridor. Tuan Reserse tak pernah menyadari ihwal ini, tapi, ia mendengar suara gaduh lain dari kejauhan. Meski begitu ia tak mungkin diijinkan untuk meniliknya oleh sang Ibu.

Ibu menyelimuti Tuan Reserse dan berkata, “Sudah, kamu tidur saja.” katanya, “Tidak usah memikirkan apapun.”

Banyak yang ingin Tuan Reserse tanyakan ketika itu, tapi belaian Ibu pada rambut Tuan Reserse telah membuat Tuan Reserse dihinggapi rasa kantuk yang begitu berat sehingga ia pun terlelap.
Berhasil membuat Tuan Reserse terlelap, Ibu keluar ruangan dan secepat kilat berlari menjelangi Bapak yang masih berdiam di antara reruntuhan tembok yang tak sengaja ia hancurkan.

“Kenapa kau masih berdiam di situ?” tanya Ibu sembari bersedekap, “Aku tahu kau baik-baik saja.” katanya lagi.
Bapak terjaga, “Kenapa Ibu tidak mengerti maksud Bapak?” tanyanya kembali. Ia menyingkirkan reruntuhan yang menimpa tubuhnya dan bangkit, “Bapak sudah tidak bisa lagi melanjutkan sandiwara ini.”
Wajah Ibu langsung mbesengut, “Jadi Bapak mau menceritakan segalanya kepada anak kita?” tanya Ibu, “Bapak mau menjelaskan bahwa sesungguhnya dia telah mati, bahwa tubuhnya telah di makan hewan buas dan di dunianya yang nyata, ia tak dapat lagi hidup, begitu?”

Bapak sedikit menyesal ketika mendapati mata Ibu berkaca-kaca, meski begitu ia tetap melanjutkan kata-katanya.

Bapak mengangguk, “Maaf, Bu. Bapak tidak punya pilihan lain.” katanya, “Ibu atau siapapun tidak ada yang bisa menghalangi Bapak, bahkan dia sekalipun.”
“Bapak pikir—Bapak bisa menghadapinya?” tanya Ibu, ia kemudian menghampiri dan menggenggam kedua tangan Bapak, “Pak, Ibu sangat bahagia berada di dunia ini. Ibu tahu anak kita juga pasti bahagia.”

Bapak melepaskan pegangan tangan Ibu, ia menggeleng pelan dan berjalan merasuki koridor menjauhi Ibu. Berpikir dengan berlari Bapak dapat menjauhi Ibu, tapi karena Bapak terjatuh di ujung koridor karena ujug-ujug keberadaan seseorang di hadapannya dan membantingnya ke lantai telah membuatnya memekik kesakitan. Bapak merasakan nyeri di lengannya dan amat menyiksa, anehnya luka itu tak lekas hilang sama halnya luka-lukanya yang lain. Ketika Bapak menilik seseorang yang membantingnya ke lantai, ia temukan polisi itu, yang dirinya sendiri, tengah menunduk dan menaikkan lengan kemejanya.
Ibu yang melihat kejadian itu segera berhenti dan sontak menangkupkan tangannya ke mulutnya yang menganga.

“Bapak, cepatlah minta maaf kepadanya.” kata Ibu dan mengibas-ngibaskan satu tangannya. “Tolong maafkanlah dia, maafkan dirimu sendiri itu.” katanya lagi dan Ibu ambruk ke lantai untuk memohon kepada polisi yang suaminya itu.

Tapi polisi ini alih-alih memaafkan Bapak malah memegang lengan Bapak yang terluka sehingga Bapak makin memekik lagi. Bapak memang kesakitan, meski begitu ia tak pernah menyerah atas tekadnya untuk mengungkapkan yang sebenarnya—segalanya kepada Tuan Reserse. Dengan mata berkaca Bapak menatap mata dirinya yang juga berselimut kebencian yang sama besarnya dengan yang Bapak miliki.

***

“Bangunlah,” suara itu baru mulai berbisik namun tak asing sama sekali di telinga Tuan Reserse, “…bangun!” suara itu berbisik kembali.
Tuan Reserse terjaga, “Siapa di sana?” tanyanya, ia mendapati dirinya berdiri di hamparan pasir putih yang menyilaukan mata. Ada suara riak ombak, namun ketika ia mengedarkan pandangan  tak ditemukannya pantai manapun. Tempat apa ini?

Jubah Hitam muncul di hadapan Tuan Reserse tetiba, sehingga Tuan Reserse pun menunjuk sosoknya. Bahkan ia juga muncul di dalam mimpiku, hebat. Jubah Hitam kemudian membuka tudung yang menutupi kepalanya. Sampai saat itu ia masih menunduk sehingga Tuan Reserse masih tak dapat mengenali sosok tak asing di depannya kini.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s