Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 11.

Ibu menutupi matanya yang silau oleh cahaya putih di samping balkon ruangan. Ia tidak tahu mengapa tetiba dadanya merasakan sakit luar biasa, ia menepuk-nepuk itu dan mengatur nafas. Dan sama seperti arahan dari Jubah Hitam, secepat mungkin ia harus membangunkan Tuan Reserse, bahkan, bagaimanapun caranya ia musti mengantar buah hatinya itu menuju cahaya paling menyilaukan. Dengan begitu, dunia yang diciptakan polisi ini akan musnah.
Di luar ruangan, Bapak tak lagi dapat bergerak seusai luka paling berat yang membaringkan ia di lantai dengan genangan darahnya sendiri. Jubah Hitam menjadi begitu garang karenanya, ia terus menyerang polisi ini meski ia tahu dengan sisa kekuatannya yang tersisa ia tak akan bisa mengalahkan polisi ini.
Ibu masih berusaha, ia goyangkan badan Tuan Reserse, menepuk-nepuknya atau mengurai rambutnya, memanggil-manggil namanya tetapi Tuan Reserse sama sekali tak bergeming. Ia cukup mafhum dan berharap urusannya di dunia—seusai mimpinya segera berakhir sesuai keinginannya. Meski saat ini juga ia telah mulai mengangkat tubuh anaknya yang nyaris dua kali berat badannya sendiri dan berjalan menuju balkon.

***

Polisi itu, setelah merentangkan tangan kemudian memejamkan matanya. Ia tak ingin melihat ke bawah sana dan kematiannya batal.

Tuan Reserse menjelangi polisi itu setengah berlari, “Kau akan masuk neraka.” katanya, “Kau tidak akan pernah bertemu ibumu lagi di alam baka. Ibumu akan masuk surga. Kau seorang pendosa, jadi kau pasti akan masuk neraka.”
Polisi itu menoleh, “B-bagaimana Anda bisa sampai di sini?” tanyanya terbata dalam keterkesiapannya.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, ayo loncat!” perintahnya, “Aku masih menunggumu.”

Di telinga Tuan Reserse, menggema suara Jubah Hitam yang memakinya seperti, ‘Apa yang kau lakukan, sialan?’ dan Tuan Reserse tak gentar sama sekali sementara polisi itu mulai menilik dasar rumah sakit dan pandangan matanya menjadi kabur dan ia mulai kehilangan keseimbangan dan Tuan Reserse mulai gusar karena ulahnya sendiri.

Sementara itu…

Ibu ambruk setelah pintu ruangan terbuka dan sebuah anak panah menembus dadanya dan membuatnya dirasuki gementar. Meski begitu, ia tetap bangkit kembali sembari membopong Tuan Reserse.

“Jika berani melangkah lagi, anak panahku akan menghujan tubuhmu.” kata polisi ini.
Ibu menoleh sesaat untuk melihat kebengisan suaminya sendiri, “Silakan kau bunuh istrimu sendiri.” gumamnya dan begitu geram, “Padahal kau cukup tampan di usia itu.” sesalnya.

Ibu tak takut lagi dengan apapun; luka, darah, bahkan kematiannya sendiri yang membayang di depan matanya. Satu hal yang paling ia takutkan kali ini adalah jika dunia ini abadi, ia pun mulai melangkah dan tiap langkahnya anak panah tertancap di tubuhnya dan ia merasa seperti tak kuat lagi berjalan walau tujuan hanya tinggal beberapa langkah lagi. Setiap Ibu menilik wajah Tuan Reserse, setiap itu pula Ibu mendapatkan kekuatan untuk terus melaju.

***

Tuan Reserse menangkap tangan polisi itu, ia menariknya dan polisi itu jatuh menimpa tubuhnya dan seketika itu tubuh Tuan Reserse hilang.

Saat terbaring di lantai itulah polisi itu terus menoleh, “Apa yang terjadi?” tanyanya, “Aku yakin—aku menimpanya. Tapi…”

Di mana ia?

Polisi ini kemudian menangis karena mengingat kebodohan dirinya yang ingin mengakhiri hidup hanya karena berpikir bahwa semuanya telah berakhir setelah kematian ibunya dan secuil kejahatan yang bahkan telah direncanakan oleh polisi itu. Ia baru berhenti terisak isak setelah ia dapati seorang (yang kepalanya diperban) di atasnya mesem kepadanya.

“Pak?” teriaknya, ia kemudian bangkit, “Maafkan aku!” katanya lagi dan mendekap Tuan Reserse.

Tuan Reserse menepuk punggung polisi itu dan seperti ingin mengatakan kata-kata yang enggan diucapkannya seperti, ‘Sudahlah. Semuanya telah berakhir.’.

***

“Menjadi polisi itu sulit, bukan?” tanya Tuan Reserse, “Kau tak pernah tahu apa yang akan kau jumpai esok hari. Sama seperti hari ini, kau bahkan tak mempertimbangkan kesulitan-kesulitan masa muda dalam perjuangan itu dan memilih untuk mati.”
“Demi aku,” Tuan Reserse menoleh, polisi itu melakukan hal yang sama, “…teruslah kau pakai seragam kebesaranmu ini.” dan ia mesem.
“Maksud Anda apa? Kita bahkan bisa terus memakainya karena kita polisi.” kata polisi itu, dan ia kemudian tersadar, “Jangan-jangan…”
Tuan Reserse mengangguk, “Aku mungkin memilih untuk dihapus dari ingatan semua orang,” katanya, “…aku mungkin harus menanggalkan seragamku.” katanya lagi dan sembari menoleh dengan sigap menyeka ujung mata.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s