Diposkan pada Cerbung, Novel

Menunggu Kedatangan Bus : 12.

Bagian 12.

Sersan dan Kapten berhenti di depan ruangan Jenderal, mereka saling berpandangan kemudian mengangguk. Penjara militer yang dingin, kekecewaan keluarga dan seragam yang tanggal selalu membersamai langkah mereka menuju ruangan ini. Tapi mereka tak lagi butuh apapun, mereka hanya ingin hidup dengan tenang sekalipun dunia mengetahui bahwa mereka adalah seorang pendosa.
Mereka membuka pintu itu, Jenderal yang sibuk memeriksa dokumen-dokumen itu sontak mendongak. Keduanya lantas berhormat. Seusai menarik nafas dalam-dalam, mereka utarakan niat mereka merasuki ruangan ini dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu…

Seekor kucing berjalan melewati meja yang terdapat beberapa figura terutama yang membingkai moment keluarga. Anak dan istrimu tengah sarapan pagi kala itu. Ketika kucing itu hendak melompat ke jendela berniat untuk keluar, ia tak sengaja menyenggol sebuah bingkai hingga bingkai itu ambruk dan bunyinya menyita perhatian istri dan anakmu. Istrimu menyuruh anakmu untuk melanjutkan makannya, sementara ia sendiri bangkit dan menjelangi bingkai itu. Ia, istrimu itu, mendirikan bingkai itu kembali—yang memuat fotomu ketika lulus dari akademi militer sementara ia menemukan amplop putih yang sudah mulai lusuh karena tak tersentuh. Ia mengambilnya, berjalan ke jendela dan mendapati ujug-ujug dadanya terasa sesak. Ia berjalan ke arah jendela dan sesekali menoleh ke meja makan dan tersenyum kepada anakmu—seperti berbicara bahasa hati agar anakmu menunggu sebentar lagi lalu mesem dan ketika telah sampai di jendela, kau buka amplop itu dan sebuah id menggelincir dari sana. Ia mengambilnya, dan memegang id itu kuat-kuat. Ia kemudian mengeluarkan kertas penuh tulisan dan merasa jemu sejak menebak huruf-huruf yang klise, seperti ingin meremas kertas itu lantas dibuang olehnya keluar. Tapi, kemudian ia temukan kata-kata yang asing pada surat itu dan membacanya di bawah guyuran sinar mentari pagi.

Untuk istriku,

Belakangan ini aku jadi seorang pelupa. Aku harap kau bisa menemukan surat ini, entah bakal kuletakkan di mana nantinya. Jika kau membaca surat ini, aku mungkin tak akan pernah pulang. Atau, terlalu lama pulang. Kemungkinan pertama adalah hal yang paling kau benci, bukan? Aku tahu. Kau pasti ingat kata-kataku, kau boleh membaca surat ini jika usianya lebih dari satu bulan. Sebab apa? Aku akan membuat yang baru untukmu. Tapi, Sayang, jika aku benar-benar tak pulang, kau musti memikirkan anak kita dan dirimu. Terus hiduplah, kau bahkan boleh menikah dengan lelaki yang benar-benar kau cintai setelah kepergianku.

Istrimu mesem, ia menyandarkan punggung di tembok dan ketika hendak meneruskan membaca surat darimu, anakmu menjelanginya dan berkata seperti, ‘Ibu, aku telah selesai makan.’ dan, ‘Ayo kita berangkat sekolah!’ ajaknya. Istrimu itu bertanya apakah anakmu bisa menunggunya sebentar lagi, ia musti merampungkan membaca surat darimu dan anakmu yang baik hati itu setuju dan sembari menenteng tas sekolahnya, ia berjalan keluar untuk duduk di beranda.

Berpikir bahwa ia telah bebas dari anakmu, tapi anakmu itu kemudian memanggil ibunya dan istrimu itu menoleh. Dan karena pintu rumah tak ditutup olehnya, kentara dari jarak sejauh itu seorang tentara di depan rumah dan mengangguk ketika melihat istrimu.
Istrimu itu meletakkan surat darimu berikut id milikmu dan ia berjalan menghampiri tentara yang makin dekat jaraknya dengan tentara itu makin ia kenali tentara itu dan begitu tak asing, seperti seseorang yang datang ketika tangan atau kakimu meledak atau dadamu tertembak di perbatasan dan begitu kritis di rumah sakit.

Jantungnya berdebar-debar, “Ada apa ya?” tanya istrimu. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, sedang senyumnya rekah.

Alih-alih menjawab, tentara ini malah terus membungkuk di hadapan istrimu, sehingga istrimu itu naik pitam dan ia menarik seragam tentara ini sehingga tentara ini terdorong ke depan. Anakmu bahkan segera berdiri dan menangis karena mendapati sikap aneh ibunya.

Tentara ini untuk sesaat melihat ke anakmu yang menangis sebelum melihat pada istrimu, “Pagi ini kami menemukan mayat di danau asrama, Bu. Dia ditenggelamkan oleh dua serdadu lain sehingga siapapun tak dapat menemukannya.” katanya, “Kami yakin itu Bapak setelah membaca nama yang terbordir di atas saku kanannya.” dan ia membungkuk kembali.

Istrimu terhuyung-huyung ketika berjalan ke belakang, ia ambruk sebelum tentara yang mengejar ini menangkapnya. Tangis anakmu pun makin menjadi.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s