Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 11.

Bagian 11.

Sementara anaknya tengah berusaha membaca apa yang ayahnya tulis pada sepucuk surat di atas kue beras itu, sang Ibu mengantar tentara ini sampai ke halte bus betapapun tentara ini terus menolaknya. Ia ingin menemani tentara ini, memastikan tentara yang terlihat seperti seorang remaja dan begitu mengusik hatinya itu mendapatkan bus yang mungkin terakhir kalinya untuk hari ini. Tetapi dirinya sendiri dan tentara ini mengingatkan bahwa anaknya telah menungguinya di rumah dan sendiri. Akhirnya sang Ibu mantapkan hati, ia meninggalkan tentara kecil ini di halte meski sampai saat itu pula tentara ini masih belum mendapatkan bus menuju ke rumahnya.

Untuk anak Ayah,

Jangan selalu menunggu Ayah di depan rumah. Ayah tidak selalu pulang saat kamu tunggu, tolong dengarkan nasihat Ibu.
Ini kue beras yang kamu minta. Maaf, Ayah tidak bisa pulang.

Jaga kesehatan kamu ya…

Dari,
Ayah

Sang Ibu membuka pintu membuat anaknya sontak menoleh, “Apa kata Ayah, Nak?” tanyanya dan berjalan menghampiri anaknya, “Kapan Ayah akan pulang?” tanyanya lagi.

Anaknya mengangkat bahu, ia kemudian memakan kue beras miliknya tanpa berniat membaginya kepada Ibu.

Giliran ibunya membaca sepucuk surat itu, dan ia mesem. Itu memang tulisan suaminya. Semilir angin berhembus, rupanya pintu belum ditutup sang Ibu meski ia yakin telah menutupnya. Saat hendak menutup—menguncinya, ia dibuat heran dengan keberadaan tentara di depan pintu itu.

“Ada apa?” tanyanya kemudian sang Ibu menilik gerbang rumahnya yang terbuka, Ia bahkan membuka gerbang rumah. Siapa orang ini sebenarnya?
Dia membungkukkan badan, “Maaf. Mungkin saya tadi gugup dan menjadi lupa. Saya punya satu pertanyaan.” terangnya, “Apakah Bapak telah menulis surat wasiat untuk Ibu?” tanyanya.
Sang Ibu menggeleng pelan, “Dia belum menulisnya. Aku belum menemukan surat itu di manapun.” dan tentara ini melihat mata sang Ibu berkilauan, “Oleh karena itu, aku yakin sekali dia akan kembali.”
“Apakah Ibu yakin?” tanya tentara ini, “Apakah Ibu sudah mencarinya? Bapak mungkin meletakkan surat itu di tempat lain.”
Sang Ibu masih betah berdiri meski seharusnya mungkin ia dan tentara ini duduk di kursi yang ada di beranda, “Aku yakin. Dia bahkan tidak menanggalkan id miliknya.” tentara ini menepuk dahinya dan membikin Ibu nyaris kehilangan kata-katanya, “D-dia memang akhir-akhir ini sering terburu-buru.” terangnya.
“Ah, dasar Jenderal sialan!” geramnya, “Ini semua salahmu.” lanjutnya masih menggumam.

Menyadari sang Ibu memandangnya dengan tatapan aneh, tentara ini lantas membungkukkan badannya lagi dan kemudian pamit.

***

“Berapa banyak botol yang akan mereka habiskan?” kata Tuan Merah Muda, “Ah, dasar!” ia lantas mengangkat tangannya dan bersiap melukai keduanya tapi tentara ini menampiknya.
Ketika Tuan Merah Muda akan protes, tentara ini pun berkata, “Hentikan.” katanya, “Kau tidak perlu melakukannya. Aku bahkan hanya butuh bicara dengan mereka.” terangnya.

Mafhum maksud tentara ini, Tuan Merah Muda mengembalikan wujudnya ke wujud semula dan kau pun setelah diubah menjadi dirimu duduk di tengah-tengah Sersan dan Kapten yang tengah mabuk dan mereka segera memandangimu.

Sersan tersenyum, “Oh, Sersan?” panggilnya dan sambil menegak botol araknya membelalakkan mata, “Sejak kapan kau di sini? Ini, minumlah!” ia lantas memberikan botol arak beras itu kepadamu.
Kapten mendorong kepala Sersan, Sersan bahkan nyaris ambruk ke belakang, “Hei, yang Sersan itu kan dirimu. Orang ini…” Kapten menunjukmu, “Entahlah.” ia mengangkat kedua bahunya.
“Apakah kalian tidak menyesal?” tanyamu, “Dia memang telah mati, tapi dia kedinginan di bawah sana.”
Ujug-ujug Sersan membanting tangannya di meja, “Tidak menyesal, tanyamu?” ia mematung, “Tentu saja aku menyesal. Aku sangat menyesal sampai tak ingin lagi hidup.” akunya.

Giliran Kapten yang jujur pada dirinya sendiri. Ia menghambur dan membikin sesak dadamu. Ia pun membasahi punggungmu dengan air matanya. Dan meski hanya terisak tanpa melagukan sepatah kata pun, kau tahui hatinya hancur dalam dekapmu kini. Tak terasa, sebutir air matamu leleh melewati pipi.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s