Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 10.

Polisi itu setengah berlari ketika memasuki ruang gawat darurat di suatu rumah sakit sembari menggendong Tuan Reserse di punggungnya, ia segera menjadi pusat perhatian terlebih bagaimana Tuan Reserse terkulai tak berdaya atas semua luka-lukanya. Seorang perawat segera menjelangi polisi itu, ia baringkan Tuan Reserse di sebuah ranjang kosong dan memanggil dokter. Polisi ini kemudian keluar dari sana, ia duduk di bangku—di dekat ruang Tuan Reserse ditangani dan mengangkupkan tangannya ke wajah dan mengacak-acak rambutnya. Ia baru beralih ketika sebuah panggilan telepon meraung di saku seragamnya.

Dahinya berkerut, Rumah sakit?, batinnya. Ada apa?

Ia kemudian memencet tombol penerima telepon dan mendengarkan penjelasan dokter di ujung telepon dengan mata berkaca-kaca. Ia terduduk lagi dan tak menghiraukan ponsel miliknya yang meluncur jatuh dari genggaman dan menangkupkan lagi tangannya ke wajah dan menjadi begitu terisak-isak.

Aku telah membunuh Tuan Reserse untuk mendapatkan uang dan merawat ibuku dan kini ibuku malah meninggal dunia? Polisi itu mendongak, seperti mencari Tuhan di plafon rumah sakit.

Seorang perawat menghampiri polisi itu dan karenanya polisi itu sembari bangkit secepat kilat menyeka ujung mata dan ujug-ujug mesem, “Bagaimana keadaanya?” tanyanya, “Dia baik-baik saja, bukan?” tanyanya lagi.
“Tentu saja.” kata perawat itu, “Kau telah berbuat tepat dengan membawanya kemari. Kau adalah penyelamatnya.”

Tuan Reserse terbengong-bengong di tempatnya berdiri. Ditepuknya pundak Jubah Hitam, “Jadi, aku masih hidup?” tanyanya, dan Jubah Hitam mengangguk sementara Tuan Reserse mulai tak tahu lagi harus bereaksi apa. Ia sangat menyukai dunia imajinya, tapi, kini ia tahu bahwa dirinya masih hidup di dunia nyata. “Jadi, itulah alasanmu ingin aku kembali ke sini. Orang yang menyayangi kita di dunia ini memang hanya diri kita sendiri.”
Jubah Hitam menoleh, “Tidak.” katanya, “Bahkan jika di sini kau pada akhirnya akan mati, aku akan tetap membawamu kembali.”

Jubah Hitam tetiba terbatuk-batuk dan tiap batuknya menyemburkan darah. Tuan Reserse tentu terkesiap akan hal ini, ia segera menangkap Jubah Hitam yang nyaris ambruk ke lantai. Ia lantas mendudukkan Jubah Hitam di bangku rumah sakit, tempat polisi itu juga duduk dan merebahkan kecamuk rasa hatinya.

“A-ada apa?” tanya Tuan Reserse terbata, “Apa yang terjadi kepadamu?”

Sementara itu…

Bapak-Ibu tak tahu dengan kekuatan apa lagi mereka akan melawan polisi ini. Bahkan, Jubah Hitam yang belakangan mereka tahui lebih kuat dari mereka pun kalah dari polisi ini. Bapak-Ibu akhirnya merangkak menuju pintu ruangan Tuan Reserse dirawat, mereka pertaruhkan nyawa—tak bakal dibiarkan oleh mereka diri Bapak yang lain itu melewati ruangan itu dan merenggut buah hati mereka.

Tunggulah sebentar lagi, dia hampir kembali ke dunia. suara itu bergema di telinga Bapak.

Bapak membelakangi Ibu, “Masuklah!” perintahnya. Ia lantas menoleh karena Ibu tak bergeming, “Cepat!” desaknya.

Ibu menyeka bandang matanya, ingin sekali di ketika itu ia dekap punggung yang luas itu. Tapi ia sadar ia tak boleh lagi di sana, ia harus menjauh dan melindungi buah hatinya.
Ketika Ibu memasuki ruangan, Jubah Hitam melesat menuju polisi itu sementara polisi itu pun melesat menjelangi Bapak yang berdiri dalam gementar.

***

Polisi ini berjalan menuju tangga. Ia memang sengaja menjauhi lift dan keramaian, tak ingin sesiapa pun melihatnya.

“Ikutilah dia,” perintah Jubah Hitam, “…aku punya firasat buruk tentangnya.” katanya lagi.
Tuan Reserse menggeleng pelan, “Tidak.” tolaknya, “Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian dengan luka seperti ini.”
Kemudian Jubah Hitam memegang tangan Tuan Reserse erat-erat, “Bapak, aku bahkan Ibu mungkin segera akan mati,” tetiba matanya berkaca-kaca, “aku tidak ingin di dunia ini juga ada kematian setelahnya, terlebih polisi itu.”

Tuan Reserse yang terkesiap sampai jantungnya berhenti berdetak itu perlahan bangkit, ia seka ujung matanya dan sembari berlari, sesekali ia akan menoleh ke belakang ke arah dirinya sendiri yang sampai saat itu masih memegangi dada dan merintih kesakitan.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s