Diposkan pada Cerbung, Novel

Arikala : 12.

Tuan Reserse ada di puncak gedung yang terbengkalai. Telah ditangkapnya seorang penjahat yang bersembunyi di atap gedung ini. Ia memanggil polisi-polisi lain dan tanpa sadar Tuan Reserse ditinggalkan oleh para juniornya itu. Ia memang tahu caranya naik, tapi, ia sama sekali tak tahu bagaimana caranya untuk kembali membumi. Karena terbengkalai, lantai bertingkat dan tembok-tembok di gedung ini menjadi begitu rapuh. Satu langkah salahnya saja telah akan mengantarkannya kepada dasar gedung dan bisa dipastikan Tuan Reserse akan menjelangi alam baka jika benar-benar mengalaminya.
Ia menjadi putus asa dan tak ingin melangkah sama sekali. Di ketika itu angin besar tetiba menerpa tubuhnya. Riuh terdengar dari sampingnya. Ketika menoleh, didapatinya sebuah helikopter tengah menjelanginya. Helikopter itu melayang di atas Tuan Reserse dan dari atas sana sebuah tangga tali terjun. Tuan Reserse segera meraihnya dan menaiki tangga, ia menemukan pilot itu dan baru saja akan bertanya ketika pilot itu menoleh, mesem kemudian berhormat. Pilot itu adalah polisi itu, yang kini telah naik jabatan—yang dulu bahkan diutus untuk tutup mulut dan membiarkan kematian Tuan Reserse. Kini ia telah menyelamatkan Tuan Reserse.

***

Di depan sebuah makam asing, Tuan Reserse membungkuk dan mesem lalu memperkenalkan diri;

“Halo Ibu, ini saya, rekan anak Anda.” katanya dan masih mesem, “Anak Anda itu telah menjadi orang yang hebat karena telah naik jabatan. Tapi, apakah Anda tahu apa yang membuatnya benar-benar hebat? Itu adalah ketika pada akhirnya ia memilih untuk menyelamatkan saya.”

Tuan Reserse meletakkan sebuket bunga di atas makam dan kembali membungkuk sebelum akhirnya pergi meninggalkan makam itu.

Polisi itu dengan seragam yang sama sekali berbeda mengunjungi makam dengan setengah berlarian. Karena baru saja naik jabatan, ia seperti raja semalam dan para wartawan memburunya agar senyum sumringahnya terpampang di headline majalah atau koran mereka esok hari.

Ia menunduk tetapi memejamkan mata, nafasnya terengah-engah tapi tetap ingin melapor kepada ibunya.

“Ibu, apa kau tahu apa yang menimpaku kali ini?” tanyanya, “Karena naik jabatan, aku dikejar-kejar oleh para wartawan.
Sungguh…” polisi itu membuka matanya dan menemukan sebuket bunga di atas makam ibunya yang membuatnya sedikit terkesiap bahkan terlupa apa yang hendak dikatakannya.

Tunggu dulu, bunga? Siapa yang meletakkannya di sini? tanyanya dalam hati.

Ia kemudian memandang berkeliling tetapi tak menemukan siapapun jua kecuali seorang lelaki paruh baya yang berjalan menghampirinya.

“Selamat atas,” Tuan Reserse menunjuk seragam yang dikenakan polisi itu dan tersenyum kemudian melanjutkan, “…bagaimana perasaanmu saat ini?” tanyanya.
“Pak… Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya polisi itu, “Saya sangat merindukan Anda.” akunya, ia kemudian menghambur.
Dahi Tuan Reserse berkerut, “Sungguh?” tanyanya, “Tapi bagaimana perasaanku saat ini? Kau pasti sangat bahagia, bukan?” tanyanya lagi.

Tetiba air muka polisi itu berubah. Senyum di wajahnya lesap dan Tuan Reserse tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

“Apa?” Tuan Reserse setengah memekik, “Jadi, kau tidak merasa bahagia sama sekali. Tapi, kenapa?” tanyanya.
“Tentu saja karena ibuku tak ada di sisiku saat ini. Jika ia masih ada,” polisi itu menyeka ujung mata dengan sigap, “…aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini.”

Polisi itu tak tahu apa yang membuat Tuan Reserse malah terlihat bungah, ia menjadi begitu penasaran ketika Tuan Reserse yang hendak mengeluarkan bolpoin dan sebuah buku catatan itu malah secara tidak sengaja mengeluarkan alat-alat lain seperti alat perekam dan kamera.

“Apa ini?” tanya polisi itu “Kenapa Anda membawa begitu banyak barang, dan apa yang tengah Anda catat itu, Pak?” tanyanya lagi seraya berusaha menilik apa yang tengah dituliskan atasannya itu.
Tapi Tuan Reserse mengelak, “Ah, ini,” ia tergagap, “…tidak ada apa-apa. Setelah pensiun, aku hanya memiliki begitu banyak kegemaran. Salah satunya adalah menulis ini.” katanya dan menunjukan sampul bukunya.

***

Pagi-pagi sekali, sebuah majalah telah terhidang di meja kerja polisi itu. Ia keheranan karena merasa tak pernah berlangganan majalah itu. Tapi, yang membuatnya lebih heran lagi adalah gambar dirinya yang terpampang di sampul depan majalah tersebut.

Bagaimana bisa? Bahkan tidak ada seorang wartawan pun yang berhasil menemuiku kecuali, Polisi itu menepuk jidatnya, Jangan bilang…

Sejurus kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Ia memang hanya melihat siapa pengirim pesan itu, Tuan Reserse, tapi, ia sudah tahu dalang dari semua ini.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s