Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 9.

Jubah Hitam mendongak sehingga Tuan Reserse dapat melihat dengan jelas orang yang ada di hadapannya kini. Tuan Reserse nyaris ambruk dan berjalan ke belakang dengan terseok, ia tak percaya sama sekali bahwa Jubah Hitam adalah dirinya ketika masih muda.

“J-jadi ini maksud perkataanmu waktu itu?” tanya Tuan Reserse terbata, “Saat sebelum Bapak menyerangmu di puncak rumah sakit.”

Jubah Hitam mengangguk, ia berjalan mendekati Tuan Reserse. Tuan Reserse hanya mengerjapkan mata, dan dunia yang dipijakinya malih begitu saja.

Tuan Reserse mengedarkan pandangan, “Tempat macam apa lagi ini?” tanyanya, “Parkiran? Tunggu, sepertinya aku mengenalinya.”
Tuan Reserse mendapati seorang polisi tengah tertunduk sementara polisi lain tengah berbicara kepadanya, “Dia kan polisi yang menolongku.” katanya, “Siapa dia? Wajahnya tak pernah sekalipun asing.”
Jubah Hitam yang tengah bersedekap itu mulai berbicara, “Dia ayahmu,” Tuan Reserse sontak menoleh, “…yang lebih muda. Kau sepatutnya tak perlu heran sebab aku juga ada di sini.”

Sementara itu…

“Tolong lepaskan dia, aku mohon.” kata Ibu, wajahnya memelas, “Aku akan meyakinkan dia. Aku janji, hal semacam ini tidak akan pernah terulang lagi.” katanya lagi.

***

Sebagai seorang sopir, polisi itu mengantarkan kawan-kawannya menuju kantor kepolisian di distrik daerah seusai menangkap para penjahat. Ia sendiri yang juga turut andil dalam penangkapan ini malah mangkir dan diam-diam kembali ke gunung.

“Kenapa polisi itu harus kembali ke gunung?” tanya Tuan Reserse, “Ia kan  harusnya tetap berada di kantor dan pasti naik jabatan.”
Jubah Hitam menggelengkan kepalanya, “Kenapa kau tak bertanya, ‘mengapa semua orang tidak mengingatku?’ dan malah memikirkan jabatan polisi yang sesungguhnya seorang penjahat itu?” tanya Jubah Hitam.
Tuan Reserse menoleh, “Memangnya kenapa?” tanyanya.
Kau benar-benar tidak menyayangi dirimu sendiri. Jubah Hitam pun menoleh, “Ayahmu telah membuat kau hilang dari ingatan semua orang, kecuali polisi itu. Dia terus memikirkan nasibmu dan, di sinilah ia kini berada.” terangnya.

Tuan Reserse sedikit terkesiap ketika ia pejamkan mata lagi dan telah berpindah ke tempat lain. Ia menoleh dan Jubah Hitam ada di sampingnya dan melambaikan tangan kemudian menunjuk ke arah tangga.

Tuan Reserse turut menunjuk tangga itu dan dirinya sendiri yang terhuyung-huyung di sana, “Ah, tangga ini. Ah, tidak.” celetuknya, “Aku akan jatuh.” katanya lagi dan memejamkan mata.

Ketika membuka mata, Tuan Reserse berada di tempat yang berbeda lagi. Gemericik air sungai dan kicau burung membuatnya ingin memandang berkeliling. Tapi yang ia temukan justru seekor harimau di dekat tubuhnya yang terkulai tak berdaya dan berdarah-darah.
Polisi itu tak terkesiap sama sekali ketika ujug-ujug ia telah sampai di dasar jurang. Rasa herannya telah habis untuk menekuri bagaimana ia bisa sampai di basecamp hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Namun polisi itu seperti datang terlambat, harimau itu melayang di udara siap menerkam tubuh Tuan Reserse. Ia sontak mengeluarkan revolver miliknya lantas menembakkan ke arah harimau itu berulang kali. Harimau itu takluk, ia langsung menggelepar di tanah sebelum akhirnya tak sadarkan diri dan terus begitu.
Polisi itu merasakan kedua tungkainya lemah. Ia nyaris ambruk jika tak melihat Tuan Reserse menggerakkan jari-jarinya dalam semaputnya.

“Pak!” teriak polisi itu, “Aku akan menyelamatkanmu.”
Polisi itu mengangkat tubuh Tuan Reserse yang sesungguhnya lebih berat dari tubuhnya sendiri lantas mendongak ke langit, “Dengarlah siapapun kau! Tuhan—yang sangat ingin aku di sini,” katanya, ia kemudian memejamkan matanya, “…bawalah aku melesat sekali lagi.”

Dan ketika polisi itu membuka mata, ia telah sampai di parkiran basecamp. Ia mendudukkan Tuan Reserse di sampingnya dan mobil pun kembali melesat.

***

Ibu yang semula memohon itu kini turut memekik kesakitan karena polisi ini turut mencengkeram tangannya. Polisi ini baru melepaskan cengkeramannya atas Bapak-Ibu sekalian ketika ia dapati Jubah Hitam muncul di ujung koridor.

Polisi ini mengeluarkan revolver miliknya, “Akhirnya kau datang juga,” katanya, “aku sudah lama menunggumu.”

Polisi ini menjelangi Jubah Hitam sementara Bapak segera mendekap Ibu, menanyakan keadaannya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s